"Na, kamu sudah sadar, Kaluna?"
Suara yang menurut Kaluna tidak asing itu terus memanggil-manggil namanya. Rasa nyeri di pergelangan tangannya masih terasa.
"Kaluna."
Suara itu kembali memanggilnya. Perlahan Kaluna membuka matanya karena sangat berat sekali sewaktu ia berusaha membuka matanya. Pertama yang tertangkap dalam indra penglihatan Kaluna setelah membuka mata adalah langit-langit kamar yang berwarna putih. Bau obat-obatan tercium oleh indra penciumannya.
Kaluna yakin ia berada di rumah sakit. Dan ini terasa nyata tapi di lain sisi ia juga belum yakin bahwa ini nyata karena selama ini ia menyakini bahwa ia sudah tiada.
Usapan di tangan kirinya membuat Kaluna menoleh dan mendapati seorang laki-laki yang wajahnya mirip sekali dengan Nigra.
Kaluna semakin yakin bahwa ini tidak nyata. Mungkin ia sudah berada di dalam baka setelah tersesat dalam sequel cerita Chemistry yang sangat menyesakkan hatinya.
"Apa kamu merasa sakit, Na? Apa aku perlu memanggil dokter?"
Mata Kaluna masih menatap wajah itu. Wajah yang membuatnya sesak dan merasa menyesal. Sekalipun di dalam cerita Krisan dia hanya memerankan tokoh bernama Sajana namun tetap saja ia juga turut jatuh hati pada sosok Nigra dan ia turut kehilangan Nigra.
"Kenapa harus memanggil dokter? Apa di alam baka ada dokter?"
"Kamu ngomong apa?! Kamu di rumah sakit!" Laki-laki itu mendekat dan mengengam tangan Kaluna. Kaluna merasa hangat.
Kaluna masih merasakan harapkan Sajana yang menginginkan genggaman hangat dari Nigra. Dan sekarang perasaan itu menggelayuti Kaluna. Tanpa sadar pandangan Kaluna mengabur karena air mata.
"Kamu siapa? Ini terasa tidak nyata!" Setetes demi tetes air mata Kaluna mulai turun. Perasaan sedih menyergap Kaluna.
Genggaman tangan laki-laki itu semakin mengerat. "Dengar aku! Kamu belum pergi, Na. Mungkin kamu ingin mengakhiri semuanya dan berharap benar-benar berakhir tapi Tuhan masih ngasih kamu kesempatan itu hidup, Na. Jadi ini memang nyata, kamu masih hidup, Na. Dan jangan berpikir untuk pergi lagi, oke. Aku akan berada di sisimu."
Dengan lembut laki-laki itu menghapus air mata Kaluna. Ingatan Kaluna terlempar pada saat Nigra mengusap air matanya. "Kamu siapa?"
"Karsha Akhilendra. Aku di sini untuk menemani kamu karena ibu kamu lagi pulang buat ambil keperluannya untuk menginap di sini malam ini."
Dia bukan Nigra Janakara tapi Karsha Akhilendra namun kenapa fisik Karsha sangat menyerupai Nigra. Bahkan Karsha memiliki tahi lalat di dagu seperti Nigra.
"Kamu bukan Nigra?" pertanyaan itu keluar dari mulutnya tanpa Kaluna duga.
"Nigra siapa? Aku bukan Nigra tapi Karsha."
Kaluna menggeleng. "Aku tidak pernah mengenalmu. Kenapa kamu tahu tentangku?"
Karsha melepaskan genggaman tangannya lalu mengambil sesuatu di meja sebelah brankar. Novel Chemistry. Karsha mengambil novel Chemistry.
"Ada dua jejak darah dan keputusasaan di novel ini." Karsha tersenyum pedih. "Waktu kamu dibawa kerumah sakit sama Ibu kamu aku juga ada di sini menemani Ayah yang di rawat karena darah tingginya kambuh dan aku melihatmu terbaring lemah di brankar di bawa ke IGD. Aku melihat Ibumu sedih dan aku memutuskan menemani Ibumu karena Ibumu sendirian. Lalu besoknya Ibumu pulang untuk mengambil pakaian ganti dan menetipkan kamu ke aku. Pas kembali Ibumu membawa novel ini katanya novel ini ada di pangkuanmu sewaktu kamu melakukan itu. Kamu tahu novel ini adalah novel yang selama ini aku cari. Novel terakhir yang Bunda tulis."
"Jadi Griya itu Ibu kamu?!"
Karsha mengangguk. "Griya nama pena Bunda."
Kaluna menatap Karsha tidak percaya. Dia bukannya tidak percaya pada apa yang baru saja Karsha katakan tapi ia tidak percaya pada apa yang sudah ia lalui setelah mengores nadinya. Semuanya tidak masuk akal.
"Aku akan menceritakan tentang Bunda padamu kalau kamu mau tapi tidak sekarang. Kamu baru saja sadar dan butuh istirahat. Sekarang aku akan memanggil dokter agar memeriksamu."
Sebelum Karsha beranjak Kaluna lebih dulu mengutarakan pertanyaan, "Aku sudah berapa lama tidak sadar?"
"Tiga hari. Kamu membuat Ibumu ketakutan, Na." Usai menjawab pertanyaan Kaluna Karsha pergi untuk memanggil dokter.
Sangat tidak bisa di percaya bahwa hanya tiga hari kesadarannya hilang dan ia bisa kesasar dalam dunia fiksi. Apa itu cuman mimpi? Dan cerita Krisan itu tidak pernah ada.
Kaluna menggelengkan kepalanya. Ini benar-benar membingungkan.
🌼🌼🌼
"Mama tidak memaksamu untuk memaafkan Mama, Kaluna. Tapi Mama mohon jangan melukai diri kamu lagi. Mama janji tidak akan mengecewakanmu lagi dan membuat kamu menjadi pelampiasan orang-orang yang sudah Mama lukai."
Mata Mama memerah dan sembab. Sedari tadi permohonan selalu keluar dari mulut Mama. Genggaman tangan Mama sangat erat di tangan kiri Kaluna seolah-olah takut Kaluna akan pergi jika melonggarkan sedikit saja genggaman tangannya.
Kaluna tidak berbicara ataupun membalas apa yang Mama katakan dia hanya mendengarkan. Sebenarnya ia tahu bahwa permohonan maaf Mama itu sangatlah tulus. Tapi Kaluna takut saat Mama mulai menjanjikan sesuatu. Ia takut Mama mengingkarinya dan melukainya lagi.
"Jangan melukai diri kamu sendiri karena tindakan bodoh yang Mama lakukan, Kaluna. Pasti kamu kesakitan karena di luar sana kamu di sudutkan karena perilaku Mama. Dan Mama malah ikut menyudutkan kamu ketika kamu berusaha mengingatkan Mama bahwa tindakan Mama itu salah."
Mama mengusap jejak air matanya. "Maaf kamu lahir dari rahim wanita bodoh ini, Kaluna."
"Jangan mengatakan itu, Ma. Dan jangan menjanjikan apapun." Akhirnya Kaluna mengeluarkan suaranya karena dia tidak ingin Mama memakai dirinya sendiri.
"Mama tidak akan menjanjikan apapun tapi tolong beri Mama kesempatan untuk memulai dari awal menjadi ibu yang baik."
"Kaluna juga minta tolong sama Mama jangan pernah sia-siakan kesempatan itu."
Senyum Mama akhirnya terbit walaupun terlihat sangat sendu. "Kamu memberikan Mama kesempatan?"
Kaluna mengangguk. Ia juga ingin memulai dari awal. Menjadi seorang yang lebih kuat, yang tidak mudah menyerah, yang tidak mengakhiri nyawanya sebelum waktunya.
"Mama harus berterima kasih pada Karsha. Anak laki-laki itu sangat baik. Dia yang menjagamu ketika Mama pulang padahal dia sendiri juga harus menjaga Ayahnya yang sedang dirawat. Untunglah hari ini Papanya sudah boleh pulang," ujar Mama.
Tadi setelah Mama datang Karsha pamit untuk ke ruang Ayahnya di rawat. Kata laki-laki itu hari ini Ayahnya sudah boleh pulang jadinya dia harus mengepak barang-barang Ayahnya yang ada di rumah sakit untuk di bawa pulang.
Sebelum pergi Karsha berkata akan menemui Kaluna lagi. Jujur saja Kaluna sangat senang mendengarnya sebab Kaluna ingin mendengarkan cerita Karsha mengenai Bundanya, Griya.
Bersambung...
Terima kasih sudah baca part ini. Nantikan part selanjutnya, ya.
Kalau ada kritik dan saran silahkan disampaikan dan kalau ada pertanyaan silahkan ditanyakan:)
Selamat malam 🌃 dan sampai jumpa lagi 👋
KAMU SEDANG MEMBACA
Sequel (Selesai) ✓
Fantasi"Cintailah orang sewajarnya. Jangan sampai cinta mengendalikan diri kamu sepenuhnya. Kamu harus bisa memberikan ruang tersendiri antara perasaan dan logika ketika sedang jatuh cinta." Start: 16 Januari 2022 Finish: 09 Agustus 2022 *** Credit cover b...
