CHAPTER 13

10.1K 695 14
                                        

Aku merasakan sinar matahari menyelimuti tubuhku. Mataku mengerjap dan tanpa sadar bibirku tersenyum. Kemarin malam, aku dan Henry menghabiskan waktu menonton televisi hingga larut malam dan akhirnya aku tertidur di sofa dengan dia memelukku. Seperti yang sudah pernah terjadi, saat aku tertidur di pelukannya – aku tidak memimpikan kenangan burukku. Apa yang salah denganku? Apa yang terjadi dengan otakku? Mengapa hanya Henry yang bisa membuatku melupakan mimpi burukku? Apa arti semua ini?

Aku membuka mataku dan keningku berkerut ketika aku menyadari kalau aku tidak lagi berada di sofa tetapi di sebuah ruangan yang kukenal. Aku menghirup bau musk yang sangat kukenali dari ruangan ini. Bau khas Henry. Aku mengenali tempatku tertidur sebagai kamar tidur milik Henry. Sepertinya, pria itu menggendongku ke dalam sini.

Aku tersenyum ketika melihat setangkai bunga mawar terletak di samping bantalku. Dan, aku melihat sebuah note terletak di dekatnya.

I think that love is stronger than habits or circumstances. I think it is possible to keep yourself for someone for a long time, and still remember why you were waiting when she comes at last.... I would enter your sleep if I could, and guard you there, and slay the thing that hounds you, as I would if it had the courage to face me in fair daylight. But I cannot come in unless you dream of me.

Aku terdiam sesaat setelah membaca note dari Henry. Apakah dia mencintaiku? Tapi, kami belum saling mengenal. Aku menggelengkan kepalaku dan berusaha menjernihkan otakku. Jangan banyak berharap, Alexa.

Aku tidak melihat keberadaan Henry dalam ruangan ini. Aku segera turun dari ranjang dan keluar dari ruangan ini untuk mencari keberadaannya. Saat aku di luar – aku mendengar gumanan dari ruang tamu. Perlahan, aku berjalan menuju ruang tamu dan mendengar Henry berbicara dengan seseorang. Sesaat, aku sudah akan kembali ke tempat tidur Henry untuk berjaga – jaga bersamaan dengan saat tamu Henry berbicara. Suara yang sangat kukenal.

"Apakah kau mau menemaniku untuk pergi ke dokter kandungan, Henry?" tanya suara itu. "Aku membutuhkan sahabatku untuk memeriksa kandunganku."

Aku segera mengintip ruang tamu dan melihat Elly duduk membelakangiku dan wajah Henry yang tampak tidak enak. "Entahlah, Elly. Kurasa itu ide yang sangat buruk."

"Ayolah, kau tidak memiliki kekasih yang akan cemburu kepadamu karena mengantarku," ujar Elly dengan riang. Aku merasakan hatiku memanas mendengar permintaan Elly. Damn it! Henry tidak perlu mengantarkan wanita lain ke dokter kandungan, dia memiliki tanggung jawabnya sendiri kepadaku. "Aku hanya membutuhkan seorang sahabat untuk mendukungku."

Aku bisa melihat wajah Henry yang terlihat semakin tidak nyaman. Aku bisa menduga dia akan menyetujui permintaan Elly. Aku tidak akan membiarakannya melakukan hal itu. Dipenuhi dengan perasaan aneh yang tidak pernah kurasakan sebelumnya, aku melangkah masuk ke dalam ruang tamu.

Seperti merasakan kehadiranku, Henry segera menatapku dengan mata membesar. Dia sepertinya tidak menyangka kalau aku akan menampakan diriku di depan Elly. Beberapa detik kemudian, Elly memutar tubuhnya dan menatapku dengan mulut terbuka karena terkejut.

"Alexa, apa yang kau lakukan disini?" tanyanya dengan bingung. Elly menatapku dan Henry bergantian dengan tatapan bertanya.

Aku berjalan kearah mereka dan mengambil kertas yang berada di atas meja samping sofa.

Ceritakan kepada Elly! Semuanya!

Aku memberikan kertas itu kepada Henry yang masih tampak terkejut. Dia berdehem pelan dan menatap Elly dengan tatapan serius. "Begini... er... Alexa hamil!"

"Excuse me?" tanya Elly menatap perutku dengan tatapan terkejut.

"Dia mengandung anakku," bisik Henry menjatuhkan bom kedua.

Beauty of ProtectionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang