28.Amarah orangtua.

35 17 2
                                        

"ra?"

"Hallo?"

"Woi?, Lo masih hidup kan?"

*Akara malvina alifa, kemana si?"

"Hm?"

"L-lohhh, lo kenapa, kok suara nya beda, lar?, Lo, hei lar?"

"Ya fel?, Lo bisa ke rumah?"

"Bisa bisa"

Tutttt

Alara mematikan telpon nya sepihak, ia turun dari kasur nya menuju wastafel kamar mandi untuk sekeder mencuci muka, ia membilas muka nya dengan bersih, menghilangkan make up make up yang mama nya pasangkan ke wajah nya.

Dirinya mendongak, melihat ke arah cermin yang menunjukkan pantulan dirinya, tak sedikit luka yang ia lihat "huftt, semangat lar" gumam nya menyemangati diri sendiri.

"ALARAAAA"

"ALARA BUKA ATAU SAYA DOBRAK PINTU KAMU?"

"ALARA MALVINA ALIFA"

"YA, PAH?, MAU APA SI? LARA CAPE"

"BUKA"

alara berdecak, ia berjalan keluar membuka kan pintu untuk papah nya, ia terkejut kala melihat papah nya langsung melayangkan bogeman pada perut nya, dirinya tersungkur ke belakang dengan tangan yang memegangi perutnya yang terasa sangat prih.

"P-pahh, j-jangan siksa lara"

"Suka suka saya, kenapa kamu melarang?"

"Pahh?"

"Kamu tidak sopan alara, kau membuat ku malu dengan sikap mu, kau mengacuhkan tunangan mu di luar sana, apa itu sopan alara? TIDAK" ucapnya mencengkram pundak alara.

Alara meringis, sakit saat papah nya dengan erat mencengkeram pundak nya, hingga kuku panjang membuat pundak alara berdarah.

Tin..tin..

Alara menoleh ke arah pintu, namun papa nya dengan sigap menampar pipi alara untuk menghadap padanya.

Tring..tring..

Hp alara berbunyi, namun, adrian membanting nya hingga membuat hp tersebut sudah tidak berbentuk, berserakan di beberapa tempat, membuat alara diam di tempat

Dirinya beranjak "alara keluar" ucapnya, Adrian membiarkan putri nya keluar, namun, ia menyusul nya dari belakang.

"Hai ra, ayo?"

"Ay-"

"TUNGGU" Bentak malvin

Felia menyalimi tangan adrian, namun dengan cepat adrian menepis nya, felia menyatukan kedua halis nya, ada apa? Apa sedang ada perkelahian antar anak dan papahnya itu?

"Untuk apa kamu kemari?"

"Saya menjemput alara om"

"Tidak, tidak perlu, alara akan di rumah, saya belom puas menyiksa nya, kamu tau itu bukan?"

"Om, sampe kapan om seperti ini pada alara? Dia anak om juga kalo om lupa, om selalu mengutamakan alira di banding alara, apa bedanya alara dan alira om?"

"Alara gadis sialan, dia hanya bisa membuat ku pusing, kau tau itu?"

"DIA TIDAK SIALAN" bukan, bukan felia yang menjawabnya, namun seorang lelaki dengaan balutan baju hitan polos serta celana selutut dengan lantang mengatakan itu.

Alvin
Lelaki itu datang sudah lebih dulu sebelum felia, motormya ada berada di balik pohon besar rumah alara hingga felia tidak melihat keberadaan nya.

"Hhhh kamu lagi"

"Ya, saya, salah?"

"Tentu, karena kau selalu saja mencampuri urusan keluarga saya, kamu pikir kamu siapa? Bahkan kamu tidak memiliki hubungan dengan alara, oh, atau kalian punya hubungan kotor di belakang saya?"

"JAGA UCAPAN MU" alvin lantas langsung membogem wajah adrian, berganti pada perutnya hingga lelaki yang notabene nya merupakan ayah dari sahabat nya tersungkur..

