BAB 39: Season 2

700 42 2
                                        


Aroma masakan tercium dari dapur membuat Julian yang hendak pergi ke kamar langsung menghentikan langkahnya. Julian langsung berbalik dan pergi ke dapur.

Rumah yang baru dua minggu ini dia tempati bersama Yura hanya di isi oleh banyak pengawalan yang berdiri di luar rumah, sisanya hanya juru masak dan seseorang yang membersihkan rumah, itupun mereka datang di jam tertentu.

Hari masih siang, bukan saatnya juru masak membuat makanan. Jika ada yang memasak, itu artinya Yura yang tengah memasak karena akhir-akhir dia melakukan apapun yang bisa dia lakukan.

Langkah Julian yang tanpa suara itu perlahan terhenti.

Bola mata Julian yang berwarna hijau cerah itu terlihat berbinar, pria itu bersandar pada sisi kusen pintu dan berdiri di ambang pintu melihat Yura yang tengah membelakanginya.

Bibir Julian menyunggingkan senyuman. Selalu ada perasaan senang yang menyelimuti hatinya setiap kali melihat Yura berada di tempat di mana Julian tengah butuh istirahat.

Cukup dengan melihat keberadaan wanita itu, suasana hati Julian langsung menjadi lebih baik.

Julian tahu bahwa Yura menikah dengannya sepenuhnya karena terdesak atas ancaman di bawah permainannya, di sisi lain Julian juga tahu bahwa kini Yura memiliki perasaan kepadanya, yang menjadi masalah Julian adalah dia tidak tahu sebesar apa perasaan Yura kepadanya karena Julian sendiri sudah memberikan seluruh hatinya kepada wanita itu.

Bukan masalah untuk Julian jika Yura belum begitu memiliki perasaan yang kuat padanya, setidaknya kini Yura sudah berada di genggamannya.

Julian berdeham sedikit kencang membuat Yura tersentak kaget dan langsun berbalik melihat ke belakang, ekspresi kaget di wajah Yura berubah karena kini wanita itu tersenyum.

Wajah Julian memerah tersipu malu. Jatuh cinta membuat dia terkadang menjadi bereaksi berlebihan, hanya dengan melihat yang tersenyum kepadanya saja Julian sudah di buat malu.

Yura jarang berbicara baik kepada Julian karena dia terlalu jujur, kerap kali Yura juga memasang ekspresi dingin, dia juga jarang tersenyum, karena itu Julian merasakan sesuatu yang bergejolak dan belebihan di hatinya ketika Yura tersenyum kepadanya.

"Kenapa kau pulang lebih cepat?" tanya Yura terbata.

Kening Julian mengerut samar. Perlahan Julian mendekat karena penasaran. "Harusnya kau menyambutku, bukan bertanya seperti itu."

"Aku hanya kaget."

Julian bersedekap, dia melihat apa yang Yura masak melalui sudut matanya. "Apa yang kau buat?" tanya Julian.

Repleks Yura menggeser piring hitam yang berada di belakannya ke sisi tubuhnya agar tidak dapat di lihat oleh Julian, Yura terlihat gelapakan dengan wajah memerah malu karena berniat membuat kudapan Belarus honey baked apples.

Yura membuatnya karena dia senang akhirnya bisa pergi keluar dengan bebas dan berkuda, namun rencananya membat kudapan asal Belarus itu ternyata tidak semudah apa yang dia pikirkan.

Dua jam dia berkutat di dapur, dan hasil dari apa yang dia kerjakan tidak seindah rencananya. Yura malu, dia berencana memberikannya kepada Julian, namun dia tidak menyangka jika Julian lebih cepat dari apa yang dia pikirkan jadi Yura tidak memiliki waktu untuk memperbaiki makanan yang di buatnya itu.

"Kenapa kau menyembunyikannya?" tanya Julian.

"Tidak apa-apa," jawab Yura yang semakin menggesernya.

Julian tersenyum geli, dia merasa tergoda untuk mendekat dan melihat lebih dekat apa yang membuat Yura menjadi malu. Jarang sekali Julian menangkap ke tidak sempurnaan wanita itu.

CRAZY RICH MAN 18+ (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang