Suasana riang berganti menjadi sunyi. Setelah menghabiskan waktu bersama, kelelahan mulai menghampiri. Mereka memasuki kamar tidur, dan keheningan malam yang gelap gulita menyelimuti mereka.
Saat larut malam, kehausan membuat Anya bangkit dari tempat tidur. Langkahnya menuju dapur terhenti begitu mendengar suara aneh—seperti tusukan benda tajam—menembus keheningan malam. Suara itu berasal dari halaman belakang, membuat bulu kuduknya merinding dan darahnya membeku.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Dengan jantung berdebar, Anya memberanikan diri menghampiri sumber suara itu. Setiap langkah terasa berat, seakan setiap detik membawa ancaman.
Kelinci kecil itu terbaring tak berdaya, bulu-bulunya kusut dan basah oleh darah. Anya terpaku, matanya melebar tak percaya. Bau anyir darah menusuk hidungnya, membuat jantungnya berdebar-debar. Dengan tangan gemetar, ia mendekat, setiap langkah terasa berat, seakan ia sedang berjalan di atas duri. "Siapa yang tega ngelakuin ini?" bisiknya, suara serak dan gemetar, dipenuhi kepedihan yang dalam.
"Anya?" Anya tersentak kaget. Suara itu, begitu tiba-tiba, membuatnya hampir menjerit. Ia menoleh dengan cepat, melihat Nabila yang berdiri di belakangnya, tetapi ada sesuatu yang terasa... aneh.
Instingnya mengatakan sesuatu tidak beres. Kehadiran Nabila yang tiba-tiba, begitu dekat, terasa janggal. Suasana tegang terasa mencekam di antara mereka. "Nabila? Lo abis dari mana?" tanyanya dengan kecurigaan yang jelas terlihat di wajahnya.
Nabila menatap kelinci itu dengan prihatin. "Aku abis dari kamar mandi," katanya, suaranya tenang, hampir terlalu tenang. "Terus tadi liat kelinci itu terluka, tapi nggak separah ini... Apa kelincinya sudah mati?" jawabnya sembari mengangkat kotak P3K yang ada di genggaman tangannya.
Penjelasan Nabila terdengar masuk akal, tapi keraguan masih mengakar kuat di hati Anya. Sebuah firasat buruk, dingin dan tajam, menusuk hatinya. Sesuatu yang tidak beres. Jika bukan Nabila, pelakunya pasti ada di dekat sini, bisa saja salah satu tamu yang menginap di rumah.
Kehebohan yang terjadi memanggil teman-temannya menuju arah mereka berdua. "Ada apa sih? Kedengaran rame banget dari kamar," tanya Kiera, suaranya terdengar khawatir dengan rasa bingung.
Di bawah cahaya remang-remang, Anya menatap Nabila, lalu kembali ke kelinci yang tergeletak di tanah. "Gue ketemu..." Dia menjeda perkataanya sembari menggelengkan kepala, meralat kata-katanya. "Gue sama Nabila ketemu kelinci yang udah M4T1... Berlumuran D4R4H." Ia menunjuk ke arah bangkai kelinci itu, sebuah bukti nyata dari kejadian mengerikan yang baru saja mereka alami.
Pemandangan itu membuat Natalie, Kiera, Mika, dan Salwa tersentak. Suara mereka spontan pecah menjadi teriakan singkat, terputus oleh keterkejutan. Salwa bahkan tersandung mundur, menjauhi bangkai kelinci itu. Suasana semakin mencekam. Tatapan mereka saling bertemu, dipenuhi rasa takut dan pertanyaan; siapa yang tega melakukan hal keji ini?
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
