Chapter 30

3 0 0
                                        

Natalie tiba-tiba memotong pembicaraan, nada suaranya turun satu oktaf menjadi serius, tanpa bercanda sedikit pun. “Fiks, ada yang mulai curiga sama kehadiran lo di sini, Anya.” Ia menaruh kedua tangannya di pundak Anya, mencoba menenangkan sekaligus memperingatkan.

Anya membelalakkan mata, napasnya tersendat. "Tapi siapa? Perasaan gerak-gerik gue juga nggak mencurigakan," gumamnya, suaranya terdengar goyah saat otaknya mencoba mencerna ucapan itu.

Leo mendesah pelan sebelum akhirnya ikut berbicara. “Why not? Bisa aja orang itu lebih jeli… atau ya, lebih pinter dari lo.” Ia mengangkat bahunya santai, meski kalimatnya terdengar cukup menusuk.

Anya berpikir sejenak, memutar ulang semua kejadian. Ia menggabungkan kejadian semalam dan tempo hari bertemu sosok topeng hitam tersebut. Potongan-potongan misterinya mulai menyatu, tapi belum cukup jelas untuk diungkapkan. "Kalo digabungin, menurut gue kayaknya emang ada sangkut pautnya. Tapi aneh juga ya, satu hari setelah kejadian... mereka tau alamat rumah gue, ditambah juga mereka tiba tiba mau nginep, dan malamnya ada kejadian kayak gitu," ucapnya, rasa penasaran yang menghantuinya semakin menjadi.

Di dalam kepalanya, Anya menahan satu kesimpulan yang tidak bisa ia ucapkan dari mulutnya sendiri. "Gue nggak bisa percaya siapa pun di sini, termasuk kalian."

Suasana tiba-tiba menjadi hening untuk beberapa saat. Natalie menatap Anya, seolah menimbang sesuatu yang ingin ia katakan. "Nya, lo tau nggak? Tadi pagi, gue ngeliat Salwa lagi cuci bajunya, kayanya dia lupa kunci pintu. Dan, gue liat kaya ada bercak merah di bajunya, raut wajahnya bener-bener aneh sih..."

Anya menatap Natalie dan Leo bergantian. "Gue juga liat, tadi sempet gue tanyain, katanya kena marjan, tapi... au ah." Ucapannya menggantung, dan suasana di ruangan itu terasa makin tegang.

Mereka mulai saling bertukar pandang, pikiran masing-masing dipenuhi tanda tanya. Rasa curiga itu perlahan merayap ketika mereka mengingat kehadiran Salwa dan 3 temannya yang lain tiba-tiba muncul di rumah Anya kemarin. Mungkin salah satu dari mereka terlibat, atau tanpa mereka sadari, pelakunya justru orang yang selalu berada di sekitar Anya. Dan kini semuanya mulai menunjukkan tanda-tandanya.

"Gue bakal cari tau semuanya," tekadnya bergema dalam batinnya. "Nggak ada orang yang bisa ngehalangin langkah gue." Tatapannya mengeras, penuh determinasi, seolah apa pun yang menunggu di depan tidak akan mampu menggoyahkan keyakinannya untuk mengungkapkan fakta yang tertutupi.

Setelah lama tenggelam dalam pikirannya sendiri, suara bel masuk akhirnya memecah keheningan sekitar.

Tring...!

Natalie tersentak ringan, lalu menatap kedua temannya. "Ayo masuk kelas, nanti kita bahas lagi," ajaknya kepada Anya da Leo. Mereka melangkah menuju kelas, menggantung teka teki yang belum terungkap.

****************

Identitas Tersembunyi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang