Mereka akhirnya tiba di sebuah sudut sekolah yang sepi-terlalu sepi, sampai-sampai suara angin pun terdengar jelas di telinga. Tempat itu tersembunyi, jauh dari keramaian, seolah terlupakan oleh waktu. Udara di sekitarnya terasa dingin dan merayap pelan, membawa suasana mencekam yang membuat siapa pun enggan berlama-lama. Tak ada satu pun murid berkeliaran di sekitar. Natalie menatap Anya, wajahnya penuh dengan kekhawatiran yang sulit disembunyikan.
Natalie menggigit bibirnya, lalu berkata dengan suara pelan dan ragu-ragu, "Lo aja yang kasih tau, Nya."
Hening sejenak mengisi jarak di antara mereka. Anya menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan sebelum membuka suara. "Semalam, kita semua ketemu kelinci yang udah mati. Di tubuhnya juga ada pisau yang sudah dilumuri darah," ucapnya dengan nada serius.
Natalie langsung menyambung, "Yang lebih anehnya lagi, semua pintu maupun jendela udah kita kunci semua... Tapi kok bisa ada begituan ya? Gue sih curiga pelakunya ada di antara kita. Di sana cuma ada Gue, Anya, Kiera, Nabila, Mika dan Salwa."
Leo membisu terdiam. Ia berusaha mencerna semua potongan informasi yang baru saja dilontarkan. Matanya menyipit, ekspresinya sulit dibaca. Lalu ia bertanya pelan, "Bentar, jadi maksud kalian... kalian curiga kalo pelakunya salah satu dari kalian?" tanyanya mengerutkan dahi.
Anya dan Natalie menganggukkan kepala secara bersama. Tiba-tiba Natalie berspekulasi, "Gimana kalo ternyata, kasus semalam ada kaitannya sama kasus Luna?"
Leo dan Anya saling menatap, keduanya tampak berpikir keras. Kemungkinan besar, kejadian semalam dan kasus Luna saling berkaitan. Mungkinkah... pelakunya adalah orang yang sama?
"Berarti, orang yang kita cari sekarang bukan sekedar pembully yang bisa dengan mudah kita tangkap, tapi juga... psikopat." Anya menggantung kalimatnya sebentar, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih dingin, "Kalo memang tebakan gue benar tentang pelaku tabrak lari Luna, pembullyan terhadapnya, dan masalah kelinci semalam itu adalah orang yang sama... nggak akan gue biarin lolos."
Leo menyilangkankan lengannya di depan dada, nadanya mantap saat berbicara, "Ada orang yang lo curigain sekarang ga? Biar kita lebih mudah cari informasinya."
Anya terdiam sesaat. Tangannya mengusap dagu, matanya menatap kosong ke arah kejauhan. "Ada, Shintya," jawabnya pelan. "Tapi, gue nggak sepenuhnya yakin... Gue nggak ada feeling kalo Shintya itu dalang dari semua ini. Ya gue tau, dia emang anak nakal, tapi nggak tau kenapa... gue nggak yakin kalo itu dia."
"Kenapa nggak yakin? Bisa aja itu emang dia. Dia juga kan yang ngejadiin kakak lo budak, yang normalisasiin pembullyan di Sekolah Angkasa Raya," jawab Leo dengan tegas.
Pikiran Anya runyam, ia menghela napas dalam-dalam, tanda ke-frustasiannya terhadap puzzle yang tak kunjung selesai.
Tiba tiba, ia mengangkat kepala sedikit. "Oh iya! Gue lupa mau ceritain ini ke kalian. Jadi, sehari sebelum kalian nginep di rumah gue, gue pernah diteror oleh sosok topeng hitam, gue rasa mereka orang suruhan," ujarnya dengan kecurigaan penuh.
"Terus, terus gimana?" tanya Natalie cepat, wajahnya penasaran. Leo juga menunggu kelanjutannya.
"Dia berhasil kabur. Tapi, untung aja gue langsung cek isi rumah, dan yap bener, mereka pasang kamera pengintai di setiap sudut rumah gue," ujar Anya dengan penekanan kuat di kata terakhir.
Leo mengangkat kedua alisnya, ekspresinya penuh tanda tanya. "Padahal di situ posisinya, lo belum ada kasih tau anak di sini tentang alamat rumah lo?"
"Iya, gue cuma baru kasih tau ke kalian doang. Terus, di sekolah sebelumnya juga tetep cuma kalian doang yang tau, " jawab Anya sambil mengangguk.
Natalie memikirkan apa yang baru saja diucapkan Anya. Anya memang tertutup akan kehidupan pribadinya, terutama soal keluarganya-nyaris seperti kotak terkunci yang hanya bisa diakses oleh orang terdekatnya. "Bener sih..."
"Jadi maksudnya, lo curiga ke kita?" tanya Leo, nada suaranya terdengar ketus, menyiratkan rasa tersinggung.
Anya mengerutkan alis, bingung dengan perubahan Leo. "Tunggu, gue nggak ada bilang kalo gue curiga ke kalian. Kenapa lo malah merasa tertuduh?" tanyanya balik, nada heran menyelip di ujung suaranya.
Leo mengalihkan pandangannya, matanya menatap kosong ke samping. "Sorry... gue lagi agak sensi hari ini," ucapnya, suaranya lebih tenang meski masih terdengar berat.
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Misterio / SuspensoAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
