Part 21 My Possesive Bucin

764 53 10
                                        

Chandra di perbolehkan pulang sore itu, bukan di jemput dengan mobil atau di antar ambulance tapi dengan helicopter yang sudah siap menunggu di landasan helipad milik rumah sakit itu. Orang tuanya memutuskan memakai helicopter memulangkan Chandra untuk meminimalisir hal-hal yang tidak di inginkan terutama dari media. Orang kaya mah bebas!!! Dan tentu saja Cinta harus ikut menemani Chandra di helicopter. Cinta deg-degan, ini pertama kali baginya untuk naik helicopter. Beruntunglah perjalanan sangat singkat, tak lebih dari 20 menit mereka sudah sampai di helipad di atas atap rumah keluarga Indra Jaya. Semua keluarga Chandra sudah menunggu lengkap dengan keponakan-keponakannya, ada Samuel, Mitha juga Faiz serta Nora istrinya.

Tak lama kemudian orang tua Cinta dan adiknya datang bertandang menjenguk Chandra. Ternyata Raditya, ayah Tita sudah mengetahui kondisi Chandra sejak dia masih berada di Harvard. Indra sering curhat tentang keadaan anaknya itu dan sebagai sahabat yang baik Raditya mendengarkan dan kadang memberi masukan dari sudut pandangnya sebagai seorang ayah. Mereka pun bercengkerama sambil menunggu waktu makan malam. Raditya dan Indra asik bermain catur  di temani Mira dan Tita di samping mereka, sementara Chandra dan Samuel bermain PS melawan Genta dan Andri sementara Sandra, Deandra dan Andre menjadi team hore-hore bagi kedua tim dadakan tersebut. Sesekali terdengar ejekan dan sorakan meramaikan suasana ruang tamu bahkan Faiz juga ikut asik menonton dan menjadi komentator tak kalah heboh dengan si kakak kembar Andra dan Endra.

Di dapur Cinta membantu Santi dan Dea menyiapkan makan malam di bantu asisten rumah tangga mbak Sum dan mbak Ana. Nora yang bersikeras membantu di perintah untuk duduk di meja makan di temani Mitha yang sedang asik membuat dessert box dari resep yang di lihat di internet.

''Mbak Nora makasih yah udah nyiapin baju sama perlengkapan mandi buat aku'' ucap Cinta sambil sibuk memotong bawang.

''Iya sama-sama, aku kepikiran kamu pasti nginep nungguin Chandra. Makanya aku inisiatif telpon manager mall nyiapin semuanya terus di bawa Bang Faiz'' sahut Nora sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.

Makan malam pun tersaji, semua memuji makanan yang di rasa enak itu. Masakan para mantu dan calon ipar kata mereka. Cinta tersenyum melihat keakraban keluarganya dan Chandra, Mitha dan Nora juga tidak canggung bersenda gurau dengan adik dan orang tuanya. Mereka sungguh berbesar hati mau menerima keluarganya yang bersahaja.

"Mikirin apa Cintaku?" bisik Chandra sambil melingkarkan tangannya di bahu Cinta, memeluknya dari belakang.

"Ga mikirin apa-apa, obatnya sudah di minum?" tanya Cinta yang di balas dengan anggukan kepala Chandra.

"Mas lepas ... malu di lihat ama keluarga kita" Cinta meronta melepaskan diri dari pelukan Chandra.

"Kalau ga ada mereka boleh dong" goda Chandra.

"Bukan gitu juga kali Mas" ucap Cinta kesal.

Chandra tersenyum senang, mimik Cinta yang sedang kesal membuatnya gemas.

"Kamu selalu bilang Kalau kita berbeda, tuh lihat keluarga kita akrab seperti itu. Tidak ada yang beda, kita semua sama" ujar Chandra memandang keluarganya dan keluarga Cinta yang asik bersenda gurau.

"Cinta ayo pamitan, kita pulang. Ini sudah malam, waktunya nak Chandra istirahat. Besok kerja kan?" ajak Tita ke putrinya.

Sebenarnya Chandra tidak rela tapi mau gimana lagi. Dia masih belum berhak, saat ini Cinta masih milik orang tuanya. Setidaknya besok bisa bertemu di kantor, itulah kenapa Chandra bersikeras untuk masuk kerja walaupun di tentang orang tuanya. Mereka pun pulang bersama di ikuti oleh Samuel dan Mitha, sementara Faiz dan Nora di minta menginap disana oleh Mira. Sesampainya di rumah Cinta mandi membersihkan dirinya dan setelah ritual skincare malam langsung merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Baru jam 22:00, tapi rasanya sudah ngantuk mungkin karena kurang tidur di rumah sakit.

Cinta BeratCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang