|CHAPTER 30| MEMENUHI JANJI

3.9K 222 28
                                        

Narendra, Rayana dan Alva duduk tak tenang di depan pintu operasi. Lantunan doa tak henti keluar dari bibir mereka. Lampu merah di atas pintu operasi seolah jadi sesuatu paling menakutkan. Di balik pintu dingin itu, ada Bila yang sedang berjuang antara hidup dan mati.

Terdengar langkah kaki memecah keheningan, membuat mereka bertiga menoleh. Ada Elvira disana.

"Al, ganti baju dulu sana," ucap Elvira sambil menyerahkan paper bag yang ia bawa.

"Tapi kak..."

"Bila pasti baik-baik aja, lo gak usah khawatir."

Alva mengangguk. Ia menerima paper bag berisikan baju bersih untuknya. Ia menatap sendu pakaian yang menempel di tubuhnya, bercak darah milik Bila menempel dimana-mana.

Elvira mengusap bahu Narendra pelan, seolah memberi semangat pada rekan lamanya itu.

"Bila gak akan pergi ninggalin gue kayak Anindya kan Ra?" tanya Narendra dengan nada bergetar.

"Enggak Bila anak yang kuat, Bila pasti selamat. Kita berdoa aja ya Ren."

Narendra mengangguk, ia lantas menunduk dalam, tangannya menggenggam erat tangan sang istri.

"Nindya aku mohon jangan Bila," batin Narendra.

Jam terus bergulir. Lampu operasi yang tadinya merah kini sudah mati. Pertanda operasi di dalam selesai.

Dokter paruh baya pun keluar.

"Bagaimana dok?"

"Alhamdulillah operasinya lancar. Kita tinggal menunggu saja bagaimana keadaan pasien."

Mereka berempat di sana kini dapat bernafas lega.

Bila pun kini di pindahkan di ruang ICU.  Narendra menatap tubuh putrinya sendu. Tadi pagi putrinya itu masih bisa tersenyum. Sekarang, untuk hidup pun Bila perlu di bantu banyak alat.

"Bila kangen bunda, nanti kita ke sana ya?"

Ingatannya kembali berputar pada keinginan sederhana putrinya. Ia lalu menggeleng cepat, air matanya kembali mengalir. Bukan! Ini bukan firasat!!

"Nindya aku mohon jangan bawa Bila sekarang, sayang."

~~~

Mereka berempat duduk di depan ruang ICU. Menatap pintu yang terlihat lebih menyeramkan dari apapun. Doa-doa terus teruntai meminta keselamatan Bila pada sang kuasa.

Di lorong yang sepi, langkah kaki kembali terdengar.

Rayana kaget melihat orang tuanya di sini, lantas Zeela?

"Loh ma, pa. Zeela mana?"

Wanita paruh baya itu tak dapat membendung air matanya. "Maafin mama Na. Zeela pingsan, jantungnya kembali melemah."

Rayana mengusap wajahnya kasar. Kedua putrinya ini tergeletak lemah di ranjang pesakitan, sedangkan dia tak bisa berbuat apa-apa.

Rayana pun bergegas menemui Zeela. Memastikan bahwa putri bungsunya baik-baik saja. Ia juga akan meminta agar Zeela di pindah ke ruangan yang bersebelahan dengan Bila.

~~~

Rayana duduk di kursi tunggu. Zeela, putri bungsunya itu sudah di pindahkan di samping ruangan Bila.

"Masih pusing Na?" tanya Narendra. Pria itu membantu memijat pelan pelipis sang istri.

Rayana hanya mengangguk pelan, ia menjatuhkan kepalanya ke pundak Narendra. Entah mengapa kepalanya terasa sangat berat sekarang.

"Kamu pulang dulu ya, istirahat di rumah," suruh Narendra.

Rayana menggeleng kecil. "Kedua putri aku berjuang antara hidup dan mati, sedangkan kamu suruh aku istirahat mas?"

"Bukan gitu, aku takut kamu juga sakit," jelas Narendra.

Rayana hanya diam, ia memejamkan matanya untuk mengurangi pusing yang ia rasakan.

"Atau mau cek ke dokter aja? Aku temani," tawar Narendra.

Wanita itu lagi-lagi menggeleng.

"Na, plis jangan buat aku khawatir. Nurut ya, aku temani cek ke dokter."

Rayana mengalah. "Aku sendiri aja mas, kamu jaga anak-anak."

"Kamu yakin?"

Rayana mengangguk, ia kemudian melangkah meninggalkan suaminya dan beberapa orang lain di kursi tunggu.

Wanita mengantri untuk masuk ke ruang dokter. Semoga saja, dirinya baik-baik saja. Kedua putrinya masih butuh sosok mama. Ia harus baik-baik saja! Ya! Bagaimana pun kondisinya, ia harus bertahan demi kedua anaknya.

Rayana masuk ke dalam. Beberapa pemeriksaan pun di lakukan.

Wanita 34 tahun itu mendengarkan dengan seksama semua yang di jelaskan dokter perempuan tersebut. Hingga, tanpa di minta air matanya menetes membasahi pipi.

Rayana ke luar dari ruangan dokter tersebut, kembali duduk mengantri untuk mengambil obat. Ia menatap sendu beberapa lembar kertas hasil pemeriksaannya. Haruskah ia memberi tahu Narendra atau tidak?

Tidak! Sepertinya menyembunyikan hasil pemeriksaan dari Narendra untuk beberapa saat lebih baik. Setidaknya sampai keadaan kedua putrinya stabil.

Nama Rayana di panggil untuk mengambil obat. Buru-buru ia menyeka air matanya, menyimpan kertas itu rapi dalam tasnya.

Setelah mengambil obat, Rayana kembali. Narendra yang melihat sosok istrinya sudah kembali sontak bertanya, "gimana? Apa yang dokter bilang?"

Rayana menggeleng. "Gak papa kok, cuma kecapekan aja."

"Na, jangan bohong!"

"Gak papa mas, beneran."

"Gak ada yang kamu sembunyikan?" tanya Narendra.

Rayana menggeleng pelan. "Gak ada."

"Syukulah, aku khawatir kamu kenapa-napa."

"Sini." Narendra menuntun istrinya supaya kembali duduk di kursi tunggu di depan ruangan putrinya.

Kondisi keduanya yang belum stabil membuat mereka tak bisa menjenguk ke dalam.

"Maaf mas aku bohong. Aku gak mau kamu tambah kalut dan menambah beban pikiran kamu. Tunggu sampai kondisi anak-anak stabil, aku pasti memberitahumu mas," batin Rayana.

Waktu seolah berjalan melambat. Hari yang telah disusun sedemikian rupa, kini kacau sudah. Bayang-bayang kematian seolah menakuti ke enam orang yang ada di sana.

Ke dua orang paruh baya yang terlihat paling menyesal di sini. Andaikan waktu bisa di ulang, pasti mereka akan segera meminta maaf pada cucu pertama mereka.

Alva, cowok itu hanya diam sedari tadi. Kilasan tubuh Bila yang bermandikan darah terus menganggu otaknya. Rasa takut kehilangan sedang ia rasakan. Banyak target-target bersama Bila yang harus mereka lakukan.

"Kamu udah janji gak akan ninggalin aku Bil. Aku harap kamu memenuhi janji itu," batin Alva.







.
.
.

Apa yang di sembunyikan Rayana?

Rayana sakit parah, terus koid. Gitu kan yang kalian mau🥰😍
Kalian sungguh psikopat ☺️🙏

BILA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang