Tutttttt
Nomor yang ada tuju tidak dapat di hubungi
Felia panik kala melihat berita gadis tewas yang menggambarkan ciri ciri alara, ia menelpon alara sudah berkali kali namun tidak ada tanda tanda bahwa gadis itu akan mengangkat telepon dari nya.
Ia keluar masuk ke dalam bagasi seraya mengambil asal kunci mobil di brankas nya, ia melajukan mobil nya ke tujuan walau sebenarnya harus menempuh waktu lama, itu tidak membuat niat felia goyah, dirinya tetap melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, yang di pikiran nya bagaimana kondisi alara, itu pasti bukan alara, itu hanya mirip dengan alara, alara pasti cuma salah menyebutkan ciri ciri nya.
Sudah beberapa kali dirinya mengklakson mobil lain di depan nya, bahkan hampir tiga kali diri nya menabrak kendaraan kendaraan yang berjalan lelet, membuat aksi kebut kebutan nya terhenti. Ia mengotak atik handphone nya kembali menelpon alara namun hasil nya? Nihil, gadis yang ia telepon tidak memberi respon apapun. Karena pokus dengan hp nya.
Tittttt......
Lagi dan lagi dirinya hampir menabrak, tapi kali ini ia hampir menabrak seorang pemuda yang tengah bersepeda malam ia menuruni mobil nya dengan perasaan panik, takut takut jika dirinya menabrak pemuda tersebut.
Ia mendekati pemuda itu yang tengah membelakangi ia, dengan tangan yang tengah memperbaiki rantai sepeda yang copot dari asal nya.
"Kakak gapapa? Ada yang luka? Mau saya bawa ke rumah sakit? Maaf ya tadi saya ga liat ada orang nyebrang"
"Felia?"
"Loh? Alvin? Ngapain lo di sini? Eh lo gapapa kan?"
Ia kaget kala melihat pemuda yang hampir ia tabrak itu ialah alvin, dirinya membantu alvin berdiri selepas mengucapkan maaf berkali kali, dirinya kembali berpamitan, alvin yang melihat wajah panik serta pergerakan terburu buru dari felia membuat nya bertanya apa yang sedang terjadi dengan nya.
"Lo ngapa dah buru buru amat"
"A-alara"
Mendengar nama alara di sebut dengan lirih, perasaan alvin tidak enak, ia segera menanyakan ada apa dengan alara.
Dengan air mata yang terus mengalir, felia menceritakan serta menunjukkan berita mengenai gadis yang mirip dengan alara.
Alvin terdiam, air matanya ikut turun tanpa permisi dirinya menarik felia ke dalam pelukan nya felia tidak berontak ia menenggelamkan wajahnya di dada bidang alvin.
Angin malam pepohonan serta jalanan yang lumayan sepi menyaksikan kasih sayang felia dan alvin pada alara.
Lima menit lamanya mereka berpelukan menyalurkan kesedihan masing masing keduanya melepaskan pelukannya dengan canggung alvin menarik tangan alara masuk kedalam mobil.
Tanpa berkata sepatah kata pun alvin dengan segera melajukan mobil felia dengan kecepatan sedang.
Sekitar tiga puluh lima menit lamanya alvin serta felia benar benar sampai pada tempat tujuan.
"P-pakk korban gadis itu bagaimana?"
Polisi yang saat itu tengah memasuki mobil karena mungkin pekerjaan di tempat sudah selesai dan akan menyelidiki di kantor, kembali menurunkan kaki nya, menjawab pertanyaan dari dua remaja di hadapan nya.
"Korban tengah di bawa ke rumah sakit mitra keluarga"
Tanpa mengucapkan terimakasih felia langsung berlari meninggalkan alvin yang masih berbicara serta mengatakan terimakasih, di rasa sudah cukup, dirinya menyusul felia yang tengah membuka pintu mobil.
Ia memasuki mobil selepas itu atas permintaan felia dirinya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
Dua puluh menit mereka telah sampai pada tempat tujuan, kembali menanyakan korban kecelakaan tadi namun pergerakan nya terhenti kala telepon dari tas milik felia berdering nyaring.
Ia membulat kan matanya kala melihat siapa yang tengah menelpon nya, alara? Ia tidak salah baca bukan? Yang menelpon nya alara?
Dirinya segera menggeser logo berwarna hijau.
Senyuman terbit kala mendengar suara merdu yang sedari tadi dirinya khawatir kan, di sebrang sana alara tengah mengoceh sebal karena jemputan dari supir nya tidak kunjung datang.
Tidak tahu diri memang.
Alvin melihat felia yang senyum senyum dengan telepon nya pun mendengus, tadi dirinya nangis diam serta panik bamun sekarang? Siapa seseorang yang menelpon nya hingga gadis itu tersenyum lebar seperti saat ini?
"Siapa?" Tanyanya ia kesal rasanya kala felia tersenyum bukan karena dirinya, ia takut jika lelaki lain yang membuat felia tersenyum selain dirinya.
"Gw kenapa sih" batinnya kesal
"Pulang ayooo"
"Tapi alara, wah parah lo, alara lagi sekarat di sono terus lo mau pulang setelah kalang kabut kayak tadi?"
"Alara masih di tempat kejadian"
Alvin membulat kan matanya, apa katanya? Alara masih di tempat tadi? Lalu orang yang di bawa tadi? Itu tanda nya alara baik baik saja bukan?
Ia kembali mengeluarkan air mata, bukan, bukan karena dirinya sedih, ia menangis bahagia kala mendengar kabar baik itu.
Sama hal nya dengan felia, dirinya menangis seraya tersenyum, ia menubruk tubuh tegap alvin, alvin yang saat itu tidak sadar akan sekitar, membalas pelukan felia, memeluk erat tubuh ramping gadis tersebut.
Suster penjaga serta orang yang berada di lobi menyaksikan haru keduanya, terlebih lagi kasir rumah sakit yang tidak sengaja mendengar kan semua nya.
Sadar akan posisi, keduanya melepaskan pelukan dengan kikuk melirik sana sini melihat orang tersenyum menggoda ke arah nya.
Dengan perasaan canggung alvin menarik felia keluar.
"Sory, gw reflek tadi" ucap felia, merasa tidak enak atas kelakuan nya yang berlebihan.
"Gapapa, gw suka" ucapnya tanpa sadar, sedetik kemudian ia memukul mulut nya
"Hahhh??"
"M-maksud gw, gw suka lo khawatir sama alara, iya gitu maksud gw, emm udah ayo kasian alara"ucapnya kikuk
Wajah felia memerah, ntah apa yang membuat dirinya blushing, atau jangan jangan ia menyukai alvin?
Sedikit.
"ALARAAA...."
"Lo baik baik aja kan? Nggak ada yang luka kan?" Dengan segera dirinya membolak balik tubuh alara melihat intens dari ujung kepala hingga ujung kaki, memastikan bahwa gadis itu baik baik saja.
"Gw gapapa"ucapnya, setelah itu hening, semua terdiam.
Tak lama alvin berdehem, mengajak keduanya pergi ke rumah alara.
"Emm kalian pulang aja ya?"
Alvin dan felia yang saat itu tersenyum memperhatikan alara, sontak langsung memasang wajah serius mereka menautkan kedua alisnya bertanya.
Seolah paham dengan isi pikirin keduanya alara menghembuskan nafas berat, ia melirik ke dalam rumah nya melihat alira yang sudah berada di rumah dengan kedua orang tua nya.
"Sory, gw masuk duluan ya, makasih dan hati hati di jalan" belum sempat keduanya menjawab alara sudah masuk kedalam rumah dengan pintu yang di tutup rapat, Felia yang paham dengan apa yang alara katakan mengangguk kepada alvin mengisyaratkan bahwa semua akan baik baik saja.
To be continue..
TYPO KASIH TAU AKU....
Sory baru up🗿✌️.
Nahh alara gapapa nohhhhhhhhhh!!!.
BYE READERS!!!.
KAMU SEDANG MEMBACA
TWINS WITH DIFFERENT FATE [On Going]
Romance(FOLLOW SEBELUM BACA!). Plagiat out aja dari lapak aku!!. 🍭🍭🍭🍭 Alara malvina Alifa gadis cantik yang selalu mengalah kepada kembaran nya Alira malvina alifa. kedua orang tuanya selalu mengutamakan alira karena mengira bahwa lira lah yang mempuny...
![TWINS WITH DIFFERENT FATE [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/307962128-64-k608049.jpg)