Dua kombinasi yang pas. Cowok tuna netra dengan cewek tomboy yang galak.
Lelaki tuna netra dengan taburan kehidupan keluarga yang manis dan bahagia ini bernama Arkanaro Lexanders (Arkan). Namun terbalik. Justru Arkan memiliki hubungan sosial yang bu...
Apa kabar kalian? Sehat selalu ya. Yang baru baca yuk follow dulu, biar aku semangat buat ceritanya🥺💗
Kasi bintang dan tinggalkan jejak kalian ya...
Happy reading😚💖
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi hari itu, cahaya masuk dari sela-sela jendela kamarnya. Ia tak bergerak sama sekalih sejak terakhir menangis di bawah lantai dan akhirnya tertidur sambil memegang surat dari neneknya. Mungkin ia juga harus berterimakasih pada Bibinya karena telah membantu neneknya mencatat surat terakhir untuknya. Sebelum nenek pergi untuk selamanya.
"Udah pagi aja, jadi malas ngapa-ngapain. Tapi gue harus sekolah, udah lama gue nggak sekolah." Ucap Ayesha.
Tok! Tok! Tok!
Terdengar ketukan pintu kamar dari luar. Ah siapa itu, menganggu tidur saja. Ayesha hanya melihat dari ekor matanya saja. Tubuhnya masih sama, terbaring di lantai, membayangkan rasa sakit dan dinginnya lantai kamar.
"Non, sudah pagi. Non Ayesha masih tidur?..." Tanya Bi Ine dari balik pintu.
Namun tak ada jawaban dari Ayesha, ia masih terdiam memikirkan ntah apa. Rasanya sedikit aneh ya, semenjak nenek pergi, ucap Ayesha dalam hatinya.
"... Ah! Kalau Non Ayesha masih nggak mau pergi, Bibi bakal izinkan Non Ayesha,"
"Aku masuk, tunggu bentar..." Jawab Ayesha dari dalam kamarnya samar-samar.
Mengetahui hal itu Bi Ine siap-siap pergi membuatkan Ayesha makanan. Bi Ine membuatkan puding manis rasa coklat kesukaan Ayesha dengan vla dan toping choco chips di sana. Kali ini Bi Ine membuat ukuran puding yang cukup besar, alih-alih mengembalikan suasana hati Ayesha selama hampir tiga hari terakhir ini.
Selesai mandi dan bersiap, Ayesha masih tampak murung mengsangklukkan tas di lengan kanannya. Namun Bi Ine tak juga ikutan bersedih, justru pembantu rumah tangga itu mengembangkan senyumnya menyambut pagi ceria Ayesha. Jangan tanyakan Airi kemana, ia sudah pergi kerja pagi-pagi buta bahkan tak sempat membangunkan anaknya. Kata-kata yang sering terlontarkan mulutnya untuk Ayesha seperti, aku nggak peduli mau anak itu sekolah apa nggak.
***
"Selamat pagi, Non Ayesha." Ucap Bi Ine tersenyum manis ke arah Ayesha berjalan dan duduk di meja makan.
Menganggukkan kepala, kemudian Ayesha melihat puding dengan wangi vla vanilla di sana.
"Ini apa? Puding?" Tanya Ayesha.
"Iya, ini buat Non Ayesha. Non Ayesha mau puding, kan?" Ayesha mengangguk pelan.
Bi Ine pun segera menyajikan puding itu selagi masih dingin. Bi Ine juga tidak mau merusak mood Ayesha yang lumayan baik. Walaupun tidak ada senyum di wajahnya. Sambil memakan puding coklat, Ayesha berhenti sejenak.