3. Jangan Ganggu!

659 97 143
                                        

Saat Ayesha terbangun, matanya mengedar di seluruh ruangan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Saat Ayesha terbangun, matanya mengedar di seluruh ruangan. Ia tampak kebingungan mengapa tiba-tiba dikamar, padahal tadi Airi menyiksanya di kamar mandi.

"Bi, kenapa aku ada di kamar? Bukannya tadi aku dikunci di kamar mandi sama mama?" tanya Ayesha kebingungan bercampur dengan rasa takut.

"Maafin bibi ya non, bibi nggak tega sama non Ayesha di dalam kamar mandi kedinginan, terus bibi diam-diam ambil kunci kamar mandi. Untungnya nyonya lagi tidur, jadinya nggak tau, ini Non Ayesha makan dulu, pasti belum makan kan?" ujar Bi Ine pada Ayesha.

Ayesha pun menerima piring yang diberikan Bi Ine, berisi masakan padang favoritnya. Kemudian Ayesha memakan pelan karena tubuhnya terasa perih jika terlalu banyak bergerak. Bagi Ayesha penyiksaan seperti ini sudah ia dapatkan sejak masih kecil, namun ntah kenapa itu masih jadi bagian dari rasa sakit, padahal ia sudah terbiasa dengan semua pukulan, cambukan, yang Airi berikan padanya.

"Bi Ine, makasi ya udah sayang sama aku." ucap Ayesha mengejutkan Bi Ine.

"Iya sama-sama non." balas Bi Ine dengan senyuman.

"Ini udah jam berapa Bi?" tanya Ayesha.

"Ini udah tengah malam Non, habis ini tidur ya, besok mau berangkat ke sekolah apa nggak? Bibi izinin aja ya sama wali kelas, luka Non Ayesha masih belum sembuh." titah Bi Ine khawatir.

Menggelengkan kepalanya. "Nggak Bi, aku mau berangkat sekolah aja, nanti mama tambah marahin aku. Dan kalau sakit aku masih bisa tahan kok, aku kan anak kuat, masa gini doang cengeng sih Bi Ine." balas Ayesha terkekeh.

"Yaudah deh kalau itu maunya Non Ayesha, bibi balik ke belakang ya, Non Ayesha cepat tidur."

Ayesha pun mengangguk, kemudian Bi Ine pergi sambil mematikan lampu tidur. Namun saat Bi Ine pergi, senyum yang ia tunjukkan kepada Bi Ine perlahan memudar, tatapannya kini berubah menjadi tatapan kosong.

Menghela nafas. "Sampai kapan ini berakhir?" ucapnya dalam hati.

Keesokan harinya, Ayesha pun bangun dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Tapi saat melangkah ke luar, suara Airi mengalihkan perhatiannya.

"Lancang banget kamu ya, Bi Ine, udah curi kunci kamar mandi saya nggak bilang-bilang!" teriak Airi pada Bi Ine yang menangis ketakutan, dan bekas tamparan di pipinya.

"Ampun nyonya, ampun. Saya nggak tega sama non Ayesha di dalam kamar mandi pingsan kedinginan."

"AKU NGGAK PEDULI SAMA ITU SI ANAK NAKAL DAN PEMBANGKANG!!!"

Mendengar itu Ayesha segera keluar dan melindungi Bi Ine, dengan melebarkan kedua tangannya.

"Ngapain kamu masih disini? PERGI SANA BERANGKAT SEKOLAH!!!"

"Iya non, non Ayesha mending berangkat sekolah aja dari pada telat loh, ini udah jam berapa."

Meskipun Bi Ine merasa kesakitan, ia tetap menampilkan senyuman manis dan hangat kepada Ayesha, membuatnya tak tega harus meninggalkan Bi Ine sendirian disiksa oleh Airi.

DEAR ARKAN [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang