Langsung aja, selamat membaca part-part akhir.
Pagi itu, suasana kampus terasa berbeda. Gedung-gedung tinggi yang biasanya dipenuhi oleh mahasiswa, kini dipenuhi oleh para wisudawan yang mengenakan toga, jas dan juga kebaya, dengan senyum penuh kebanggaan di wajah mereka. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, meja-meja registrasi untuk keluarga dan tamu undangan tampak rapi, sementara di belakangnya, panggung besar dengan layar lebar siap menampilkan wajah para wisudawan satu per satu.
Di salah satu sudut kampus, Aurissa berdiri bersama sahabatnya, Retha. Mereka berdua mengenakan toga hitam, dengan pita emas yang menyilang di dada. Alya menatap penuh haru ke arah gedung utama yang sekarang menjadi saksi dari perjuangan panjangnya selama ini.
"Akhirnya... kita sampai di sini, ya," ujar Retha, suaranya bergetar sedikit, meski senyumannya tak bisa disembunyikan.
Aurissa mengangguk, meremas tangan sahabatnya. "Ini bukan hanya untuk aku, Ini juga untuk kita semua. Kita sudah berjuang bersama."
Retha tertawa pelan, meski matanya mulai berkaca-kaca. "Iya, kita hampir lupa betapa kelimpungannya beberapa bulan terakhir. Tapi lihat sekarang, semua kerja keras itu akhirnya terbayar."
Acara wisuda dimulai dengan upacara yang formal dan penuh khidmat. Ratusan mahasiswa dan mahasiswi duduk rapi di kursi yang sudah disediakan, sementara keluarga dan teman-teman mereka menyaksikan dengan bangga dari kursi penonton. Suara paduan suara kampus mengalun lembut, mengiringi para wisudawan yang berdiri dengan penuh kebanggaan di tempat mereka masing-masing.
"Aurissa Zenya Rosaline"
Saat giliran Aurissa tiba, nama lengkapnya dipanggil dengan jelas oleh pembawa acara. Aurissa berjalan maju dengan langkah pasti, meski hatinya berdebar tak teratur. Setiap langkahnya terasa berat, namun penuh makna, seolah-olah ia sedang melangkah menuju babak baru dalam hidupnya. Di bawah sorotan lampu panggung, wajah-wajah keluarga dan teman-temannya tampak bangga.
Dekan Fakultas yang memberi sambutan berdiri menanti dengan senyum hangat. "Selamat, Aurissa. Kamu telah melalui perjalanan yang luar biasa. Semoga langkahmu ke depan membawa banyak kebahagiaan dan kesuksesan."
Aurissa menerima ijazah itu dengan tangan gemetar, lalu tali toga dipindahkan dari kiri ke kanan yang memiliki makna simbolis bahwa seorang mahasiswa telah menyelesaikan masa belajarnya dan siap terjun ke masyarakat.
Mata Aurissa bersinar penuh kebahagiaan "Terima kasih," jawabnya, suara lembut namun penuh arti. Ia kembali ke tempatnya, duduk di kursi dengan perasaan campur aduk bahagia, lega, sekaligus penuh harap akan masa depan yang menantinya.
Acara wisuda sudah memasuki bagian terakhir, dan Aurissa merasa seolah-olah langkahnya semakin ringan dengan setiap detik yang berlalu. Ijazah yang baru saja ia terima masih terasa berat di tangannya, bukan karena beban, tetapi karena beratnya segala kenangan yang terkumpul selama bertahun-tahun di kampus ini. Semua perjuangan, tawa, tangis, dan kerja keras, akhirnya terbayar di hari ini.
Setelah upacara selesai, para wisudawan berkumpul bersama keluarga dan sahabat. Aurissa mencari keluarganya di kerumunan. Begitu mereka bertemu, Mama dan Papa Aurissa memeluknya dengan penuh kehangatan. "Papa sangat bangga padamu, Nak. Semua yang kamu capai hari ini adalah hasil dari kerja kerasmu."
Aurissa menatap kedua orangtuanya dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Mah Pa." Aku tidak akan pernah melupakan setiap pengorbanan kalian."
Lalu Ben, Daren dan Raline memeluk dan memberi selamat Aurissa secara bergantian. Setelah itu mereka mengantri untuk melakukan sesi foto dengan spot yang sudah disediakan.
Tepuk tangan dan teriakan bahagia terdengar saat teman-teman Aurissa berkumpul di sekelilingnya. Retha, Kevin dan Liyong juga beberapa sahabat lainnya merayakan dengan penuh kegembiraan, saling berbagi cerita juga rencana masa depan.
Di tengah kerumunan, ia melihat sosok itu, Eldern, calon suaminya, berdiri di sisi pintu aula. Aurissa tertegun sejenak, seolah tak percaya. Eldern yang seharusnya tak bisa datang karena kesibukan kerjanya, kini ada di sana, mengenakan jas rapi dengan senyuman lebar yang selalu berhasil membuat jantung Aurissa berdegup lebih cepat.
Eldern melambaikan tangan, menyapanya dengan penuh semangat.
Aurissa merasa matanya berkaca-kaca, dan dalam sekejap, kakinya bergerak tanpa sadar, mendekat ke arah Eldern. Dia seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar mereka, dunia hanya milik berdua yang lain pindah ke mars.
"Kak Eldern ko...?" Aurissa bertanya dengan suara bergetar, tidak percaya. Pasalnya karena kesibukan kerja menjelang pernikahannya yang tinggal sebulan lagi, mereka terhitung sudah tiga minggu tidak bertemu, Eldern sibuk dengan ekspansi produknya ke luar negeri, ia ingin semuanya beres sebelum hari penting itu tiba, jadi dia benar-benar memadatkan kerjanya sehingga waktu bertemupun tak ada.
Eldern tertawa, langkahnya cepat, dan dalam sekejap dia meraih tangan Aurissa. "Tentu saja kakak datang. Ini hari spesial kamu, bagaimana bisa kakak melewatkannya?" katanya, matanya bersinar dengan kebanggaan.
Aurissa memandang Eldern dengan penuh emosi. “Tapi... kakak bilang nggak bisa datang karena masih ada kerjaan di Sidney.”
Eldern mengangkat bahu santai. "Kerjaan bisa diatur. Tapi, hari ini kakak nggak bisa melewatkan hari pentingmu, kamu sudah berjuang keras, dan kakak ingin menjadi bagian dari momen ini."
Mata Aurissa mulai berkaca-kaca, dan dalam sekejap, ia tak bisa menahan perasaan bahagianya. Ia memeluk Eldern erat, merasakan kenyamanan yang selalu ia dapatkan dari pelukannya.
"Terima kasih sudah datang," bisik Aurissa, suaranya hampir hilang di antara tawa dan sorakan di sekitar mereka.
Eldern tersenyum, menepuk punggung calon istrinya dengan lembut. "Kakak nggak mau ketinggalan moment bahagiamu, dan juga aku kangen banget sama kamu."
Aurissa menatapnya, tersenyum dengan mata yang bersinar. "I miss you too" jawabnya, masih sedikit terharu.
Tiba-tiba, Eldern merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil. Aurissa menatapnya, kebingungannya semakin bertambah. "Apa itu?" tanyanya dengan suara penuh tanya.
Eldern tersenyum misterius. "Buka aja."
Aurissa membuka kotak itu dengan hati berdebar. Di dalamnya, ada sebuah gelang yang indah, yang berkilau dalam cahaya lampu aula. "Untuk kesayangan aku, agar setiap kali kamu mengenakannya, kamu ingat betapa bangganya aku padamu, dan betapa aku akan selalu ada di sampingmu, dalam setiap langkah yang kamu ambil."
Aurissa menatap gelang itu, lalu menatap Eldern dengan mata yang penuh rasa sayang. "Makasih kak, padahal kakak datang aja udah sangat cukup buat aku."
Eledern hanya tersenyum, memakaikan gelang itu di tangan kiri Aurissa dengan hati-hati.
Acara wisuda berlanjut dengan lebih banyak tawa dan kebahagiaan. Namun bagi Aurissa, moment itu harus dirasa cukup karena Eldern harus segera terbang ke Singapura sore itu juga, tapi tak apa ia sudah sangat bahagia meski hanya bertemu sebentar, Eldern mengajak Aurissa makan dan keliling Jakarta sebentar sebelum mengantarkan Aurissa ke apartemen Ben.
Setibanya di basement Eldern turun dan membukakan pintu mobil untuk Aurissa, namun ia tak beranjak, dia menatap wajah kekasihnya begitu lama, merangkum wajahnya lalu kemudian menyatukan bibir mereka, segala kerinduan tercurah disana, mereka saling berpagut penuh rindu. Kening mereka nenyatu. "Berapa lama lagi, hmm? " Bisik Eldern serak.
"Satu bulan, dan mungkin kita gak akan bertemu lagi, karena mama bilang aku bakal dipingit."Jawabnya pelan dengan penuh godaan.
" Arrgghh... Sekarang aja yu ke KUA."
"Ngaco, udah yu, mama udah nunggu lho di atas."
Eldern memegang tangan Aurissa erat dan menariknya lembut, dengan langkah pasti, mereka berjalan berdampingan, saling menguatkan karena akan kembali berjauhan.
'Satu bulan lagi' bisiknya pasti.
***
Gini nih kalo otak lagi jalan, dalam dua jam bisa update 2 chapter, tapi kalo inspirasi lagi macet setahunpun gak kelar-kelar 😅.
Sepertinya terisisa satu part lagi deh 🤗
KAMU SEDANG MEMBACA
Extraordinary You
RomanceEldern menyukai Aurissa, begitu juga sebaliknya. Tapi Eldern sudah mempunyai kekasih, dan itu membuat Aurissa bingung. Aurissa berusaha menjauh, tapi Eldern terus mengejar. Lalu akankah akhirnya mereka bersama? Ikuti kisah Aurissa si Mahasiswi semes...
