Zidan berlari kecil di koridor sekolah, memang saat ini sekolah masih terbilang sepi karena jam baru saja menunjukkan pukul setengah tujuh. Tapi karena ia harus menyapu kelasnya sebelum teman temannya datang, jadi ia sedikit terburu buru sekarang.
Kaki Zidan mulai menginjakkan tangga satu persatu karena terburu buru, kelasnya ada di lantai dua gedung B. Namun, tepat di tangga terakhir Zidan dapat melihat dua lelaki yang bersedekap dada sambil menatapnya, sudah dipastikan mereka sedang menunggu kedatangannya saat ini.
Dengan senyum miring yang tercetak di wajahnya, salah satu lelaki itu maju satu langkah mengikis jarak dengan Zidan yang berdiri di depannya.
"Duit." Lelaki itu menyodorkan tangannya, namanya Praja.
Tanpa berkomentar Zidan langsung merogoh saku seragam osis nya dan menyerahkan selembar uang sepuluh ribu. Setelahnya Zidan berniat untuk langsung melenggang, namun seragamnya langsung ditarik oleh lelaki di depannya itu.
Praja tersenyum miring, "Tiap hari lo ngasih gue sepuluh ribu, tapi gue yakin uang jajan lo nggak segini. Mungkin lo bisa bohongin Lukas, tapi lo nggak bisa bohongin gue."
"Uang jajan gue memang sepuluh ribu."
Bugh!
Zidan langsung memegangi perutnya karena Praja yang memukulnya tanpa aba aba, untung saja ia tak terhuyung ke belakang, mengingat saat ini Zidan masih berada di tangga paling atas.
Praja maju satu langkah lebih dekat dengan Zidan, "Lo nggak mau abang kesayangan lo kenapa napa kan? Atau cewek tuli lo itu--"
"Bukankah lo udah janji Pra?"
Lagi lagi Praja tersenyum miring, "Well?"
Zidan menghembuskan napasnya pasrah, tangannya merogoh satu celana abu abunya, menyerahkan selembar uang sepuluh ribu kepada Praja.
"Jangan ganggu mereka."
Setelahnya Zidan langsung melenggang dari hadapan Praja yang malah terkekeh pelan. Dan ternyata setelah Zidan menginjakkan kakinya di tangga paling atas, kaki Lukas sengaja menghalangi jalannya yang membuat ia jatuh terjerembab ke depan.
"Ini yang mau jadi pahlawan kesiangan?" tanya Lukas yang berjongkok di depan Zidan.
Tanpa berniat untuk menjawab, Zidan langsung bangkit dari duduknya. Namun saat ia berniat untuk melenggang, Lukas langsung menarik tas punggungnya dan.
Bugh!
Lanpa aba aba Lukas mendaratkan bogem mentah di pipi kanan Zidan yang membuat pipi sang empu langsung membiru.
"Lo bodoh dan nggak bisa ngapa ngapain, emang pantes kalo lo selalu dimanfaatin."
"Satu lagi, lo juga cowok penyakitan!" imbuh Praja yang bersedekap dada sambil menatapnya remeh.
Praja dan Lukas langsung meledakkan tawanya seolah perkataan keduanya adalah lelucon yang sangat lucu dan sayang jika tidak ditertawakan, setelahnya mereka langsung melenggang meninggalkan Zidan yang masih terdiam memegangi pipinya.
Zidan menatap punggung kedua lelaki itu dengan tersenyum getir, "G-gue bodoh."
Tanpa mengulur ngulur waktu lagi Zidan langsung bergegas menuju ke kelasnya, nasibnya akan buruk jika ternyata sudah ada temannya yang datang. Setelah sampai di depan pintu bertuliskan XII IPS 4 dugaannya benar, ia dapat melihat ada tiga temannya yang sedang menyapu kelas.
Duk!
Sebuah kertas yang digulung berbentuk bola mendarat tepat mengenai kepala Zidan.
"Mana janji lo sialan!"
KAMU SEDANG MEMBACA
365 Pages
Novela Juvenil"Mau sekeras apapun lo berusaha, lo nggak bakalan bisa. Karena lo Jidan, bukan Candra." ©arnnisa2022
