Chapter 19

29 16 1
                                        

Wajah Shintya memerah seperti kepiting rebus, amarahnya meluap-luap hingga hampir tak terbendung. Tatapan matanya tajam, menusuk Nabila bagai panah beracun, penuh kebencian. Bibirnya bergetar, menahan amarah yang hampir meledak.

"Dasar biadab!" Shintya menunjuk Nabila, jari telunjuknya gemetar, matanya melotot tajam karena amarah yang membara.  Tendangannya ke kursi makan begitu keras hingga membuat kursi itu terhuyung dan menimbulkan dentuman yang menggema di ruangan.

Shintya melesat pergi, meninggalkan kantin dengan langkah penuh amarah.  Wajahnya merah padam, amarah yang membara seakan membakarnya dari dalam.

"Wuu!" Nata mengejek, ibu jarinya dibalikkan dengan gerakan cepat dan jahil ke arah Shintya dan teman-temannya.

Ketika suasana mulai tenang, Anya merasakan sentuhan lembut di punggungnya. Seseorang memasangkan jaketnya dari belakang. Ya, itu Leo.

Namun, di tengah kehangatan itu, sebuah tatapan dingin menusuk mereka. Seorang lelaki jangkung dengan rahang tegas menatap mereka dengan tatapan datar.

"Thanks," balas Anya, sebuah senyum tipis mengembang di sudut bibirnya saat dia menoleh ke samping.

Leo melirik jam tangannya, lalu pamit dengan tergesa-gesa, "Oh iya... gue tinggal dulu ya, tadi dipanggil guru." Ia berlari secepat kilat.

Tak lama kemudian, Kiera langsung menggandeng tangan Anya. "Duh, mending sekarang kita ke toilet yuk bersihin seragam Anya," ajaknya. Mereka semua berjalan bersama menuju toilet untuk membersihkan seragam Anya yang kotor.

Di sisi lain, Shintya mengamuk di ruangan pribadinya yang terletak di sudut sekolah, sebuah ruangan yang biasanya hanya diakses oleh beberapa orang terpilih. Ia menggebrak meja, buku-buku berserakan di lantai. Napasnya memburu, wajahnya memerah dengan tangan yang mengepal erat. "Brengsekk!" teriaknya, emosi yang meledak-ledak mengguncang ruangan.

Kedua temannya berusaha menenangkan Shintya yang sedang menendang semua barang. Mereka saling bertukar pandang, cemas melihat keadaan Shintya. "Udah, Shin!" seru Gea, mencoba mendekat dengan hati-hati.

"Lagian kenapa nggak lu lawan aja sih?" tanya Kayla, agak frustrasi melihat Shintya yang masih mengamuk.

Udara seakan berhenti berhembus. "Diem lo! Gue paling nggak suka sama orang yang ikut campur," bentaknya, membuang muka sambil duduk di sofa, seolah tak ingin melihat Kayla dan Gea.

Gea dan Kayla saling bertatapan, ragu untuk mendekat lebih jauh. Mereka hanya bisa diam, memperhatikan Shintya yang terus-menerus menendang barang-barang di sekitarnya. Keduanya terlihat cemas dan frustasi.

****************

Identitas Tersembunyi Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang