Chapter 34

294 19 0
                                        

Berasa ada yang mengganjal diotakku setiap hari karena novel ini belum aku tamatin, padahal cuma tinggal beberapa part doang. Maafkan aku yaaa para readerku tersayang, apa kalian masih ingat alurnya? Lupa? Gak papa karena author juga lupa-lupa ingat jadi harus baca ulang 😄😄.

Tapi beneran deh kaya dikejar-kejar hutang karena belum namatin novel ini, semoga untuk part-part akhir ini aku bisa konsisten namatin ya, doain jangan lupa vote juga. 🙏🙏

Happy reading

Hari terakhir Alluna di Indo kami semua teman-temannya mengantarkan ke Bandara, dia sudah terlihat lebih baik meski pergelangan tangannya masih dibalut kasa. Sekilas memang tak ada yang aneh dengan penampilannya dia masih tetap modis dan stylish, cantik dan ceria.
Namun dibalik itu semua ada beban yang coba dia redam, ada luka yang harus disembuhkan. Dia juga mengambil cuti dari karirnya sebagai model.

"Kabari gue ya Xel tentang perkembangannya."

"Thanks El, Sa. Sorry kayaknya gue sama Luna gak bisa datang diacara pertunangan kalian, gue doain semoga kalian selalu bahagia."

"Thanks bro."

"El..." Alluna memeluk Eldern dan menangis disana. "Makasih buat semuanya." Lalu dia berbalik dan memeluk Aurissa, cukup mengagetkan baginya karena selama ini hubungan mereka cukup rumit.

"Maafin aku ya Sa, tolong jangan lepasin Eldern dia sayang banget sama kamu."

"Aku juga minta maaf  dan tentu saja aku gak akan lepasin dia."

Waktu keberangakatan tiba nomor penerbangan mereka sudah dipanggil,  Axell dan Alluna meninggalkan Indonesia dengan semangat dan harapan baru.

***

"Kamu yakin gak mau aku anterin ke Bandung?"

"Ngapain, nanti juga kan kakak nyusul kesana."

"Tapi lima hari lho Sa, aku pasti kangen banget sama kamu."

"Lebay.." Teriak Ben keluar dari kamar.

"Udah sana pulang, gue bentar lagi mau ke Bandung sama Aurissa."

"Tega banget lo Ben."

"Hus hus pergi lo jangan sampai restunya gue cabut, dan jangan lupa bawa seserahan yang banyak, mobil ferarri kalo bisa buat gue tapi."

"Gila, belum jadi kakak ipar aja udah pemerasan, gimana kalau udah sah."

"Biarain kalau gak Aurissa gak gue ijinin kawin sama lo."

"Nikah kak Ben, kawin memangnya aku ayam, lagian kita pulangnya nanti malem, aku juga masih kangen sama Kak El."

Eldern menaik turunkan alisnya merasa menang dibela Aurissa.

"Awas ya kalau kalian macam-macam."

"Gue gak macam-macam Ben, cuma satu macam doang." Bela Eldern sambil memeluk Aurissa.

"Dasar bucin," Balas Ben dengan muka malas.

"Lagian kak Ben buruan berangkat gih beli pesenan mama, nanti keburu tutup tokonya."

"Gimana kalau kalian aja yang beli pesenan mama biar sekalian jalan-jalan."

"Emang mama pesen apaan Sa?"

"Mama pesen kue apa kak Ben?"

"Hokkaido Baked Cheese Tart, 10 box."

"Hah, banyak amat."

"Buat kerabat katanya."

"Yaudah yu Sa kita aja yang beli."

"Beneran mau?" Eldern mengiyakan. "Aku ambil tas dulu."

Extraordinary You Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang