32. Daun yang Gugur

230 23 6
                                        

Hai semuanya!

Ada yang kangen gak nih sama aku?

Cus langsung baca!

Kalau ada typo, mohon dimaklumi ya guysss🥰

Happy reading❤️

Nenek Ayesha pun dilarikan ke rumah sakit segera

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Nenek Ayesha pun dilarikan ke rumah sakit segera. Tetesan yang mulai deras mengucur dari mata hingga membasahi semua pipinya, terlihat wajahnya yang mulai merah karena berteriak didalam mobil.

Arya yang mengemudikan mobilnya dengan cepat melesat dengan keringat yang bercucuran keluar. Suasana mulai menegang ketika tangisan dari gadis itu mulai pecah tiap detik, Airi yang merasa terganggu dan risih dengan teriakan sang anak pun membentak Ayesha.

"Bisa diem nggak sih!! Nenek kamu itu nggak akan kenapa-napa, jadi berhenti teriak-teriak!!"

Mengepalkan tangannya kuat. "BISA-BISANYA MAMA BILANG GITU KE NENEK!! NENEK PINGSAN!! BERDARAH!! MAMA MALAH BENTAK AKU SAMPAI GITU!!!" teriak Ayesha membentak Airi, Mamanya sendiri.

Meskipun terbilang dosa, memang dosa membentak seorang ibu. Namun bagaimana lagi, tindakan Airi itu sudah terlewat batas. Bom Ayesha meledak begitu saja, tidak bisa menyalahkan Ayesha hanya karena ia menangis tersedu-sedu, bahkan bisa dibilang hari ini benar-benar hari terburuk yang ia alami. Mengapa Tuhan sejahat ini padanya?

***

Mobil berwarna merah itu pun sampai didepan gedung berwarna putih dengan beberapa suster mondar-mandir ke sekitaran tempat. Dengan mengenakan seragamnya yang berwarna putih-biru muda. Membawa beberapa pasien dengan kursi roda dan ada beberapa yang duduk menemani diteras pinggiran rumah sakit. Begitu panik, sangat panik ketika Arya berteriak sekencang mungkin untuk memanggil para suster dan dokter yang sedang lewat disana.

"DOK!! SUS!! SIAPA SAJA, TOLONG IBU SAYA!!!" teriakan Arya seketika menggema lorong-lorong rumah sakit. Menarik perhatian orang yang berlalu lalang disekitar rumah sakit.

Dengan gerakan cepat, para dokter dan suster berlari cepat ke arah Arya yang sedang membopong ibunya, bersimbah darah, cukup banyak. Ekspresi dokter itu sedikit terkejut melihat ibu Arya dengan kondisi seperti itu. Dan betapa mengerikan ekspresi Airi seperti manusia tanpa dosa. Dokter mendorong banker menuju unit gawat darurat.

"Mohon tunggu diluar," ucap Dokter, sambil menggiring branker dan suster lainnya masuk ke dalam ruang UGD.

"Tapi saya ingin melihat nenek!!" Sambung Ayesha, air matanya bercucuran, wajahnya yang panik menghiasi seluruh kepanikan.

"Tolong tenang, kami akan berusaha untuk menangani pasien."

"AYESHA DIAM!! JANGAN BIKIN MALU!!" Teriak Airi memutar bola matanya 180 derajat.

DEAR ARKAN [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang