11. teman masa lalu

384 52 76
                                        

Hai guys!

Apa kabar semuanya?

Jangan lupa follow akun ini ya, dan masukkan reading list.

Happy reading sobat Revor ❤️

Happy reading sobat Revor ❤️

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Di dalam kelas.

"Emm, Ay, lo kemarin dapat telpon dari siapa?" tanya Arkan menarik punggung baju milik Ayesha.

Ayesha yang mendapatkan pertanyaan dari sang pujaan hati pun tersenyum miring, lalu membalikkan badannya ke belakang menatap Arkan.

"Akhirnya si pangeran kepo juga ya," ucap Ayesha menopang dagunya dan tersenyum manis ke arah Arkan.

"Aish! Jangan mikir aneh-aneh, gue cuma tanya bukan berarti gue peduli sama lo. Dasar cewek nakal!" ucap Arkan acuh.

"Pembantu gue kemarin yang telpon gue, kalau nenek gue dirumah tiba-tiba pingsan," jelas Ayesha.

"Kenapa pingsan?"

Pertanyaan itu terucap pada mulut Arkan, padahal Ayesha tidak ingin mengungkit masalah apa pun tentang kejadian kemarin.

"E-enggak kok, nenek gue cuma kecapekan aja," balas Ayesha mengerutkan keningnya.

"Oh gitu, semoga nenek lo cepat sembuh ya. Oh iya, kenapa sih lo selalu babak belur tiap kali berangkat ke sekolah?"

"Cih, bisa nggak sih lo nggak usah banyak tanya ha? Lo nggak usah sok peduli sama gue, lagian ... ini cuma goresan luka biasa," ucap Ayesha berbohong. Namun Arkan mengetahui jika Ayesha tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

Pelajaran pun dilanjut. Begitupun Ayesha, ia selalu tertidur dikelas, pertanyaan yang sama selalu dilontarkan pada guru mapel nya, mengapa Ayesha selalu tidur di dalam kelas? Apa sebabnya? Namun tetap saja, jawaban Ayesha hanya ia habis memukuli beberapa murid dari sekolah lain karena hal sepele.

Dari lubuk hatinya yang terdalam, Ayesha sama sekali tidak ada niatan untuk berbohong kepada guru-guru di sekolahnya. Karena ucapannya yang menyakinkan, tiap hari Ayesha selalu dihukum keluar dari ruang kelas. Ayesha sama sekali tidak memedulikan hukuman, baginya hukuman ini tidak seberapa sakitnya saat ibu kandungnya sendiri setiap hari melemparinya serpihan kaca yang menyayat kulitnya yang baru saja sembuh dari goresan minggu lalu.

Guru BK juga kerap kali berbicara empat mata dengan Ayesha di ruang khusus. Guru itu selalu menanyakan mengapa Ayesha selalu babak belur dan dipenuhi luka-luka, berharap ia akan jujur jika berbicara di ruangan tertutup. Tapi justru Ayesha semakin kesal dan enggan berbicara, ia terus ngotot jika ini murni karena pertengkaran anak remaja.

Pada saat itu, guru-guru lainnya pun menyerah. Mungkin suatu hari nanti mereka akan tau kehidupan apa yang sebenarnya Ayesha jalani dengan semua kebohongan pedih dibalik senyumannya.

"Oi kutu buku," panggil Ayesha pada Arkan yang terdiam sambil membaca buku khusus tuna netra.

"Nggak bosen apa, baca buku terus. Ngobrol kek sama gue," ujar Ayesha duduk di depannya.

DEAR ARKAN [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang