MEMORY FROM CAT OPERA>>>
............................................................................................................
Aku menatap sekelilingku dan memperhatikan semua orang yang berpakaian dengan anggun dan indah. Aku mengenakan dress panjang berwarna ungu tua tanpa lengan. Aku terlihat sangat mahal dan tidak akan ada orang yang menyangkan kalau salah satu penonton opera hari ini adalah seorang wanita yang sedang dikejar – kejar oleh pembunuh gila.
Aku mendatangi seorang pria berjas yang membungkuk kepadaku. "A kann ich helfen?" (a kann ich helfen = ada yang bisa saya bantu?)
Aku menyerahkan tiket pertunjukanku dan tersenyum kepadanya. "Ich war auf der Suche nach einem Platz zum Sitzen." Pria itu mengambil tiketku dan membacanya. (Ich war auf der Suche nach einem Platz zum Sitzen = Saya mencari tempat duduk pertunjukanku.)
"Ja. Folger mi!" ujar pria itu mengangguk lalu mengantarku ke sebuah balcony kosong. Aku menatap dua tempat duduk yang masih terlihat kosong. "Bitte, Fräulein Valentin." (Ja. Folger mi = Baik. Ikuti saya!)
Aku tersenyum kepada pria itu dan duduk dengan tenang di tempatku. Tidak lama kemudian, lampu telah dimatikan tanda pertunjukan akan segera dimulai. Aku menatap kosong pada sekelilingku.
Jika, ini adalah yang diinginkan oleh Dexter untuk kurasakan – maka, dia berhasil membuatku menderita. Seumur hidupku, aku tidak pernah merasa menderita seperti sekarang. Aku merasakan kesepian, kehampaan, keputusasaan dan kemarahan. Saat, aku masih berada di Jerman – aku juga merasakan kehampaan dan ketakutan tapi hal itu tidak membuatku semenderita seperti sekarang.
Sewaktu dulu, aku tidak mempunyai orang yang kusayangi di luar sana sehingga aku merasakan kalau aku sendirian di dunia ini selain mom. Tapi, sekarang aku memiliki banyak orang yang kusayangi. Aku ingin bersama mereka tapi keadaan tidak menyetujui keinginanku.
Aku memejamkan mataku dan menikmati lagu yang sedang dinyanyikan. Tanpa sadar aku memegang perutku, mengingat kembali kebersamaanku dengan Henry dan anakku yang belum lahir. Kebahagiaan sesaat yang akan menjadi kenangan terindah sepanjang hidupku.
Memory... All alone in the moonlight... I can smile at the old days... I was beautiful then... I remember... A time I knew what happiness was... Let the memory live again
"Kurasa kau menyukai opera Cat?" tanya seseorang duduk di sampingku.
Aku tidak menoleh kearahnya dan menatap pertunjukan di depan dengan senyuman sedih. "Aku menyukainya. Bagaimana kabarmu, Gasper?"
"Aku tidak akan pernah terbiasa dengan nama samara bodoh ini." Liam tertawa dan aku hanya memandang lurus ke arah panggung. "Mengapa aku merasakan kalau kau hanya berbasa – basi menyayakan kabarku. Kau ingin tahu kabar mereka berdua?" Aku mengalihkan perhatianku dari pertunjukan di depan dan menatap Liam dengan senyuman kecil. "Henry mendapatkan nilai tertinggi di tempat kuliahnya dan kurasa tahun depan dia sudah mendapatkan ijin prakteknya. Aurely akan mengikuti kursus balet minggu depan. Dia suka menari."
Aku tersenyum. "Benarkah? Mereka terlihat bahagia."
"Apakah kau sudah menghubungi keluarga Harvard? Orang tua dan adikmu terus bertanya kepada Noah mengapa kau tidak menelepon mereka..."
"Aku memang tidak berniat untuk menghubungi mereka lagi," ucapku pelan.
Liam menatapku. "Bisakah aku mengubah pemikiranmu?"
"Tidak. Itu hakku untuk memutuskan apakah aku ingin menelepon mereka atau tidak."
"Kau memerlukan seseorang untuk mendengarkanmu....."
KAMU SEDANG MEMBACA
Beauty of Protection
RomanceHenry adalah api, dan Alexa adalah es. Dua orang yang berbeda dipertemukan oleh sebuah takdir. Bagaimana jika dari awal mereka memang tidak boleh bersatu, tapi mereka memaksakan takdir atas nama cinta. Dapatlkah perlindungan yang ditawarkan oleh Hen...
