Degup jantungnya yang sempat berlari tak beraturan perlahan menemukan ritmenya kembali begitu langkahnya menjauh dari Samuel. Udara di luar perpustakaan terasa lebih lega, seolah ikut memberinya ruang untuk bernapas. Ia menarik napas dalam-dalam, menenangkan sisa kegelisahan yang masih menempel di dadanya.
Anya melangkah menuju taman sekolah yang sunyi, ditemani angin sepoi-sepoi yang menyentuh kulitnya dengan lembut. Suasana di sana terasa lebih tenang, seolah dunia sengaja melambat hanya untuknya. Ia memilih duduk di bangku taman yang teduh, terlindung dari panas matahari yang menyelinap di sela dedaunan. Perlahan, ia mengeluarkan ponselnya dari saku dan kembali membuka foto-foto itu, tatapannya mengeras, tampak fokus.
Matanya bergerak cepat, sesekali menyipit, berharap menemukan satu saja kemiripan yang bisa menjadi petunjuk. Ia mengulanginya berkali-kali, memperbesar layar, memperhatikan garis demi garis huruf. Namun semakin lama ia mencari, semakin jelas satu hal yang tak bisa ia sangkal.
"Kenapa ngga ada satu pun yang mirip?" gumamnya pelan, sambil memperbesar tampilan layar ponselnya, berharap menemukan sesuatu yang terlewat.
Anya memutar matanya pelan sambil menghela napas panjang, pundaknya sedikit mengendur. Tak satu pun yang terlihat cocok, semuanya tetap terasa asing. Jarinya berhenti bergerak di atas layar, dan untuk sesaat ia hanya menatap kosong, rasa kecewa perlahan menyusup, membuat seluruh usahanya terasa sia-sia.
Namun, tepat ketika ia hendak menyerah, sebuah pikiran tiba-tiba melintas di benaknya. Matanya sedikit membesar. Tanpa membuang waktu, ia bangkit dari tempat duduknya dan bergegas melangkah menuju kelas sebelah—tempat Maya biasa duduk, siswi yang dikenal selalu menulis catatan dengan rapi dan teratur.
“Maya.” Anya memanggil sambil menghampiri meja gadis itu, jemarinya mengetuk pelan permukaan meja seolah ragu.
“Anu… gue boleh liat catatan MTK lo nggak?” lanjutnya, sedikit menunduk agar suaranya terdengar lebih pelan. “Bu Inka nyuruh gue buat liat catatan dari kelas kalian. Katanya kalian udah lebih duluan materinya. Eh, tapi kalo nggak boleh gapapa.” Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibirnya, rapi dan meyakinkan. Wajahnya tetap tenang, nyaris tanpa celah. Anya memang tahu caranya menyusun kebohongan, dan membuatnya terdengar seperti kebenaran.
Maya tampak ragu sejenak, jemarinya berhenti di atas buku catatan itu. Anya menahan napas tanpa sadar, dadanya terasa berdegup lebih cepat saat menunggu satu kata yang ia harapkan keluar dari mulut Maya.
“Tapi… dijaga ya bukunya? Jangan diilangin,” ujar Maya akhirnya, sambil mendorong buku catatannya ke arah Anya.
Anya segera meraih buku itu, jemarinya mengerat di sampulnya, seolah takut kesempatan ini terlepas begitu saja. "Thank you, May! Besok gue balikin."
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
