18.sedikit hangat

36 22 4
                                        

Allow ges,apa kabar??
Baiklah ya....

Sebenernya aku lagi gamood buat up🗿.
CUMA, DEMI KALIAN AKU UP.
BAIK KAN AKU???

KE INTI YGY.
PLAGIAT OUT AJA DARI LAPAK AKU!!.

HAPPY READING.......

Cukup lama keduanya terdiam, kedua insan berbeda jenis itu tengah sibuk dengan pikirannya masing masing, melupakan ucapannya beberapa menit yang lalu.

Flashback on beberapa menit lalu.

Alara yang saat itu tengah meminum air mineral yang di beri alvin tadi, tersedak kala suara dingin farell terdengar indah di Indra pendengaran nya.

"Gw mau ngomong empat mata sama Lo"ucapnya dingin.

Alara masih mematung menimang nimang ucapnya farel, ia takut juga ia mendapat bentakan lagi dan lagi.

"Gabakal gw apa apain ga usah khawatir"ucapnya seakan tau apa isi pikiran alara.

Alara melirik ke arah alvin dan Felia yang sedari tadi hanya diam memperhatikan, keduanya mengangguk meyakinkan bahwa semua akan baik baik saja.

"Oke"jawab alara finall.

Alvin serta Felia mengerti situasi saat ini, keduanya melangkahkan kaki ke arah pintu keluar, memberi ruang berdua untuk alara dan farell.

Flashback of.

"Mau ngomong apa?" Tanya alara

Farell diam, ia masih enggan untuk berbicara dirinya menatap ke arah jendela yang menembus ke luar, memberikan pemandangan indah yang dapat ia lihat jelas jelas di depan matanya.

"Gw.."
"Lo..."

Ucap kedua nya serempak, farel dan alara bungkam, ntah apa yang harus mereka lakukan, semuanya terasa canggung jika hanya berdua seperti ini.

"Lo duluan"ucap alara, dirinya menatap kosong gelas yang ia pegang.

"Gajadi, gw cuma mau nanya kenapa Lo harus sadar?"

Degggg....

Jadi dirinya tidak di harapkan untuk pulih?

SAKIT.

itu yang ia rasakan, ia menaruh gelas yang ia pegang ke atas nakas, sebisa mungkin dirinya menahan tangisannya yang hampir meledak, ia tidak boleh lemah di hadapan farel, ia harus terlihat kuat, dengan segera dirinya melontarkan pertanyaan yang sedari tadi berputar putar di otaknya.

"Lo mau gw mati?"

"Iya"

"Soo, kalo emang Lo mau gw mati, kenapa ga Lo bunuh aja gw sekarang?"

Farell lantas menatap alara yang berada di belakangnya hanya kata maaf dalam batin yang bisa ia lontarkan, tidak mungkin jika dirinya meminta maaf langsung di hadapan alara.

"Yakin?"

Alara mengangguk, ya dirinya yakin seyakin yakin nya, namun jika harus sekarang ia belom siap, karena ia pun masih ingin berbahagia bersama orang-orang yang di sayangnya.
Aneh, pikirnya.
Ya dirinya aneh, ia yakin ingin mati namun tidak sekarang padahal jelas jelas farell menawarkan nya sekarang bukan?.

"Bego"gumam farell.

"Lo ngajak gw ngobrol empat mata cuma mau ngomongin itu?"tanyanya

Farell mengangguk mengiyakan nya, dirinya hanya akan mengatakan itu padahal yang sebenarnya tidak seperti itu.

Ia mana mau gadisnya berpulang begitu cepat tanpa kata BAHAGIA bukan?
Ia hanya membuat alasan semata karena ia hanya ingin berduaan dengan alara.

"Cemen ga berani ngomong depan Alvin sama Felia"tawa garing berasal dari mulut alara terdengar nyaring di telinga farell, dirinya meringis, orang sehabis koma bisa seaktif ini ternyata, pikirnya.

"Lo bilang apa tadi?"tanya nya dengan mata yang menatap tajam alara.

Alara menelan ludah nya kasar, mampus pikirnya. Dengan segera dirinya menutup muka nya dengan selimut yang sedari tadi ia pegang.

Ia mengintip di sela sela selimut, memeriksa apakah masih ada farel atau tidak, karena suara nya sudah tidak terdengar lagi.

"Huftttt untung ga ada"

"Kata siapa? gw di sini"

Suara berat nan pelan terdengar indah di telinga nya ia kaget saat dengan spontan farell mengatakan itu, dengan segera dirinya membalikan badan ke arah sopa di mana farell sedang menduduki nya.

"Lo ngapain masih di sini"

"Jagain Lo"ucap farell seraya menutup muka nya dengan bantal sopa.

Alara menganga mendengar nya, untuk apa farell menjaga nya?bukan kah masih ada Felia dan Alvin yang bisa menjaganya?lalu bagaimana dengan alira jika farel berada di sini, berdua? dengan nya?

Habis sudah riwayat Lo lar, batin alara.

"Gaperlu"

"Bagi Lo"

"Ck, cepet keluar"

"Ga"

"Ngeyel"

Tidak ada sahutan yang farell berikan, alara hanya mendengar dengkuran halus dari mulut farel, mungkin lelaki itu tidur, pikirnya.

Alara ikut membaringkan tubuhnya di kasur empuk miliknya, dengan segera dirinya memejamkan matanya, ia pun merasa mengantuk.
Sangat ngantuk.













"Mereka ngomongin apa si, lama bener"kesal Felia karena sedari tadi farell tidak ada keluar nya.

Dengan menghentak hentakan kaki nya, ia berjalan memasuki ruangan dan...

"Astaga pada tidur, pantesan dari tadi gw nunggu gw panggil gada sahut sahutan"

"Lo mau tidur juga?"

Felia terkejut kala alvin datang begitu saja di belakang nya.
Ia melupakan makhluk satu di belakang nya sedari tadi ternyata dirinya tidak sendiri.

"Sini"

Felia menurut dengan ajakan Alvin, dirinya di tuntun di bawa ke sopa yang masih kosong, ia menyuruh felia untuk tidur saja, dan dirinya akan menemani alara di kursi pinggir kasur nya.

"Lo ga tidur?"tanya felia dirinya masih menyesuaikan diri mencari tempat yang nyaman untuknya tidur.

"Ga, Lo aja, gw mau temenin alara."

Felia mengangguk memahami, Alvin yang melihat Felia sudah tertidur nyaman pun melangkah kan kaki nya menuju kursi yang letaknya di pinggir kasur alara.

Ia menarik selimut yang hanya menutupi kaki alara.
"Ck, ga dingin apa Lo" dumel nya

"Ga"

Jawaban yang berasal dari mulut alara mampu membuat nya terkejut.
Ia kaget bukan main, dirinya kira alara telah tidur pulas.

"Lo ga tidur?"

"Tadi sih iya, cuma gw ngerasa ada yang pegang jadi gw kebangun"ucapnya menerangkan

Alvin meringis, ini karena nya.

"Maaf"

"Maaf?"beo alara

"Iya, gw udah ganggu tidur Lo"

"Sans aja kali".

Seketika keduanya terdiam sibuk dengan pikirannya masing masing....


















To be continue....
TYPO KASIH TAU AKU OKEY??!!.



MAAF TELAT UP😭
BTW HARI INI ALARA GA DI SIKSA NI, BAIK KAN AKU?😏.










Dah bye readers!!.

TWINS WITH DIFFERENT FATE [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang