CHAPTER 12

12K 713 25
                                        

Lagu Clair De Lune milik Debussy mengalun lembut di ruang lukisku, menemaniku melukis sebuah mata di kanvasku. Aku mencelupkan warna abu - abu dan membentuk sebuah pupil mata.

Sebuah ketukan pintu membuatku buru - buru menyembunyikan kanvasku di belakang lemari. Aku menoleh dan menemukan Grace tersenyum kepadaku. "Honey, ada seseorang yang mencarimu."

Aku mengerutkan keningku dan keluar dari ruang lukisku dengan membawa note serta bolpenku. Mulutku membuka ketika menemukan Henry duduk membelakangiku di ruang tamu sambil berbincang dengan Ted. Dia tampak sangat tampan menggunakan sweater berwarna hitam juga celana dengan warna senada.

"Alexa," ujarnya menyapaku bahkan sebelum dia menoleh kepadaku.

Keningku berkerut sekali lagi - bagaimana dia bisa tahu kalau aku adalah orang yang datang tanpa melihatku? Henry menoleh dan tersenyum kepadaku. Ia menatapku dengan salah satu alis terangkat. Aku tiba - tiba merasa tidak nyaman dengan kaos kebesaranku yang penuh dengan bekas warna cat atau rambutku yang terlihat sangat berantakan.

Aku segera mengambil noteku dan menulis.

Apa yang kau lakukan disini?

"Er... kurasa Grace memanggilku," ujar Ted mengangkat tangannya dan keluar dari ruangan. Aku segera memutar bola mataku karena aku yakin tidak mendengar Grace memanggil namanya. Ted melakukannya agar memberi kami berdua privasi.

"Aku mau mengajakmu makan malam bersama," ujar Henry tersenyum.

Err.. apa dia mengajakku kencan? Tiba - tiba, aku merasakan pipiku memanas dan jantungku berdebar dengan kencang. Tenang, Alexa. Dia tidak boleh tahu kalau ajakannya membuatku menjadi seperti ini. Kau tidak boleh memberinya harapan palsu.

Tapi, kita tidak bisa melakukannya. Aku takut ada pihak sekolah atau salah satu murid akan melihat kita jika kau makan bersamaku. Kurasa kau masih tidak ingin kehilangan perkerjaanmu, bukan?

"Tentu saja tidak!" ujar Henry dengan mata berbinar. "Aku akan mengajakmu makan malam di rumahku."

Oke, itu adalah ide yang brillian. Tapi, aku masih tidak ingin memberinya harapan palsu. Aku tahu dia tertarik kepadaku tapi aku tidak yakin bisa membiarkannya masuk ke dalam kehidupanku.

Entahlah... aku akan meminta ijin kepada dad dan mom terlebih dahulu. Aku tidak yakin mereka mengijinkannya.

Senyum Henry menghilang dan menatapku dengan tatapan bertanya. "Aku sudah meminta ijin kepada mereka. Grace malah menyuruh agar kau menginap di rumahku. Apalagi, besok adalah akhir pekan." Mulutku membuka mendengar perkataan Henry. Apa yang dilakukan oleh Grace? Apakah dia berusaha untuk menjodohkanku dengan pria ini. "Tentu saja, kalau kau mau menginap di rumahku."

"Tentu saja dia mau!" ujar Grace dari arah dapur. Grace tersenyum kepada Henry dengan senyum penuh pemujaan. "Aku akan membantu Alexa untuk membereskan bajumu." Lalu, Grace menarikku menuju ke kamarku tanpa aku dapat membalas jawabannya. Aku mulai menulis ketika Grace mulai mengambil tasku dan memasukkan beberapa baju ke dalamnya.

Mom!! Apa yang kau lakukan?

Aku segera menyodorkan noteku dan menatap Grace dengan tatapan bertanya. "Dengar, Alexa. Pria itu tertarik kepadamu dan dia jelas seseorang yang bertanggung jawab. Oh, honey... kurasa dia adalah pria yang tepat untukmu."

Aku masih belum ingin memikirkan seorang pria di kehidupanku. Kau tahu bagaimana masa laluku.

"Honey, agar kau terbebas dari masa lalumu - kau harus bisa membaginya," ujar Grace dengan wajah khawatir. "Kau tidak mau menceritakannya pada kami. Kau juga tidak mau menceritakannya kepada dokter Elly." Aku merasa bersalah ketika Grace menatapku dengan tatapan jenis itu. Aku tidak ingin membuatnya khawatir, tapi aku juga tidak bisa membohonginya. Grace jelas tahu kalau sesiku dengan Elly hanyalah sia - sia. "Aku bisa melihat dari matamu kalau kau juga tertarik dengan Henry. Aku berharap kau bisa membagi masa lalumu dengannya."

Beauty of ProtectionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang