17. Hadiah

12.3K 630 73
                                        

***

Author

"Boleh aku memelukmu?" Bisik Julian tanpa menjawab pertanyaan Yura. Sejenak Yura meragu, namun melihat luka di mata Julian, Yura duduk di sampingnya dan merengkuh bahu kokoh pria itu dan membawanya kedalam pelukannya.

Kedua mata Julian terpejam, memeluk Yura dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher gadis itu. Julian tidak ingin menunjukan sisi terlemah dalam dirinya kepada siapapun. Namun, terkadang dia sudah tidak tahan untuk tetap sendirian dan kesepian dengan rasa sakitnya. Julian membutuhkan sandaran.

Tubuh Yura membeku, merasakan tarikan Julian di pinggangnya, namun dia tidak melawan sedikitpun dan mengikuti nalurinya untuk mengusap rambut Julian dengan lembut.

"Ini sangat memalukan. Berpura-puralah untuk tidak melihatnya" bisik Julian terlihat malu.

"Semua manusia di muka bumi ini memiliki masalah" jawab Yura dengan tenang, Julian melepaskan pelukannya dan mengangkat kepalanya. Memandang Yura dalam jarak yang sangat dekat hingga Yura bisa merasakan sapuan hangat nafas Julian di pipinya.

Yura berkedip beberapa saat, "Kita tidak akan pernah menang dari rasa kesepian. Dan rasa kesepian datang ketika kau tidak tahu tempat pulang, karena tempatmu pulang adalah tempat dimana ada orang yang memikirkanmu."

Tubuh Julian menegang, perkataan Yura sangat menyakitkan namun itu adalah sebuah kebenaran yang terjadi.

Julian tidak memiliki tempat untuk pulang, kesuksesan, ketenaran, uang, wanita dan ilmu pengetahuannya tidaklah bisa membuatnya tidak merasa kesepian.

"Jika kau merasa ingin tidak kesepian lagi" ucap Yura lagi, mengunci tatapannya pada Julian. "Belajarlah mencintai seseorang, dengan begitu kau merasa memiliki sesuatu yang berarti dan memiliki alasan untuk bertahan."

Ucapan Yura kembali menguncang fikiran Julian, namun kali ini dari sisi yang berbeda. Gadis itu mengatakannya dengan sangat tulus, Julian merasakannya dengan kuat hingga berefek pada detak jantungnya yang berdebar.

Yura meringis kesakitan, ia bangkit dari duduknya dan mengulurkan tangannya. "Sebaiknya kita pulang, ayo."

Lagi, dan lagi. Julian tertegun dengan detak jatung yang berdebar sangat cepat, melihat uluran tangan kecil Yura.

Perlahan bibir Julian terangkat membentuk senyuman, kemurungan dan kesedihannya langsung pupus. Julian yang nakal telah kembali ketika meraih tangan Yura.

"Mau melihat salah satu pabrikku?" Tawar Julian.

***

Daratan luas lapangan di penuhi mobil-mobil box pengangkut yang berjajar rapi, para pekerja berseragam mengendarai pengangkut lainnya.

Mobil Julian menepi di pintu utama.

Seorang pria yang menjabat sebagai direktur  berdiri menyambut kedatangannya.

Julian segera keluar terlebih dahulu, mengabaikan orang tersebut yang membungkuk memberi hormat padanya. Julian berlari memutar, membukakan pintu untuk Yura.

Baru satu kaki, Yura menapakannya di lantai, dia sudah di buat berdecak kagum, kedua matanya membulat sempurna, terperangah, melihat interior langit-langit pabrik.

"Tahan kekagumanmu" kekeh Julian sedikit menggoda, tangan kecil Yura menggenggamnya dengan erat saat gadis itu keluar mobil sepenuhnya.

"Selamat datang tuan" sambut Frescot dengan senyuman lebar yang menambah keriput di wajahnya.

CRAZY RICH MAN 18+ (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang