27. Layangan dan Senja

299 30 54
                                        

Hai semuanya!

Apa kabar? Kalian sehat? Jangan lupa jaga kesehatannya yak💙

Sebelum baca. Follow, vote dan komennya ya! biar aku semangat lanjut ceritanya (≡^∇^≡)

Happy reading❤

Cuitan suara burung kenari bersama pasangannya, begitu juga guluman senyuman-nya menatap satu sama lain, bikin iri saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Cuitan suara burung kenari bersama pasangannya, begitu juga guluman senyuman-nya menatap satu sama lain, bikin iri saja. Suara mereka begitu merdu, saling bertaut. Walaupun tampak sederhana tapi dua sejoli itu merasakan sesuatu yang sepesial dalam dirinya masing-masing ntah apa itu. Yang jelas mereka pasti berharap doa itu adalah 'semoga itu aku, bukan yang lainnya' kalian pasti paham bukan.


Senja sore mengakhiri agenda jalan-jalan yang menyebalkan tapi ini tidak terlalu menyebalkan juga (psstt! Ada keromantisan di sela-sela kata 'menyebalkan' itu) dasar remaja SMA zaman sekarang.

"Udah sore nih, pulang yuk?" ajak Arkan, senyumannya masih terlihat jelas jika hari ini dia tampak bahagia.

Ayesha mengangguk, ia juga sama bahagianya dengan senyuman yang Arkan tunjukkan dibalik kilauan sinar senja sore yang menyilaukan. Tapi, senyuman Arkan jauh lebih menyilaukan jika kalian lihat lebih jelas. Ah, Ayesha sampai tersipu dan salting (salah tingkah) beberapa kali dibuatnya.

"Kok bengong sih? Ayo! Keburu malam nih, lo mau nginep, hm?" pekik Arkan mencibir Ayesha, asam.

"Dih, kalau gue nginep, apa lo tega ninggalin gue?" timpal Ayesha.

Arkan merasa tertohok mendengar jawaban dari gadis dengan rambut panjang tergerai menampakkan semirnya yang berwarna merah maroon, terhembus bersama angin yang lembut. Ah, tidak lupa shampoo beraroma strawberry ice cream menerobos begitu saja melalui lubang hidungnya samar-samar. Sangat wangi. Arkan tergupuh menjawab pertanyaan dari Ayesha.

Sial! Tentu saja Arkan tidak akan bisa meninggalkan seorang perempuan duduk sendirian ditaman sebesar ini, apa lagi menginap. Tentu saja tidak akan pernah, lagian Ayesha juga tidak ingin digigit si haus darah malam-malam (nyamuk) nanti tubuhnya bisa gatal-gatal. Apa lagi jika ada lelaki si hidung belang yang menggodanya, oh itu tidak akan terjadi soalnya Ayesha 'kan jago berkelahi.

"Ya nggak mungkin gue ninggalin lo sendirian disini, cowok macam apa gue ninggalin lo sendirian, hm?"

"Aaaaaacie-cie ... Berarti lo peduli 'kan, sama gue?"

Gemas. Arkan terjebak dalam kata-katanya sendiri, wajah bak putri malu itu terlihat jelas sekali. Sambil berpaling dan menutupi wajahnya dengan tangan kirinya.

"Geer banget sih. Lagian kalau nginep, lo nggak akan mau dan disini yang nggak pengen ditinggal itu lo, kan? Jujur aja deh, nggak usah pake voucher cinta lagi," pekiknya.

Raut wajah percaya diri itu lenyap, mata Ayesha membulat. Bagaimana dia tau apa yang ia minta? Kali ini lain, Ayesha tidak memakai kode cintanya untuk membuat Arkan peka. Tapi hari ini banyak kata hati yang Arkan sadari. Tunggu ... Voucher cinta, itu kode cinta, bukan voucher.

DEAR ARKAN [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang