Sinar matahari pagi menerobos celah tirai, menciptakan semburat cahaya redup di kamar yang masih sunyi. Namun, cahaya pagi itu tak mampu menghapus bayang-bayang kejadian mengerikan malam sebelumnya. Mereka terbangun dengan perasaan campur aduk antara kekhawatiran dan rasa ingin tahu yang menggelayut di hati.
Di salah satu koridor panjang rumah itu, Anya hampir bertabrakan dengan Mika. Saat pandangannya jatuh pada baju Mika, ia tersentak. Sebuah noda merah mencolok terlihat di sana, seperti bekas darah yang sudah kering. Detak jantung Anya berdebar kencang. Keheningan koridor itu seakan memperkuat rasa takut yang mulai menjalari tubuhnya.
Tatapan Anya tajam tertuju pada noda merah di lengan baju Mika. Ia menghentikan langkahnya, menahan diri untuk tidak langsung menuduh atau berpikiran negatif. Setelah beberapa detik, Anya bertanya dengan nada yang datar namun penuh arti, "Tunggu Mik, lengan baju lo kenapa?" tanyanya memegang tangan Mika.
Mika menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Anya, gerakannya terlalu cepat dan tegang. "Oh, ini? Nggak sengaja ketumpahan marjan semalam," ujarnya, suaranya sedikit terlalu tinggi. Matanya pun berkedip-kedip gugup.
Anya merasa ada sesuatu yang tidak beres, tetapi dia memutuskan untuk tidak memperpanjang pertanyaan. Mereka masih memiliki banyak hal yang perlu diungkap, dan ia tidak ingin membuat Mika merasa terpojok atau tidak nyaman. Bisa saja itu memang marjan.
Satu per satu, mereka menyelesaikan persiapan untuk berangkat sekolah: menata buku, memasukkan peralatan sekolah ke dalam tas. Namun, gerakan mereka tampak kurang bersemangat. Rasa penasaran dan kekhawatiran atas kejadian semalam masih menghantui pikiran mereka, menciptakan suasana yang berat.
"Masalah semalam, jangan terlalu dipikirin di sekolah. Takutnya ganggu konsentrasi belajar kalian juga," saran Anya. Namun, di balik kata-kata itu, kewaspadaan tetap tertanam dalam hati mereka. Mereka tahu bahwa mereka harus tetap waspada terhadap apa pun yang tampak mencurigakan.
Sesampai di sekolah, mereka melangkah menuju kelas, berusaha bersikap tenang seakan tidak terjadi apa pun. Langkah kaki mereka terukur, ujung bibir mereka terangkat sedikit. Tatapan Shintya yang tajam dan sinis menyambar mereka dari kejauhan, seakan membaca pikiran mereka.
"Ape lu liat-liat?" ketus Natalie dengan nada tinggi, sembari mendongakkan dagunya.
"Dih, pede banget," Shintya menjawab dengan nada mengejek. Ia berbalik dan pergi, dua temannya mengikutinya dengan langkah cepat seperti dayang-dayang Shintya.
Setelah beberapa saat, tatapan Natalie berubah menjadi serius dan misterius. Ia memanggil Leo dengan suara pelan, "Leo, keluar sebentar yuk," bisiknya, lalu melirik Anya dengan tatapan penuh makna, sebuah kode yang hanya mereka mengerti.
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
