Yura menelan salivanya dengan kesulitan, kengerian terlihat jelas di raut wajahnya melihat tumpukan dokumen yang di bawa Robin. Gulungan kertas besar tertumpuk di sisi meja yang berisikan peta-peta rumah.
Robin, pria itu berdiri di depan layar putih yang menampilkan beberapa video.
"Nyonya, silahkan Anda buka dokumentnya, saya akan menjelaskan dan memberitahu pilihan semua rumah Tuan Julian yang ada di negeri ini, beberapa di antaranya ada panthouse. Setelah ini saya baru akan memperlihatkan keberadaan rumah yang berada di beberapa negara yang kemungkinan bisa Anda tempati di dalam waktu lama jika Anda ingin tinggal di sana," kata Robin yang akan memulai presentasinya layaknya sebuah rapat resmi.
"Anda bisa memilih arsitek yang ingin Anda hubungi jika nanti ada yang ingin Anda renovasi. Kita bisa memulainya sekarang?" tanya Robin dengan senyuman lebarnya, namun kerutan di bawah matanya melukiskan lelah yang tidak terbendung.
Yura menarik napasnya dalam-dalam, dia memperhatikan kantung mata Robin yang menghitam memperlihat betapa lelahnya dia mengurus banyak hal. Ada sepercik penyesalan yang Yura rasakan seketika karena di terlalu cepat membicarakan rumah dengan Julian.
"Di mana assistant Julian yang lain?" tanya Yura.
"Sedang sibuk bekerja. Anda membutuhkan bantuan siapa Nyonya?" Tanya balik Robin masih bersikap tenang seakan kelelahan yang dia rasakan adalah hal yang sudah biasa dalam hidupnya sejak bekerja di bawah Julian.
Yura menggeleng dan tersenyum.
"Robin"
"Ya, Nyonya?"
"Aku akan memeriksanya sendiri, kau tinggal memberitahu rumah yang aku pilih nanti. Setuju?"
"Tapi Nyonya, Tuan Julian berpesan saya harus memberitahu semuanya dengan detail."
"Tapi yang aku mau bukan itu Robin" jawab Yura dengan tegas membuat Robin tertunduk. "Ini sudah memasuki jam istirahat, mungkin aku akan memilihnya cukup lama, selama menunggu kau pergilah keluar dan beristirahat dengan yang lainnya untuk makan siang. Kau setuju?."
Robin menghembuskan napasnya tampak sangat lega seolah bebannya berkurang begitu saja hanya dengan mendengar pertanyaan Yura yang penuh perhatian. Dengan malu Robin mengangguk.
"Terima kasih atas perhatian Anda, Nyonya."
"Pergilah."
Robin mengangguk, sesaat dia membungkuk memberi hormat.
Yura bisa memilih dan melihat satu persatu tempat tinggal yang ada di dalam tablet, sementara Robin bisa sejenak beristirahat sambil makan siang.
Yura malas banyak bertanya kepada Julian dan mengkritik kebiasaannya yang gila kerja dan ingin segalanya berjalan dengan cepat. Sesibuk apapun Julian, lelahnya tidak akan melampaui Robin karena Robin adalah kaki tangannya yang lebih banyak bergerak mengerjakan semua perintahnya.
Sejauh yang Yura ketahui, Julian memiliki lebih dari tiga asistant yang selalu berada di kantor pusat, sementara Robin assistant yang paling di percaya untuk selalu berada di sisi Julian. namun dari sekian banyak assistant yang Julian miliki, keberadaan mereka seakan belum cukup sama sekali jarena mereka terlihat sanagt lelah satu sama lainnya.
Yura benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya membuat semua orang sangat kacau dan begitu sibuk.
Yura menghargai betapa gila kerja dan pekerja kerasnya seorang Julian Giedon. Semua kesombongan yang keluar dari mulutnya sebanding dengan usahanya. Namun ada saatnya Yura ingin Julian menyadari bahwa yang membutuhkan istirahat bukan hanya Julian saja, namun juga orang-orang seperti Robin juga lebih membutuhkannya karena mereka tidak hanya melayani pekerjaan masalah bisnis saja, namun juga tugas-tugas konyol Julian.
KAMU SEDANG MEMBACA
CRAZY RICH MAN 18+ (END)
RandomSemua orang selalu menganggapnya pria gila. Julian Giedon, pria yang pandai menghasilkan uang dengan kegilaannya yang menjadikannya salah satu pria terkaya di dunia. Julian suka pesta dan kebebas dalam hidup dan berpikir, dia adalah bad boy terfavo...
