Dua kombinasi yang pas. Cowok tuna netra dengan cewek tomboy yang galak.
Lelaki tuna netra dengan taburan kehidupan keluarga yang manis dan bahagia ini bernama Arkanaro Lexanders (Arkan). Namun terbalik. Justru Arkan memiliki hubungan sosial yang bu...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ayesha pun menghampiri neneknya yang remang-remang tersenyum kepadanya, masih dengan keadaan lemas, dan selang infus ditangannya.
"Nenek!" Berlari ke arah neneknya.
"Nenek nggak apa-apa kan?" tanya Ayesha khawatir.
Neneknya menganggukkan kepalanya, karena nenek Ayesha tidak bisa berbicara. Ya, nenek Ayesha bisu, neneknya hanya bisa mengangguk dan menggelengkan kepalanya jika neneknya tidak menyetujui ucapan atau perbandingan.
"Nenek apa kata dokter?"
Neneknya pun bersuara sedikit demi sedikit. Arya yang melihat mertuanya berbicara seperti itu tidak paham, namun ajaibnya Ayesha mengerti apa yang diucapkan mertuanya.
Ayesha menghela nafas lega. "Ah, nenek bikin aku khawatir aja deh. Apa? Nggak kok nek, nenek sama sekali nggak ngerepotin aku." ucap Ayesha tersenyum dengan tawanya yang membuat Arya, papa Ayesha terbelalak melihat senyum anaknya yang sama sekali tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Kemudian Arya mendekati kasur mertuanya dengan wajah menundukkan kepalanya.
"Papa ngapain masih disini?" ucap Ayesha dingin.
Tangan neneknya memegang tangan Ayesha, tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, tanda Ayesha tidak harus mengusir papanya seperti itu.
"Kalau ada yang mau papa bicarain, bicara aja disini. Aku harap papa minta maaf ke nenek udah buat nenek pingsan,"
"Ibu, maafin aku udah bikin ibu begini. Maaf, aku masih bisa membuat cucu nenek bahagia," ucap Arya mencengkram keras pinggiran kasur rumah sakit.
Mendengar kata-kata bahagia batin Ayesha seperti teriris-iris, begitu menyakitkan mendengar kata yang tak sanggup ia gapai itu, rasanya seperti mimpi yang tak pernah terwujud.
"Baiklah kalau begitu papa baik ke kantor dulu ya. Maafin papa nggak bisa temenin kamu sama nenek disini, papa masih banyak kerjaan," ucap Arya.
"Iya, pergi aja," balas Ayesha ketus, enggan menatap papanya.
Setelah Arya pergi, tangis Ayesha pecah ia tak mampu menahan air mata itu. Ayesha menangis sambil tangan neneknya mengelus-elus pucuk rambutnya.
"Nek, kapan aku bahagia? Aku udah cari kebahagiaan ku sendiri, semuanya udah aku dapatin. Tapi aku masih nggak bahagia kalau pulang ke rumah, kenapa nek?" tanya Ayesha sesenggukan.
Neneknya yang melihat itu pun merasa sedih, hatinya bergetar. "Andai nenek bisa bicara, nenek pasti akan dongengin kamu sampai kamu tertawa. Meskipun orang tua kamu berlaku buruk, tetap kuat dan bertahan hidup Ayesha, nenek yakin suatu hari nanti kamu pasti bahagia." Ucap neneknya dalam hati.