Dua kombinasi yang pas. Cowok tuna netra dengan cewek tomboy yang galak.
Lelaki tuna netra dengan taburan kehidupan keluarga yang manis dan bahagia ini bernama Arkanaro Lexanders (Arkan). Namun terbalik. Justru Arkan memiliki hubungan sosial yang bu...
Ada yang kangen gak nih sama Arkan? Maaf ya baru update (>︿<。)
Sebelum baca udah pada follow gak nih? Jangan lupa follow dulu ya biar aku semangat lanjut ceritanya.
Happy reading💘💘
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu, dikala cahaya matahari mengintip malu-malu dibalik tirai jendela kamar Ayesha, melihat pemilik kamar itu masih terlelap dalam bunga-bunga mimpi indahnya, padahal waktu sudah hampir habis (artinya ia akan terlambat sekolah). Bibi yang mengurus seisi rumah itu pun membangunkan Ayesha dengan sangat hati-hati dan kasih sayang seperti membangunkan anaknya sendiri, sungguh bertolak belakang dengan Airi. Ah, tidak-tidak, itu tidak akan pernah sama.
Jangan tanyakan Airi dimana, perempuan paruh baya tapi tak terlalu tua itu sudah pergi keluar dari rumah dari jam 6 pagi dengan riasan lipstik tebal semerah bunga mawar. Tentu saja berangkat bekerja, bahkan jika dilihat Airi sama sekali tidak menganggap Ayesha ada, meluangkan waktu untuk membangunkan Ayesha saja tidak ada apa lagi membuatkan sarapan pagi. Dan jika ditanya, mengapa Bi Ine betah sekali bekerja didalam keluarga itu, kenapa tidak keluar saja. Dibenak Bi Ine pasti ingin berhenti bekerja disana, siapa yang tidak betah menghadapi juragan perempuannya yang uring-uringan, suaminya yang tak kunjung pulang, mertua perempuan yang sakit-sakitan dan anaknya yang sering menjadi tumbal kemarahan orang tuanya.
Siapa yang tidak tega meninggalkan rumah dan keluarga rusak seperti itu. Bahkan tidak ada tanda-tanda bibit keharmonisan dari salah satu orang didalam rumah itu, semuanya enggan menyapa dan mengindar karena tidak ingin mendapatkan badai, siapa itu, itu adalah Ayesha. Anak gadis juragannya yang membuat Bi Ine bertahan bekerja sampai saat ini dan permintaan nenek Ayesha. Jelas sekali itu membuat hati kecilnya terenyuh.
"Non! Non Ayesha ayo bangun berangkat sekolah, nanti telat loh," ucap Bi Ine sembari membuka tirai jendela. Lalu kembali duduk dipinggir kasur sambil mengelus-elus rambut panjang bersemir itu.
Menguap. "Hoam!! Lima menit lagi ... " ucap Ayesha berganti posisi. Gaya tidurnya benar-benar jelek sekali, kakinya ngangkang lebar, tangan panjangnya yang semrawut, rambutnya yang berantakan dan tidak lupa iler-nya membasahi bantal tidurnya sana-sini (jangn ditiru ya).
Terkadang Bi Ine juga harus sedikit lebih keras pada Ayesha, jika bukan Bi Ine, lantas siapa lagi yang akan mengurus gadis muda bandel ini.
"AYESHA AYO BANGUN!!" Teriakan Bi Ine menggelegar. Membuat netra yang tertutup rapat, jadi terbuka sedikit.
"Iya-iya, Bi, jangan marah-marah," Garuk-garuk rambutnya yang lepek.
"Ayo cepat mandi, Non Ayesha. Lihat ini udah jam berapa!! Mau sampai kapan Non Ayesha tiduran terus?"
Mendengar omela dari Bibinya, seketika Ayesha bangun dan berlari kecil, sempoyongan memasuki kamar mandi tanpa menjawab sepatah kata pun dari Bi Ine. Kebiasaannya kalau bangun tidur, bawaannya nggak mood ngomong. Ada yang sama?