Pagi itu, bel sekolah berbunyi dengan lantang, menandakan dimulainya jam pelajaran. Anya dengan nyali besar memutuskan untuk melanjutkan misinya.
Karena Pak Samsul sedang sibuk di ruang guru, Anya meminta izin untuk membawa buku pr anak kelasnya pada Pak Samsul. "Kalo udah pada selesai, bukunya di kumpul ke depan. Pak Samsul suruh gue buat kumpulin tugas kalian," ucap Anya membalikkan fakta.
Aroma samar-samar dari kertas buku tercium pelan, khas buku pelajaran yang sering dibuka dan ditulis. Bau itu sederhana, menenangkan, dan terasa akrab, menemani tumpukan PR di atas meja. Anya mengambil semua buku tersebut dan berjalan keluar kelas dengan tenang.
Di tempat yang sepi dan gelap, jauh dari pandangan siapa pun, ia memotret satu halaman dari setiap buku milik teman-temannya. Tangannya bergerak cepat, seolah berpacu dengan waktu. "Selesai."
Setelah selesai memotret, Anya merapikan kembali buku-buku itu dan segera mengumpulkannya ke meja guru, berharap tidak ada seorang pun yang curiga dengan langkahnya. Ia kemudian kembali ke dalam kelas dengan langkah tenang dan ekspresi yang tetap terkendali, seolah tidak terjadi apa-apa.
Saat bel sekolah berbunyi panjang, menandakan jam istirahat telah tiba, suasana kelas seketika berubah riuh. Kursi digeser, suara langkah kaki terdengar ke berbagai arah. Di tengah keramaian itu, Anya segera pergi ke perpustakaan untuk membandingkan foto-foto tadi dengan tulisan di surat yang ditemukan sebelumnya. Harapannya, dari sana muncul petunjuk yang dapat mengungkap misteri ini. Sebagian besar waktu istirahat ia habiskan di perpustakaan.
"Hey!"
Suara itu membuat Anya tersentak. Samuel sudah menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
Mata Anya membulat. Selembar surat tadi masih tergeletak di meja. Tanpa berpikir panjang, ia langsung melipatnya dan menyelipkannya ke dalam kantong seragam, hampir bersamaan dengan layar ponsel yang ia matikan.
“Eh… iya?” sahutnya, berusaha terdengar tenang meski jantungnya berdegup kencang, serasa mau lepas.
Samuel melirik ke arah tangan Anya yang baru saja bergerak cepat, lalu menatap ponsel yang kini layarnya gelap total. "Lu lagi ngapain?" tanyanya pelan.
Anya mengalihkan wajahnya, mengumpat tanpa suara. Bibirnya terkatup rapat dan alisnya mengerut, namun ia tidak bisa menunjukkan rasa marahnya pada Samuel. "Oh... gue lagi baca novel lewat hp," balasnya sembari kembali menoleh ke arah Samuel.
Samuel menggeser kursinya sedikit lebih dekat. Ia melipat tangan di dada, matanya tak lepas dari wajah Anya.
“Yaudah gue temenin. Nggak ganggu, kan?” ucapnya.
Kesabaran Anya benar-benar menipis. Setiap kali ia mencoba fokus, selalu saja ada yang datang mengganggu. Rahangnya mengeras, lalu ia menoleh setengah malas. "Emang kagak ada yang mau lo lakuin??"
Samuel menatapnya sebentar. Matanya tertahan pada sorot bening di mata Anya—lembut, nyaris tak sesuai dengan nada kesalnya. Sudut bibirnya terangkat samar, sekilas saja, sebelum kembali datar.
"No, makanya gue di sini."
Anya menarik napas pelan. Terlalu banyak hal di kepalanya, dan keberadaan Samuel hanya membuat semuanya terasa makin sempit. Ia menghindari tatapannya, lalu menggeser kursi ke belakang.
“Sorry ya, El. Gue udah selesai,” ucapnya singkat. “Mau balik ke kelas.”
Tanpa menunggu jawaban, Anya bangkit dan meninggalkan perpustakaan, membiarkan suasana itu tertinggal begitu saja.
"Loh, loh...?"
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