Ia tertawa melihat amarah Alvin "hh, bener bukan?"

BUGHHH

DUGHHH

BUGHHH

Seperti orang kesetanan, Alvin tidak henti hentinya membogem wajah adrian. Di dalam alira serta mira tengah menonton di kamar lira pun merasa terganggu dengan perkelahian di bawah.

Keduanya turun melihat siapa gerangan yang sudah mengganggu waktu nonton nya, ia ingin marah, namun senyuman nya terbit kala melihat alara yang sedang di siksa.

"AYO PAH TERUS PAH" bagai pertandingan alira berucap seakan akan menonton pertandingan, menyuruh pemain semangat dengan aksi brutual menyiksa lawan.

Adrian justru senang, karena ada alira yang menyemangati nya, dirinya merasa beruntung mendapatkan anak seperti alira, tidak dengan alara.

BUGHHH

DUGHHH

alvin serta Adrian, kedua nya memang sudah seperti bertanding, melawan satu sama lain, mengejar kemenangan, tidak sedikit orang yang menonton nya, alara yang sadar akan hal itu hanya bisa menunduk getir, malu? Tentu.

"STOPP, KALIAN BEDDUA SUDAH SEPERTI BOCAH, LIHAT DI SANA,"tunjuk alara ke arah segerombolan orang yang sedang menonton aksi keduanya "APA KALIAN TIDAK MALU DI LIHAT SEPERTI ITU?, BAPAK ADRIAN TERHORMAT, APA KAU TIDAK MALU?"

Adrian bungkam, ia menatap alara dengan sorot mata tajam, bergantian pada segerombolan orang yang tengah menontonnya, ia menatap tajam mereka, seakan sapi yang di tindik mak nya, semua lantas langsung menurut, pergi dari halaman keluarga malvin, inget keluarga malvin bukan keluarga biasa.

"Hebat, hebat, kau pasti menyuruh warga untuk datang kemari hingga membuat ku menghentikan perlakuan ku bukan?, Kau membuat ku malu alara"

"Papah menyalah kan ku? Hhh bahkan papa sendiri yang membuat ku tidak kuat berjalan, lantas bagaimana aku memberitahu warga?" Ya memang, alara sudah tidak kuat berdiri sendiri, ia berdiri dengan bantuan felia

"Sini kamu"

PLAKKK
PLAKKK

kedua pipi alara kembali di buat panas, alvin yang melihatnya pun lantas membalikkan tubuh adrian, membogem wajah perut adrian seperti orang kesetanan, adrian tersungkur di bawah kaki alara, dengan segera dirinya bangun dan masuk ke dalam rumah nya, sebelum itu ia melontarkan perkataan pedas pada alara.

"ANAK SIALAN, TIDAK TAHU DI UNTUNG, MATI SAJA KAU"

🍭🍭🍭🍭

"Lar, lo gapapa kan?" Tanya felia saat keduanya telah masuk ke dalam mobil, alvin turut ikut masuk, ia menyetir mobil felia, biarkan saja motornya yang tertinggal, ia akan menyuruh orang untuk mengambilnya.

Alara menatap ke arah jendela, menampilkan jalanan yang masih rame oleh orang yang seumuran dengan nya, dirinya tersenyum getir melihat nya, andai ia bisa seperti mereka, hidup tanpa siksaan keluarga, pasti menyenangkan.

"Lar, mau makan dulu?"

Alara menggeleng sebagai jawaban, keduanya menatap alara sendu, felia seakan peka, ia turun membeli makanan angkringan pinggir jalan, membeli mie ayam bakso kesukaan alara.
  Ia membayar nya, selepas itu ia kembali masuk dengan dua kantung plastik sedang yang berada di tangan kanan dan kirinya.

"Nanti kita makan"




TO BE CONTINUE




ALLO, AKU UP LAGI NI😍.

AYOO SPAM VOTE:).

TWINS WITH DIFFERENT FATE [On Going]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang