Dua kombinasi yang pas. Cowok tuna netra dengan cewek tomboy yang galak.
Lelaki tuna netra dengan taburan kehidupan keluarga yang manis dan bahagia ini bernama Arkanaro Lexanders (Arkan). Namun terbalik. Justru Arkan memiliki hubungan sosial yang bu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ayesha kembali masuk ke dalam tangannya, mengolesi luka di pipinya dengan salep yang Bi Ine berikan. Ia juga sempat memecahkan gelas dan membentak Bi Ine gara-gara tertekan dan emosi. Apa lagi Ayesha mendapatkan tamparan baru dari Mamanya, bahkan kali ini mengeluarkan darah.
Dengan tatapan datar tanpa rasa perih atau meringis kesakitan, sama sekali tidak ada tanda-tanda Ayesha memperlihatkan itu semua. Aku udah berulangkali mendapatkan tamparan ini, ini seperti mendapatkan lencana, jadi aku nggak pernah merasa kesakitan. Bahkan saat Mama menampar wajah ku, aku malah nggak bisa merasakan rasa sakit itu, begitulah yang dikatakan oleh Ayesha, saat Bi Ine menanyainya pertanyaan itu, kemudian Bi Ine menangis.
Menghela nafas. "Aku harus minta maaf ke Bi Ine, tadi aku udah bentakin dia," melihat bekas merah di pipinya. "Duh, ini bisa ilang semalam nggak ya? Besok harus udah ke sekolah," sambungnya.
Ayesha pun memutuskan untuk mengompres pipinya dengan air hangat. Setelah itu, ia pun beranjak tidur di kasurnya yang empuk. Ayesha sama sekali tidak melihat keluar meja makan yang masih berserakan, Ayesha tau jika perbuatannya ini kejam, meninggalkan Bi Ine membersikan tumpukkan sampah yang sia-sia itu sendirian. Namun sekilas bayangan tentang pertengkaran kedua orang tuanya terlintas dibenaknya.
Plakkk!
"Aahh! Tega kamu tampar pipi aku!"
"Jaga ucapan mu itu wanita jalang! Aku sama sekali nggak pernah tidur, apa lagi bercumbu dengan wanita lain. Yang aku cintai cuma kamu seorang!"
"Heh," menyeka sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Mana ada maling yang mau ngaku, kan? Iya kan mas? Kamu nggak mau ngaku. Oh, atau kamu udah ada pengganti aku ya!"
"CUKUP! Dengar ya, aku nggak mau berbuat kasar sama kamu. Tapi kalau kamu berani-beraninya mengatakan itu sekali lagi, aku akan menghadapimudipengadilan!"
Ayesha menghela nafas panjangnya lagi. "Huh, kapan masalah keluarga gue bisa kelar? Rasanya pengen mati, tapi gue takut mati," ucap Ayesha.
"Ah, nggak mau mati dulu, pengen punya pacar. Lagian gue belum ada kesempatan deketin Arkan juga. Dan belum bahagiain diri gue sendiri," sambung Ayesha.
Kemudian ia teringat dengan tongkat bantu tuna netra yang baru saja ia beli. Ayesha segera bangun dari tidurnya, mengambil kertas dan bolpoin, menuliskan permintaan gue kepada Arkan untuk jaga-jaga jika Arkan tidak mau menerima barang pemberian Ayesha. Tak lupa Ayesha juga menghias kotak itu dengan simpul pita berwarna merah.
"Nah udah siap. Tidur ah, besok mau mulung."
Pagi pun tiba.
Ayesha bersiap berangkat ke sekolah. Saat keluar dari kamarnya, dimeja makan sudah terlihat roti bakar dan secangkir susu coklat kesukaannya.
"Eh non Ayesha udah siap-siap mau berangkat sekolah ya? Sini non, makan dulu, bibi udah siapin sarapan buat non," ucap Bi Ine tersenyum ke arah Ayesha.