Setelah permintaan maaf dari Chandra dan saling bersalaman, Aldo dan Anita pun pergi meninggalkan Cafe In Laws. Cinta sedikit lega karena dosen pembimbingnya itu tidak marah sedikit pun, malah ikut menggodanya ketika Dhea kakak ipar Chandra nyeletuk bakal ada hajatan di keluarga Indra Jaya setelah Cinta wisuda. Chandra bersikeras untuk mengantar Cinta pulang padahal dia ke cafe 1 mobil dengan orang tua dan kakak-kakaknya. Cinta enggan di antar Chandra bersama dengan keluarga besarnya, dia tidak ingin merepotkan. Apa kata orang nanti jika tahu keluarga konglomerat itu mengantar Cinta yang nota bene bukan siapa-siapa mereka pulang Ke rumah.
Lagi pula tadi ketika Anita ijin ke toilet, Cinta sudah menelpon Genta menyuruhnya menjemput ke Cafe In Laws. Chandra pun menyerah dengan syarat dia akan menemani Cinta sampai Genta datang. Setelah Cinta pamitan dengan ke dua orang tua Chandra dan kakak kembar beserta istri, Chandra lalu mengajak Cinta ke taman kecil yang terdapat di samping Cafe dan duduk di sebuah bangku kayu panjang. Suasana cukup sepi disana hanya ada mereka berdua, sesekali angin bertiup menambah dingin suasana malam. Cinta masih kesal dengan Chandra, dia cuma diam menunggu Chandra untuk ngomong duluan. Tiba-tiba Chandra melepas jas nya dan menyelimuti bahu Cinta.
"Pakai ini, baju kamu tipis nanti kamu kedinginan dan masuk angin"
"Terima kasih Pak"
Cinta memang merasa kedinginan, karena itu dia santai saja tak menolak di selimuti jas oleh Chandra, mungkin karena angin yang kadang berhembus kencang atau karena masih teringat dengan peristiwa tadi dimana Chandra dan Aldo hampir baku hantam. Seumur hidup baru sekali itu Cinta menyaksikan langsung sebuah perkelahian.
"Cinta... aku minta maaf" ucap Chandra lirih.
Cinta agak tersentak mendengar ucapan Chandra, sejak kapan boss nya itu memakai kata aku menyebut dirinya?.
"Maaf karena sudah membentakmu dan membuat malu di depan dosen pembimbingmu dan di hadapan orang banyak malam ini".
"Kenapa Bapak bersikap seperti itu? Dosen saya dan tunangannya menjadi salah paham. Mereka mengira Bapak cemburu buta bahkan keluarga Bapak juga menganggap seperti itu padahal kita cuma atasan dan bawahan, bukan sepasang kekasih"
Chandra terdiam mendengar ucapan Cinta. Dia bingung bagaimana untuk menjawabnya, apa memang dia cemburu? Apa dia sudah jatuh cinta makanya bertindak gegabah seperti tadi? Tapi tidak bisa di pungkiri hatinya panas melihat Cinta duduk berdua saja dengan Aldo. Entah apa yang terjadi dengan dirinya? Tidak ada gadis lain yang membuatnya seperti ini kecuali dia dan sekarang Cinta. Chandra menghela napas panjang kemudian mengubah duduknya agar berhadapan dengan Cinta.
"Iya mungkin aku cemburu ... aku harap lain kali kamu tidak bertemu dengan lelaki manapun sendirian"
Mendengar omongan Chandra membuat Cinta semakin kesal, dia lalu membalikkan badannya menghadap Chandra.
"Apa maksud Bapak seperti itu? Maaf Pak tapi anda tidak berhak mengatur saya. Mau saya ketemu laki-laki, wanita bahkan transgender sekalipun. Ini juga di luar jam kerja jadi Bapak tidak punya wewenang melarang saya, kalau di kan..."
Cup!!!
Chandra mencium kening Cinta dengan gemas lalu mengacak rambutnya. Cinta terperangah dan seketika terdiam.
"Ternyata gampang buat kamu diam ya, cuma dengan kecupan" ucap Chandra tersenyum nakal.
"Kok Bapak jadi kurang ajar sih, main sosor saja" ucap Cinta sengit dan bersiap mulai dengan rentetan omelannya.
"Mau aku cium bibirmu? Kalau mau ayo lanjut ngomelnya" ancam Chandra.
Mulut Cinta seketika mengatup rapat, tapi masih bimoli alias bibir monyong lima senti. Chandra tertawa geli melihat reaksi gadis chubby itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cinta Berat
Historia CortaCinta tak percaya ada seseorang yang mencintai dengan tulus. Jaman sekarang orang bilang cinta berdasarkan fisik atau harta dan Cinta tidak memiliki keduanya. Dia hanya seorang gadis dari keluarga sederhana dengan rupa seadanya. Satu kelebihannya ha...
