Ruang tengah terbenam dalam bayang-bayang remang lampu, suasana mencekam menyelimuti keenam remaja itu. Bau anyir darah masih terasa samar, mengingatkan mereka pada penemuan mengerikan tadi: seekor kelinci kecil tergeletak tak bernyawa di halaman belakang. Wajah-wajah mereka dipenuhi kecurigaan, tatapan saling tuduh terpancar dari mata ke mata.
Natalie mengusap wajahnya dengan telapak tangan, lalu menatap teman-temannya satu per satu. "Sebenernya yang gue heran tuh, kok bisa ada kelinci yang udah mati... tapi matinya kayak nggak wajar, ngerti kan? Coba lo ceritain dari awal dah, Nya."
Anya menghela napas panjang, merasakan frustrasi yang mendalam. "Awalnya... Gue denger suara dari halaman belakang, itu posisi lagi di dapur. Suara itu kedengaran samar-samar... Gue nggak tau pasti. Dan setelah gue cek... kelincinya udah begitu." Ia menjelaskan semua yang terjadi, mencoba menyusun kembali ingatannya di tengah kepanikan yang melanda.
Kiera memutar-mutar cincin di jarinya, kakinya tak berhenti bergerak-gerak di bawah meja. "Kalian yakin ini cuma kebetulan? Gimana bisa ada kelinci mati di sini, sementara kita semua udah tidur?" Suaranya penuh kecurigaan, matanya menyapu wajah teman-temannya satu per satu, berhenti sejenak di wajah Mika.
Mika membalas dengan tatapan tajam, alisnya terangkat sebelah. "Gimana caranya lo bisa tau kita semua tidur? Sedangkan lo juga tidur." Nadanya menusuk, menimbulkan kemarahan Kiera.
"Terus lo nuduh gue? Gue kan cuma nebak doang, pake logika." Suaranya sedikit meninggi di akhir kalimat, menunjukkan ketegangan yang ia tahan. Pipinya memerah, dan rahangnya mengeras. Ia mengepalkan tangan, menahan amarahnya.
Salwa, yang terhimpit di sudut sofa, menggeramkan tangannya erat-erat, jari-jarinya tampak memutih. Ia mengelus-elus tangannya sendiri, matanya tak berani menatap siapa pun, hanya melirik-lirik ke arah dinding yang kusam. Kegugupannya begitu kentara.
Nabila berusaha meredakan ketegangan, mengeluarkan suara yang tenang. "Kita nggak bisa asal nuduh, kita harus cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi," ujarnya, tatapannya menenangkan. Lalu, suara Nata memecah kesunyian.
"Apa di sini ada psiko..?" Nata tiba-tiba berhenti, dan ruangan itu terdiam sejenak. Semua mata tertuju padanya, tegang dan penuh rasa takut.
Anya mengamati Salwa dengan tajam. Ada sesuatu yang aneh pada gadis itu. "Lo dari tadi kenapa, Wa? Gelisah banget," tanyanya, ekspresinya datar namun penuh kecurigaan.
Salwa tersentak, wajahnya pucat pasi. Ia menelan ludah di tenggorokan, tangannya gemetar hebat saat ia mengusap jari-jarinya. "Eh... enggak... Gue cuma shock ngeliat kelinci tadi. Soalnya, gue phobia darah," ujarnya terbata-bata, suaranya bergetar menandakan kecemasan.
Ketegangan di antara mereka semakin mencekam, diiringi angin-angin malam. Masing-masing saling menatap dengan curiga, mencari sebuah petunjuk. Kejadian mengerikan itu telah menanamkan benih ketidakpercayaan di antara mereka semua.
"Mending sekarang kita tidur dulu, besok kita selidiki lagi sama-sama," ajak Kiera dengan suara yang penuh kehati-hatian.
Semua sepakat untuk mengakhiri diskusi malam itu dan kembali ke kamar. Meskipun masih didera rasa tidak nyaman dan pertanyaan yang belum terjawab, mereka berharap dapat menemukan jawabannya esok hari.
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
