Anya melangkah menuju pintu, langkahnya terlihat tenang, tetapi kedua tangannya mencengkeram gagang pintu dengan erat. Ia bisa merasakan debaran jantungnya menggelora di dada. Napas dalam diambilnya sebelum membuka pintu dan menatap empat wajah sahabatnya yang berdiri di depan gerbang rumahnya. Keempatnya, Kiera, Mika, Salwa, dan Nabila, tampak berbisik-bisik sebelum Anya membuka pintu.
Anya berjalan membuka gerbang, senyum kecil mengembang di bibirnya, meskipun rasa penasaran mulai mengusik pikirannya. "Eh, kok kalian bisa tahu alamat rumah gue?" tanyanya, suaranya sedikit gemetar.
Kiera tersenyum hangat, melirik sekilas ke arah teman-temannya yang berdiri di belakangnya. "Tadi kita nggak sengaja lewat sini... terus liat motor kalian, jadinya mampir dulu deh."
Anya mengangguk kecil, sedikit ragu. Senyumnya tampak dipaksakan, dan matanya masih menunjukkan sedikit kekhawatiran. Ia menggeser tubuhnya untuk memberi ruang. "Ooh, ayo masuk dulu deh," katanya, suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya, menunjukkan rasa was-was yang masih membayangi.
Mereka pun ikut masuk ke dalam rumah Anya. Mika, seperti biasa, langsung mengeluarkan ponselnya dan memulai vlog. Dengan antusias, ia berkata, "Haii sayangku! Coba deh tebak kita lagi di mana? Yaa betull, di rumah Anya gemes!" Ia melangkah menuju pintu, ponselnya diangkat tinggi-tinggi, mencari sudut yang tepat untuk mengambil video, sementara senyum lebar menghiasi wajahnya.
Salwa sedikit manyun, wajahnya cemberut. Ia menunjuk ponsel Mika dengan dagunya. "Matiin ih, jangan nge-vlog mulu, Mik," katanya dengan nada sedikit kesal.
Mika mengangguk cepat, "Iya-iya, maaf ya Nya," ucapnya sambil menundukkan kepala sedikit, menunjukkan rasa bersalahnya kepada Anya.
Anya mencoba tersenyum ramah, menyembunyikan kegelisahan yang masih menggelayut di hatinya. "Santai aja, duduk dulu gih," katanya, menunjuk kursi-kursi di ruang tamu. Ia kemudian bergegas ke dapur untuk mengambilkan air.
Mereka pun duduk, suasana sedikit canggung sebelum Kiera memecah keheningan. Ia menatap Natalie dan Leo. "Kalian udah lama di sini?" tanyanya, suaranya ramah, mencoba menciptakan suasana yang lebih nyaman.
"Nggak juga sih, baru sampe," jawab Natalie, senyumnya menenangkan. Ia melirik sekilas ke arah Leo, yang mengangguk pelan sebagai konfirmasi.
Salwa menyikut pelan lengan Natalie, sebuah senyum nakal tersungging di wajahnya. "Kok nggak ngajak-ngajak sih kalo main?"
Natalie menggelengkan kepala, matanya berkedip cepat. "Ih, bukannya nggak ngajak, kita cuma kebetulan lewat sini," katanya, suaranya sedikit tergesa-gesa, jelas berusaha menutupi sesuatu.
Saat mereka berbincang, Nabila melirik Anya yang baru saja duduk di sofa. Dengan nadanya yang lembut, ia bertanya, "Orang tua kamu mana, Nya? Kamu tinggal sendiri?"
Anya menjawab dengan tatapan kosong, seolah jauh dan hampa. "Nyokap gue lagi ada urusan di luar kota, kalo bokap... udah lama pisah," balasnya, sebuah senyum pahit terpatri di bibirnya.
Raut wajah teman-temannya berubah, menunjukkan rasa bersalah. "Eh... maaf, Anya," ucap Nabila dengan nada penuh penyesalan.
Anya tersenyum tipis. "Kenapa minta maaf? Nggak apa-apa lah," katanya, suaranya sedikit serak. Pertanyaan seperti itu sudah sering ia dengar, tapi rasa sakitnya tak pernah benar-benar hilang.
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
