Chapter 22

29 19 1
                                        

Natalie menyambar ponsel dan surat itu dari tangan Anya. Matanya langsung tertuju pada tulisan tangan yang rapi namun aneh di surat itu, alisnya bertaut tanda berpikir keras.

Natalie menyipitkan mata, mengamati ponsel dan surat itu dengan saksama. "Siapa yang berani ngirim kayak beginian?" bisiknya, kening berkerut dalam, matanya seolah mencoba memecahkan kode misteri yang tersembunyi di balik tulisan itu.

Leo menoleh ke Anya, tatapannya tajam dan penuh harap. "Lo tau itu tulisan siapa aja, Nya?" Anya hanya bisa menggeleng pelan, pandangannya lesu, mencerminkan ketidaktahuannya yang membuatnya frustrasi.

"Kalo gue tau, gue nggak bakal ngajak kalian diskusi di sini." Anya mengusap dahinya frustasi, suaranya terdengar putus asa.

Tangannya tak sengaja menyenggol tas ransel yang terbuka, membuat buku yang diantar Samuel tadi terjatuh. Seketika, selembar kertas yang terselip di balik buku itu terlihat jatuh ke lantai.

Semua mata terpaku pada kertas kusut itu. Anya mengambilnya dengan tenang, namun matanya mengamati sekeliling dengan waspada sebelum perlahan membukanya.

Ternyata, isi tulisan itu adalah... "Jangan memulainya!" Anya, Leo, dan Natalie sontak terkejut, mata mereka melebar saat melihat bercak-bercak darah di sekitar kertas. Kejutan menyelimuti mereka, namun kebingungan melanda, tidak satu pun dari mereka yang paham apa maksud kalimat itu.

"Gue rasa, ini tulisan orang yang sama," bisik Anya, jari-jarinya menunjuk bercak darah di kertas. Tatapannya tajam, penuh keyakinan.

Natalie dan Leo mendekat, mengamati tulisan itu dengan hati-hati. Leo memegang dagunya, kerutan di dahinya semakin dalam. "Teliti juga lo."

"Tapi, merah-merah itu apaan ya? Masa iya darah..." Nata mendongak, jantungnya berdebar kencang. Wajahnya pucat pasi, mencerminkan kekhawatiran yang sama. Mereka saling bertukar pandang, menyadari bahaya yang mungkin mengintai mereka.

"Mungkin orang yang ngirim ini cuma mau nakut-nakutin kita? Jangan terkecoh guys, please." kata Anya, suaranya pelan namun penuh arti. Sudut bibirnya terangkat sedikit, matanya berkilat misterius. "Gue punya ide sih."

Leo mengangguk pelan, matanya menyiratkan sesuatu. "Kayaknya pemikiran kita sama." Nata mengerutkan dahi, kedua alisnya bertaut. "Hah? Ide apa?"

Anya tersenyum, seringai tipis menghiasi bibirnya. "Gue bakal cek satu persatu buku anak kelas kita." Suaranya tegas dan penuh tekad. Senyumnya menunjukkan keberaniannya menghadapi tantangan ini.

"Gimana caranya?" tanya Nata, memiringkan kepalanya. Anya menatap Nata dengan ekspresi yang lelah, lelah menghadapi otaknya yang lemot. "Liat aje nanti."

Setelah selesai memeriksa beberapa kertas, Anya meletakkannya di meja. "Oh iya Le, coba dong, gue mau lihat IG base," pintanya sambil melirik Leo sekilas.

Dengan satu tangan, Leo mengeluarkan ponselnya dari saku, menunjukkan akun IG base sekolah di layar, dan meletakkannya di atas meja di depan Anya. "Noh, buru cari di hp lu."

"Oke, oke." Perkataannya berhenti sejenak. Dia mencari dengan cepat, lalu menunjuk layar ponselnya. "Ah ini dia ketemu! Gue coba dulu ya siapa tau di-acc."

Saat mereka sedang fokus pada ponsel, tiba-tiba suara cempreng dari luar memecah konsentrasi mereka. Mereka sontak terkejut, mata mereka membelalak. "Loh? Itu suara Salwa, kan? Kok dia bisa tau alamat rumah gue?" Anya langsung berdiri dari sofa, jantungnya berdebar kencang.

"Pendengeran gue sih yes. Emangnya anak sekolah kita nggak ada yang tau alamat rumah lo, Nya?" tanya Nata, matanya menyiratkan kebingungan, sambil mengangkat kedua alis.

"Seinget gue sih, gue nggak pernah kasih tau alamat rumah gue ke siapa pun, kecuali kalian," kata Anya sambil menatap kosong ke depan, mengingat kembali kejadian mengerikan malam itu.

Leo menjawab dengan santai, tanpa mengetahui kejadian yang dialami Anya pada malam sebelumnya. Ia mengangkat bahu. "Yaudah, liat aja dulu. Lagian nggak masalah kan kalo orang tau alamat rumah lu?"

Anya mengangguk ragu-ragu, keraguan tergambar jelas di wajahnya. "Tunggu, biar gue cek." Ia berjalan cepat ke arah pintu, sesekali menoleh ke belakang, melihat Leo dan Natalie.

****************

Identitas Tersembunyi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang