Last Chapter, maybe 😁
Happy Reading
Hari yang dinanti akhirnya tiba. Matahari lembut pagi menyinari Padma Hotel Bandung yang menjadi tempat pilihan mereka melakukan acara pernikahan, di setiap sudut hotel, persiapan terakhir tengah berlangsung, dekorasi bunga segar mengisi ruang dengan aroma semerbak, musik tradisional mulai mengalun pelan, dan tamu mulai berdatangan mengenakan pakaian terbaik mereka.
Sebelumnya Eldern baru benar-benar berhenti bekerja di H-7 menuju pernikahannya, tetapi sejak tiga minggu terkahir ia sudah stay di Jakarta dan sudah bolak balik Bandung untuk mengurusi persiapan acara pentingnya. Tiga minggu itu terasa seperti maraton, waktu berjalan begitu cepat dari mulai poto prewedding, fitting baju, memilih venue acara, catering dan lain sebagainya. Untungnya pihak keluarga keduanya banyak membantu sehingga ia tidak begitu keteteran. Dan untungnya juga Aurissa tidak benar-benar dipingit, sehingga Eldern bisa curi-curi waktu mengisi energi ditengah hiruk pikuknya persiapan pernikahan.
Di ruang pengantin wanita, Aurissa duduk dengan perasaan gugup tapi juga bahagia, mengenakan kebaya indah dari designer ternama yang direkomendasikan oleh mamanya Eldern.
Kebaya adat sunda modern full payet dan kristal,
dibalut payet perak dan kristal Swarovski, menghasilkan nuansa silver monochrome yang mewah dan berkilau. Siluetnya fitted, menonjolkan lekuk tubuh Aurissa, dengan potongan V-neck elegan yang memperlihatkan garis leher.
"Uriiss lo cantik pol pokoknya, gue yakin Pak El bakal makin klepek-klepek sama lo." Celoteh Retha ditengah proses akhir makeup Aurissa.
"Gue degdegan banget Ret... "
Dipintu masuk Ben dan Daren berdiri menatap Aurissa, bagi Ben Aurissa masih seperti adik kecilnya, rasanya baru kemarin ia melihatnya berjalan, mengantar jemputnya ke sekolah dan sekarang akan menjadi istri orang aja, sahabatnya pula. Sedangkan bagi Daren, ia adalah teman pertamanya, teman bermainnya dari kecil walaupun setelah beranjak remaja lebih sering Daren mengganggu kakaknya itu, tapi dari lubuk hati yang paling dalam ia sangat menyayanginya. Aurissa lalu menoleh ke arah mereka berdua dengan senyum yang sangat manis.
Salah satu petugas WO muncul dibalik punggung Ben, "Sudah saatnya menuju ballroom." Perintah itu membuat jantung Aurissa semakin jumpalitan.
Ben mengulurkan tangan membantunya berdiri,
Ia memasuki ballroom didampingi Mama dan juga Ben, diikuti Daren dan bridesmaids yang terdiri dari sahabat dan juga kerabatnya.
Ruangan itu dipenuhi cahaya hangat dari lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit, menciptakan suasana sakral nan elegan. Dekorasi bunga segar berwarna putih dan krem menghiasi setiap sudut ruangan, dengan karpet merah membentang di tengah sebagai jalan pengantin. Tamu undangan duduk rapi mengenakan pakaian adat Sunda dan busana formal, menunggu dengan penuh harap.
Di depan penghulu, Eldern duduk tegap mengenakan beskap putih berhiaskan payet yang sama dengan Aurissa, matanya penuh haru ketika melihat Aurissa melangkah masuk, wajahnya memancarkan kebahagiaan dan cinta. Aurissa melangkah masuk dengan anggun, mengenakan kebaya putih dengan train yang menjuntai dan juga siger yang berkilau, rambutnya disanggul rapi dengan hiasan kembang goyang dan bunga melati segar.
Suara gamelan mengiringi langkahnya menuju sang calon suami yang kini menatap kearahnya. Aurissa dipersilahkan duduk disamping Eldern.
Penghulu memulai prosesi dengan suara lembut, “Saudara Eldern, apakah sudah siap?"
Eldern mengangguk tegas.
Papa Aurissa menggenggam kuat tangan Eldern yang dingin, lalu mengucapkan ijab qobul yang di jawab lantang dalam satu tarikan nafas oleh Eldern.
KAMU SEDANG MEMBACA
Extraordinary You
RomanceEldern menyukai Aurissa, begitu juga sebaliknya. Tapi Eldern sudah mempunyai kekasih, dan itu membuat Aurissa bingung. Aurissa berusaha menjauh, tapi Eldern terus mengejar. Lalu akankah akhirnya mereka bersama? Ikuti kisah Aurissa si Mahasiswi semes...
