"PAPA!" Dengan sekali gerakan Bila langsung melompat ke tubuh tegap papanya.
"Papa! Bila kangenn bangett sama papa!" ucap Bila dengan mata yang berbinar.
Narendra sedikit terkekeh melihat tingkah putrinya. "Papa juga kangenn bangett sama Bila," ucap Narendra menirukan gaya bicara anaknya. Bila pun tertawa dibuatnya.
"Papa kapan pulang? Kok gak bilang-bilang?"
"Kan biar surprise!"
"Aaaa papa kangen!" Ia memeluk leher papanya. Di hadapan Narendra, Bila berubah menjadi bayi perempuan yang manja.
"Papa bawa oleh-oleh sepesial loh buat Bila,"
Bila menggeleng dalam dekapan papanya. "Bila gak mau oleh-oleh, Bila cuma mau papa, jangan pergi lagi ya pa," ucap Bila memohon.
Narendra tak menjawab, ia hanya tersenyum sambil mengelus punggung putrinya, melangkah ke bawah dengan Bila yang ia gendong ala koala.
Bila tersenyum miris, bisa dipastikan papa nya akan pergi lagi dalam waktu dekat.
Narendra mendudukan putrinya di atas sofa ruang tengah. Ruangan yang masih terlihat sama saat terakhir kali ia pergi. Dan ruangan yang masih sama saat 'dia' pergi.
Dadanya terasa sesak melihat ruangan ini, melihat rumah ini, dan kamar itu. Apalagi dengan adanya Bila disini, semakin mengingatkan dirinya pada seseorang yang selalu ada di hatinya. Ini alasannya tak betah didalam rumah. Kerena rumah ini yang selalu mengingatkannya pada dia.
"Papa kenapa?" suara lembut Bila memecah lamunannya.
Narendra buru-buru tersadar, ia tersenyum tipis lalu mengacak puncak kepala anaknya pelan. "Gak papa nak," jawabnya.
"Oh iya, kok rumah sepi? Mama sama Zeela mana?" tanya Narendra.
"Baru jalan-jalan sama opa oma," jawab Bila apa adanya.
"Kok Bila gak ikut?"
Bila menggeleng. "Gak pa, males, mending di rumah" jawabnya.
Narendra mengangguk kecil. "Bik! Bik Siti!" panggil Narendra pada asisten rumah tangganya itu.
"Iya pak?" tanya Bik Siti yang baru saja keluar dari dapur.
"Tolong ambilkan coklat di koper saya ya," titah Narendra.
"Baik pak." Bik Siti pun segera beranjak. Mengambil apa yang tuannya maksud.
"Gimana hari harinya selama papa gak ada? Hari ini kamu mulai masuk SMA kan?"
"Iya pa, seru banget!"
Bila pun menceritakan semua apa yang ia alami hari ini. Tentang Talita dan Talita serta tentang kedua most wanted sekolahnya, siapa lagi kalau bukan Alva dan Stefan. Semuanya tanpa terlewat. Hanya dengan papanya Bila bisa seterbuka ini.
"Seru banget pa! Lita sama Lisa seru orangnya, tapi bila belum bisa bedain mereka. Andaikan Bila punya kembaran pasti juga seru ya pa?" Narendra membeku seketika. Raut wajahnya berubah sendu.
Di pertengahan ia cerita, bik Siti datang membawakan coklat mahal untuk Bila. Ya coklat kesukaan Bila yang sengaja Narendra belikan dari luar negri.
"Makasih papa!"
"Sama sama sayang,"
"Jadi gimana? Kamu bayar sendiri makanan dari Alva?"
"Ternyata udah dia bayar dong paa," ucap Bila memelas.
"Tapi kamu gapapa kan nak?"
"Gapapa pa, tadi tuh cuacanya panas banget, ditambah hukuman dari kak Alva karena Bila telat."
KAMU SEDANG MEMBACA
BILA [END]
JugendliteraturSEQUEL OF ANINDYA!! ~~ Singkatnya tentang Bila yang ingin dipeluk mama:) ~~ Nabila Sheira Andrianka atau kerap disapa Bila, merupakan anak sulung dari keluarga Andrianka. Bila mempunyai mimpi sederhana, yaitu dipeluk mama. Sedari kecil Bila tak pern...
![BILA [END]](https://img.wattpad.com/cover/283023840-64-k19803.jpg)