Kata mati mungkin adalah sesuatu yang menyenangkan untukku. Apakah aku harus mengakhiri hidupku saat ini? Pemikiran ini normalnya tidak akan terpikirkan oleh seorang yang berumur lima tahun. Sejak awal, aku tau otakku berada di atas rata-rata dibandingkan anak normalnya yang kujumpai. Maksudku orang-orang seumuranku yang menjadi korban dad, mereka akan menangis dan berteriak memanggil orang tua mereka. Mungkin merekalah yang normal, akulah yang aneh. Aku berjengit melihat penyiksaan yang dilakukan ayahku dan kakakku kepada mereka, tapi aku tidak pernah menangis. Saat akulah yang disiksa, aku akan menjerit dan menangis kesakitan tapi tidak pernah memanggil mom untuk menolongku.
Bukan otakku yang diatas rata-rata, tapi mentalku yang seperti orang dewasa.
Selama ini aku berusaha untuk melanjutkan hari demi hari penuh penderitaan ini hanya karena keberadaan mom, satu-satunya orang yang menyayangiku tapi sekarang dia sudah meninggalkanku. Lalu apa gunanya aku hidup lagi? Sejak lahir, aku selalu berada dalam penjara tidak kasat mata ini dan aku tidak bisa membayangkan masa depanku.
Apakah aku akan bersekolah? Ya, dad pasti akan menyekolahkanku di rumah.
Apakah aku akan memiliki teman? Tidak, mana ada orang normal yang memperbolehkan anaknya berteman dengan orang berbahaya seperti diriku.
Apakah aku akan mati perlahan karena penyiksaan Dexter? Selama dad masih hidup, Dexter tidak akan berani menyiksaku hingga membahayakan nyawamu. Nyawaku masih memiliki harga untuknya.
Apakah aku akan menjadi seperti mereka, menculik dan membunuh? Mungkin saja, itu adalah satu-satunya caraku bertahan hidup. Mungkin, akan mudah bagiku untuk melakukannya. Bagaimanapun darah mereka mengalir di tubuhku. Aku menggelengkan kepalaku dengan cepat. Aku tidak ingin menjadi seperti mereka berdua, menjadi seorang monster. Lebih baik, aku meninggalkan dunia ini dibandingkan perlahan aku menjadi seseorang yang tidak kukenal.
Cara paling mudah untuk bunuh diri adalah meminum racun. Dexter menyimpan banyak macam racun di dalam laboratarium sebagai alat penyiksaannya tapi aku tidak memiliki akses untuk masuk ke tempat itu. Pisau adalah alat yang paling sering kulihat, mungkin aku bisa memutuskan nadiku dengan pisau. Rasanya tidak mungkin sesakit saat Dexter menyiksaku, bukan?
Rencana membunuh diriku terhenti ketika seorang wanita masuk ke dalam kamarku dengan keranjang besar di tangannya. Ia menggunakan dress hitam dibawah lutut, pakaian yang menandakan dia adalah salah satu pelayan di rumah ini. Keningku berkerut menyadari kehadirannya, ini bukanlah waktu untuk membersihkan kamar dan aku tidak pernah memanggil pelayan.
"Fraulein Brianna," ucapnya dengan aksen yang sangat aneh. "Saya sudah menyiapkan makanan untuk dihabiskan di taman." Aku menatapnya dengan bingung, tapi wanita ini melebarkan matanya menyuruhku untuk mengikuti permaianannya. Dari sudut matanya, Ia melirik kearahku dan pintu secara bergantian. Aku melirik sekilas CCTV yang memang terpasang di berbagai sudut di kamar untuk mengawasi kegiatanku. "Fraulein Brianna?"
"Ya, aku akan bersiap-siap sebentar lagi!" ucapku dengan wajah datar sambil membawa beberapa bukuku sebagai kamuflase.
Kami berdua keluar dari kamarku, pelayan itu berjalan di belakangku dengan wajah menunduk. Aku mengenalnya, dia adalah pelayan selalu memersihkan kamar mom dan beberapa kali tampak menemaninya. Kurasa dia adalah salah satu pelayan favorit mom di rumah ini. Apa yang diinginkan olehnya?
Kami berdua sampai di taman belakang, tapi seorang pria berwajah sangar menghalangi kami berdua untuk masuk. "Saya harus memeriksa keranjang yang dibawa olehnya, Fraulein Brianna."
Aku melihat wajah pelayan disampingku terlihat datar, jadi menurutku dia tidak menyembunyikan sesuatu yang berbahaya di dalam sana. "Silahkan!" ucapku singkat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Beauty of Protection
RomanceHenry adalah api, dan Alexa adalah es. Dua orang yang berbeda dipertemukan oleh sebuah takdir. Bagaimana jika dari awal mereka memang tidak boleh bersatu, tapi mereka memaksakan takdir atas nama cinta. Dapatlkah perlindungan yang ditawarkan oleh Hen...
