CHAPTER 15

9K 601 18
                                        

Angin dingin segera menerpaku setelah aku menginjakkan kakiku di Dublin. Aku bernafas dengan lega ketika aku sampai di kota ini. Walaupun kondisi Ted sudah mulai membaik tapi hal itu tidak membuatku merasa tenang sedikitpun. Jantungku selalu berdetak dengan kencang, seolah – olah siap untuk menerima kejutan yang tidak menyenangkan.

Ditambah dengan perilaku Henry yang semakin posesif kepadaku. Ia menolak untuk meninggalkanku dan selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Hanya saat di sekolah saja dia tidak bisa berada di sampingku. Tapi, aku bisa merasakan tatapan matanya yang selalu mengikutiku. Saat pulang sekolah pun, dia tidak mengijinkanku untuk pulang sendiri semakin membuatku takut kalau suatu saat akan ada orang lain yang melihat kami pulang bersama.

Ted bahkan malah menyetujui perilaku Henry dan menyuruh Henry untuk terus menempel kepadaku. Perilaku mereka berdua malah membuatku semakin curiga dengan apa yang terjadi.

"Apa kau sudah siap, Alexa?" tanya Henry membuatku tersentak dari lamunanku.

Aku menatap bangunan di depanku dan mulutku menganga. Di bandingkan dengan rumah Henry di New Jersey, rumah orang tua Henry sangat sederhana tapi aku bisa melihat kesan nyaman. Rumah orang tua Henry terbuat dari kayu dan aku bisa melihat taman kecil di depan rumahnya – pasti ibu Henry sangat menyukai bertaman.

Aku mengambil noteku dan menulis.

Kau benar – benar sudah memberitahu orang tuamu kalau kita akan datang, bukan?

"Ya, tentu saja!" ujar Henry membaca tulisanku dengan lalu. Ia sibuk membawa koper kami berdua dari bagasi mobil pribadi milik keluarga Presscot.

Aku segera memperlihatkan tulisanku selanjutnya di depan mataku, membuat Henry agak jengkel.

Kau sudah memberitahu mereka kondisiku, bukan?

"Alexa berhenti mencemaskan reaksi mereka terhadapmu. Kau sempurna dan mereka pasti menyukaimu walaupun kau tidak bisa berbicara," ujarnya dengan marah.

Tentu saja, dia akan jengkel karena sepanjang perjalanan kami ke Dublin – aku selalu bertanya tentang hal yang sama. Siapa wanita yang tidak akan takut bertemu dengan calon mertuanya jika kondisi wanita itu tidak sempurna. Apalagi Henry adalah seorang pria yang sempurna dan memilki masa depan yang cerah.

"Maafkan aku, berbicara kasar kepadamu," ujar Henry tepat di depan pintu masuk rumah orang tuanya. Ia menarikku dan mencium dahiku. "Tapi, aku akan marah jika kau berani untuk merendahkan dirimu karena kau sangat sempurna di mataku. Oke?" Aku menganggukan kepalaku. "Mari kita hadapi mom yang sekarang pasti sudah menyadari kedatangan kita berdua."

"Henry, kau kah itu?" tanya seorang wanita membuka pintu rumahnya. Ia langsung memekik dan memeluk Henry dengan erat. "Oh my God. Mom sangat merindukanmu."

"Mom, lepaskan," ujar Henry tidak bisa bernafas karena pelukan ibunya yang begitu erat. Wanita itu segera melepaskan pelukannya dari Henry dan menatapku dengan wajah penuh keingintahuan. "Kita baru saja berpisah setengah tahun dan kau sudah menyambutku seakan – akan aku sudah pergi bertahun – tahun."

Tapi wanita itu tidak menganggap perkataan Henry dan Ia langsung memelukku dengan erat, membuatku terkejut. Aku menatap Henry meminta pertolongannya, tapi pria itu hanya tersenyum dan menatap kami berdua dengan tatapan sayang. Mungkin, ini adalah pertanda kalau ibu Henry mungkin saja menyukaiku.

"Senang sekali bertemu denganmu, Alexa," ujar wanita itu tersenyum kepadaku. Baru kali ini, aku sangat memperhatikan ibu Henry. Wanita yang mungkin berumur di penghujung empat puluhan ini, memiliki rambut berwarna pirang dan mata berwarna abu – abu yang sangat hangat, persis seperti mata Henry. "Akhirnya, Henry berhenti untuk bermain di luar sana dan membawa seorang wanita ke rumah."

Beauty of ProtectionCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang