29. Rasa yang Hampir Terlihat

276 29 7
                                        

Hai semuanya!

Gimana kabar kalian?

Yang baru gabung jangan lupa follow, vote dan komennya ya, biar aku semangat lanjut cerita iniヾ(〃^∇^)ノ

Happy reading❤

Sebelum bertemu denganmu hidupku hanya dipenuhi dengan penyesalan dan hasrat ingin bunuh diri, sejak kejadian kecelakaan yang membuat mataku buta rasanya kehidupan seperti tidak ada artinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sebelum bertemu denganmu hidupku hanya dipenuhi dengan penyesalan dan hasrat ingin bunuh diri, sejak kejadian kecelakaan yang membuat mataku buta rasanya kehidupan seperti tidak ada artinya. Hari-hari yang biasanya ku lalui dengan penuh harapan, berubah menjadi hampa kapan hariku akan tiba. Namun di sisi lain, aku merasa orang tua ku jadi merasa bersalah atas tuduhan itu, jika orang lain berkata: syukuri aja, masih untung kamu hidup. Bukan itu.

Mata yang tak bisa melihat ini juga jadi sumber awal aku dibully dan dihindari oleh teman-teman sekolah ku. Yang awalnya memiliki teman, jadi tidak memiliki sama sekali, yang awalnya disegani jadi tidak berarti apa-apa. Teman yang berjanji juga tidak bisa selamanya berjanji karena mereka manusia, manusia selalu melupakan apa yang mereka katakan dan menganggap itu sebagai lelucon biasa. Teman,bahkan orang-orang disekitar ku mulai menghindar dan melupakan diriku, padahal jelas-jelas aku masih duduk dan mendengar perbincangan mereka yang menusuk hati. Rasanya gerah jika terlalu lama disana, ingin cepat-cepat pulang.

Bertahun-tahun aku bertahan karena jika aku terus mendengar ucapan itu, maka umurku akan semakin pendek. Haha, tentu saja siapa yang betah dengan ucapan seperti itu, kata sabar tidak cukup untuk menutupi senyuman palsu ini, aku laki-laki cukup gentleman menghadapi seperti ini tapi aku juga hanya manusia biasa. Tapi setidaknya aku cukup terbiasa dengan semuanya, aku mulai terbiasa mendengar cibiran pedas mereka dan ada beberapa yang membuatku tertawa.

Ada yang bilang sambil berbisik: Arkan buta tapi orang tuanya kaya. Penasaran kok bisa kaya, ya? Bahkan ada yang sengaja mendekatiku hanya karena aku kaya alias diporotin uangnya sampai habis, tapi aku tidak sebodoh itu. Meskipun aku tidak bisa melihat, setidaknya aku tau mereka mendekatiku karena apa dan ujung-ujungnya bukan untuk tulus berteman dengan ku, lagi-lagi soal uang. Waktu itu aku juga hampir masuk jebakan tapi untung saja seseorang membisikkan ku kata-kata. "Awas, orang itu cuma manfaatin uang lo doang," aku tidak tau siapa orang itu. Aku masih merekam jelas suaranya seperti apa dibenakku.

Lalu saat SMA aku benar-benar menjadi seorang yang suram. Ah, sial aku hampir dikira wibu akut membosankan. Aku selalu berharap ada yang menyapaku atau sekedar memanggil namaku, lalu tiba-tiba rasa agresif serta rasa ingin mengakhiri hidup muncul kembali sejak perempuan itu membully-ku, ini bukan sekedar cibiran pedas kalau itu aku bisa tahan tapi mereka mengunciku, mendorong, bahkan melempariku barang busuk sampai aku diolok-olok banyak orang. Tapi tiba-tiba seseorang itu datang menolongku, karena refleks aku menolak dan malah membuang uluran tangannya.

Orang itu adalah Ayesha, seorang gadis unik yang memberiku kepercayaan lagi akan keberadaan teman dan memberiku kehidupan lagi dalam diri ini yang sudah mati. Aku sering kali mengusirnya tapi Ayesha si gadis tomboy tidak pernah menyerah mendekatiku (keras kepala), aku beberapa kali melontarkan kata-kata buruk agar jangan pernah mendekatiku lagi. Tapi aku malah digoda balik olehnya. Sampai, hati kecilku berkata: nggak ada salahnya aku mencoba berbicara dengan cewek ini.

DEAR ARKAN [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang