Bila memasuki ruangan rawat inap adiknya. Ia tak sendiri, ada Alva di belakangnya. Terlihat cowok itu membawa sesuatu yang ia simpan di dalam kantung keresek.
Mereka pun menyalami tangan mama yang menunggu Zeela sendiri di situ.
"Papa mana ma?" tanya Bila setelah menyalami tangan mamanya.
"Papa pulang, ada yang harus papa urus buat kepulangan Zeela besok." Bila pun hanya ber-oh ria.
"Sore tan," sapa Alva pada camamer nya.
"Sore Al," balas Rayana.
Alva beralih ke Zeela yang terduduk di atas ranjang pesakitan.
"Hai Zee, lihat kakak bawain buah!" ucap Alva pada bocah 12 tahun tersebut.
"Ih kak Alva, Zeela tu bosen nyemil buah mulu. Bawa es krim gitu kek."
"Ya makanya cepet sehat dong."
"Aku udah sehat tau. Zeela kan kuat! Zeela kan aslinya ultramen!"
Tawa mereka mengudara. Bisa-bisanya anak itu masih bisa melawak.
Rayana memilih ke luar, membiarkan mereka bertiga bercanda di dalam tanpa terganggu olehnya.
Waktu terus berlalu. Mentari sudah hampir berganti sif dengan sang raja malam.
Langkah kaki di lorong rumah sakit terdengar. Rayana menoleh. Papa dan mamanya. Ya, opa dan oma Bila. Rayana was-was, jangan sampai kedua orang tuanya berbicara yang tidak-tidak dengan Bila.
"Loh kok kamu disini? Di dalem Zeela di temani siapa?" tanya Oma.
"Zeela sama Bila ma, ada Alva juga pacarnya Bila."
"Kok kamu ngebiarin Zeela sama anak suami kamu berdua?"
"Ma, plis berhenti beda-beda in Zeela sama Bila. Mama nerima aku nikah sama mas Naren yang udah punya anak, seharusnya mama juga nerima Bila sebagai cucu! Bila dan Zeela itu sama-sama anak aku ma!"
"Cucu mama cuma Zeela."
Ceklek..
Pintu terbuka memperlihatkan Alva yang sudah berdiri tegak.
"Eh tan, Alva izin pulang dulu ya, udah hampir malem soalnya."
"Oh ya, makasih udah jenguk Zeela, makasih juga udah anterin Bila ya Al."
"Iya tan. Alva pamit dulu." Alva kemudian menyalimi ketiga orang yang ada di sana.
"Hati-hati."
Alva mengangguk, ia pun perlahan melangkah pergi. Tak lama Bila keluar, ia berniat memanggil mamanya untuk masuk.
"Oh ini yang buat cucu saya masuk rumah sakit?" tanya Oma dengan sinisnya menatap Bila.
"Mama!" hardik Rayana.
"Kamu diam Na!"
Rayana menarik tubuh Bila agar dapat berlindung di balik tubuhnya.
"Mama bisa gak sih gak usah nyalain orang lain untuk kejadian ini? Yang patut di salahkan disini itu aku ma!"
"Kamu diam! Kamu jangan sekali-kalinya membela anak suamimu itu!"
"Bila tau, Bila bukan cucu kandung oma," cicit Bila dari belakang tubuh Rayana.
"Bila minta maaf kalo punya salah sama Oma. Tapi yang harus Oma ketahui, Bila gak pernah diperlakukan seperti ini sama Uti Kakung yang notabenenya orang tua papa. Bila disayang sama mereka, terus kalian siapa yang berani-beraninya ngomongin Bila layaknya sesuatu yang najis."
"Bila punya telinga buat dengerin semua yang Oma katakan, Bila juga punya mata buat melihat semua sikap Oma. Bila selama ini gak nuntut Oma sayang ke Bila, tapi seenggaknya jangan sakitin hati Bila, Bila juga punya hati."
"Bila udah capek sama keadaan. Bila pasrah semesta mau berbuat apapun ke Bila."
Setelah menyatakan segala unek-uneknya Bila pun pergi dari sana. Kakinya berlari kecil menyuruh lorong.
"Bila!" teriak Rayana memanggil putrinya.
"Mama lihat! Mama lihat anak perempuan itu?! Aku mohon ma. Mama juga seorang ibu, mama juga seorang perempuan. Lihat Bila ma, apa yang salah sama anak itu? Enggak kan? Hanya karena Bila tidak terlahir dari rahim aku, bukan berarti Bila bukan anak aku. Dia gak salah ma."
~~~
Bila sampai depan rumah sakit. Ia menghapus air matanya terlebih dahulu sebelum menelepon Alva.
"Kak Alva."
"Iya sayang, kenapa?"
"Udah sampai rumah?"
"Belum, ini masih di jalan. Kenapa sayang, butuh sesuatu?"
"Bisa balik ke rumah sakit gak? Aku mau pulang bareng kamu," ucap Bila dengan nada bergetar.
"Iya sayang, aku otw ke sana."
"Makasih, jangan ngebut!"
"Iya."
"Sayangnya mana?"
"Iya sayang, ada lagi?"
"Udah."
Bila terduduk di bangku yang ada. Setidaknya ia bisa tersenyum dengan mendengarkan suara Alva. Melupakan sejenak masalah yang sebenarnya tak ingin ia ingat.
Alva kembali di rumah sakit. Alangkah kagetnya ia melihat Bila yang sudah duduk di halaman rumah sakit. Ia kira Bila masih di ruang rawat inap Zeela.
"Bila," panggil Alva pelan. Ia pun ikut duduk di samping Bila.
"Kenapa? Ada yang ganggu pikiran kamu?"
Bila langsung buru-buru memeluk tubuh tegap itu. Orang yang seakan jadi rumah untuk tempatnya pulang.
"Kenapa lagi sayang? Kok pacar aku cedih-cedih begini?"
Bila menggeleng, ia pun tidak menangis. "Pengen peluk aja," ucap Bila dengan suara serak.
Alva hanya bisa membalas pelukan Bila hangat. Mengelus punggung mungil itu pelan.
"Kak Alva jangan pergi ya."
"Ke mana?"
"Tinggalin Bila. Aku butuh kamu, butuh sosok rumah untuk aku pulang."
"Gak akan. Aku selalu di sini, di samping kamu."
"Maaf kalo aku cuma Bisa jadi beban."
Alva menangkup kedua pipi Bila. Menatap mata coklat itu dengan sangat lembut.
"Lihat aku, lihat mata aku sayang."
"Dengerin ya. Kamu itu bukan beban, oke? Aku sayang sama kamu. Aku pilih kamu sebagai pasangan aku, sebagai teman hidup aku. Aku gak mau lihat kamu nangis gini. Aku mau, aku jadi alasan buat kamu tertawa. Berbagi suka duka bersama. Aku rumah untuk kamu, kamu rumah untuk aku. Kita saling melengkapi, gak ada kata beban di hubungan kita. Ngerti sayang?"
Satu butir bening menetes membasahi pipi Bila. Ia sangat bersyukur memiliki pasangan seperti Alva.
"Jangan nangis sayang." Alva menghapus jejak air mata Bila menggunakan jarinya.
"Makasih kak." Bila kembali menenggelamkan wajahnya di dada Alva.
"Kamu juga janji gak akan ninggalin aku?" Alva merasakan Bila mengangguk dalam dekapannya.
Alva mengecup sayang kepala Bila. Kecupan pertama yang ia torehkan pada gadisnya.
Pelukan mereka mengerat, seolah saling berbagi suka dan duka masing-masing. Mereka berharap kali ini semesta berpihak pada mereka. Semoga saja.
.
.
.
Sebenernya aku gak mau munculin dua tokoh gak penting itu lagi, tapi kalo gak di munculin nanti jadi plot hole😩
Dah segitu dulu papaayyy 💃
KAMU SEDANG MEMBACA
BILA [END]
Fiksi RemajaSEQUEL OF ANINDYA!! ~~ Singkatnya tentang Bila yang ingin dipeluk mama:) ~~ Nabila Sheira Andrianka atau kerap disapa Bila, merupakan anak sulung dari keluarga Andrianka. Bila mempunyai mimpi sederhana, yaitu dipeluk mama. Sedari kecil Bila tak pern...
![BILA [END]](https://img.wattpad.com/cover/283023840-64-k19803.jpg)