Salwa menepuk tangannya pelan, matanya berbinar penuh semangat. Senyum lebar mengembang di bibirnya. "Ooh jadi sekarang lo sendiri nih? Eh, gimana kalo kita nginep aja di sini, boleh nggak?"
Kiera, Mika, dan Nabila langsung setuju dengan usul Salwa. Kegembiraan terpancar dari wajah mereka. "Wah boleh tuh! Ayoo lah Nya," pinta Nabila dengan nada yang penuh harap.
Dengan napas yang sedikit tertahan, Anya mengangguk. "Boleh-boleh aja sih," jawabnya, namun raut wajahnya menunjukkan keraguan. Ia melirik Leo dan Natalie, mengangkat kedua alisnya tipis-tipis, seakan bertanya tanpa suara apakah keputusan ini aman.
Leo dan Natalie serentak mengangkat kedua bahu mereka. Gestur itu lebih merupakan ungkapan ketidakpastian daripada persetujuan. Tampaknya mereka juga tidak yakin apakah menginap di rumah Anya akan aman atau tidak bagi misinya.
Dengan semangat yang tak terbendung, Mika sontak berteriak, "Yes! Siapp nge-vlog nih gue!" Kegembiraan terpancar dari wajah teman-temannya yang lain, mereka semua antusias bisa menginap di rumah Anya.
Mentari mulai condong ke barat, menebarkan warna jingga di langit. Bayangan panjang mulai terbentuk di halaman rumah. Waktu sudah menjelang sore. Leo terpaksa memotong kegembiraan mereka, "Oh ya, gua balik duluan ya. Udah mau gelap." Ia berdiri, pamit pada teman-temannya.
"Oke, hati-hati di jalan, Bro!" kata Anya, sambil tersenyum hangat. Teman-temannya yang lain juga melemparkan pesan singkat, "Hati-hati, ya!" kepada Leo.
Setelah Leo pamit, mereka kembali bersemangat merencanakan acara menginap mereka, mulai dari membahas menu makanan hingga membagi tugas masing-masing.
Kiera berdiri, merapikan roknya. "Nya, kita pulang dulu ya bentar, nanti kita ke sini lagi. Sekalian mau ambil baju tidur sama seragam sekolah," katanya, senyumnya tulus. Natalie, yang sudah siap, menambahkan, "Iya, Nya, gue juga ikut." Anya mengangguk, "Oke, hati-hati!" lalu mengantar mereka sampai depan pintu.
Dia melambaikan tangan sembari menonton teman-temannya pergi, menunggu mereka kembali untuk malam yang akan dihabiskan bersama.
Setelah teman-temannya pergi, Anya memanfaatkan waktu sejenak untuk merapikan rumahnya. Dia membersihkan ruang tamu, menyiapkan bantal dan selimut tambahan, dan memastikan dapurnya cukup stok makanan dan minuman untuk malam nanti.
Waktu bagaikan musuh yang mengejar. Anya berlomba dengan waktu, menyembunyikan jejak-jejak misi rahasia itu di balik barang-barang di kamarnya. "Jangan sampe misi ini bocor sedikit pun," desisnya.
Anya merasa lega setelah menyembunyikan semua barang tersebut. Dia ingin menjaga privasi dan memastikan bahwa tidak ada yang dapat menemukan atau melihat hal-hal yang mungkin dapat menimbulkan masalah.
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
