Anya meneliti kedua tulisan itu dengan saksama, matanya jeli membandingkan setiap lekuk huruf, setiap garis, dan kurva. Hening sejenak, hanya terdengar helaan napasnya yang pelan. "Tulisannya mirip," gumamnya pelan, kening berkerut. "Kayak ditulis oleh orang yang sama. Tapi siapa?" Rahasia di balik kemiripan tulisan itu mulai mengusik pikirannya.
Setelah memastikan kemiripan tulisan itu, Anya buru-buru membuka pintu kamar mandi. "Ayo cabut," katanya, suaranya sedikit gemetar. Kecemasannya terlihat jelas dari sorot matanya yang tajam dan berbinar. Ia dan teman-temannya bergegas meninggalkan kamar mandi, meninggalkan misteri yang menakutkan itu untuk sementara.
Di kelas, jari-jari Anya menari cepat di layar ponselnya, mengetik pesan ke grup obrolan khusus mereka dengan Leo dan Nata. Keinginan untuk segera membahas kejadian itu tampak jelas dalam setiap ketukannya.
Dentingan nyaring bel pulang membuyarkan konsentrasi, disusul gemuruh langkah kaki siswa yang berlarian keluar kelas. Anya, Leo, dan Nata bertemu di tempat parkir, suara riuh rendah masih memenuhi telinga mereka.
"Mau ngomongin apa sih, Nya?" tanya Leo, alisnya terangkat sedikit, matanya mencerminkan rasa penasaran yang besar sambil menunggu Anya menjelaskan.
Anya melirik sekeliling tempat parkir yang ramai, kerutan di dahinya menunjukkan keraguan sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk mengajak mereka ke rumahnya. "Udah, di rumah gue aja. Nanti gue ceritain," katanya, sembari menaiki motornya dan menyalakan mesin.
Nata meraba-raba saku celananya, seakan mencari sesuatu, lalu menoleh ke Anya dan Leo dengan ekspresi meminta bantuan. "Aduh, gue lupa lagi kalo mobil gue di bengkel... Boleh nebeng nggak, Nya?" Anya mengangguk sembari memasang helm.
Tiba-tiba, dua orang laki-laki mendekat, salah satunya menunjuk ke arah Anya. "Nya, buku lo ketinggalan," kata Samuel, suaranya sedikit dingin.
Dia langsung menyerahkan buku itu pada Anya. Seulas senyum kecil muncul di bibir Anya saat ia menerima buku itu dari Samuel.
Langit mendung menaungi Anya, Leo, dan Nata saat mereka meninggalkan sekolah, masing-masing mengendarai motor mereka. Udara sore yang agak dingin menyelimuti mereka saat mereka melaju pulang, meninggalkan hiruk pikuk sekolah di belakang. Rumah Anya menjadi tujuan mereka, tempat yang lebih tenang untuk menguak misteri tulisan aneh yang telah ditemukan Anya.
Sesampai di rumah, Anya menyuruh mereka untuk duduk dahulu di sofa ruang tamu. "Tunggu bentar." Ia berlari menuju dapur, langkahnya cepat dan penuh semangat. Beberapa saat kemudian, ia kembali dengan tiga cangkir air dingin yang diletakkannya di atas meja.
"To the point aja, mau bahas apa?" tanya Leo, sembari meminum segelas air. Ia meletakkan gelas itu di meja, siap untuk mendengarkan.
Dengan tatapan tegang, Anya mengeluarkan ponselnya bersama surat yang ia temukan. Wajahnya terlihat serius, dan mata yang berbinar itu mencerminkan semangatnya untuk mengungkap kebenaran di balik misteri yang mengganggu pikirannya.
Anya mencondongkan tubuhnya ke depan, sembari menunjuk ponsel dan surat itu kepada Leo dan Nata. "Liat deh, gue udah dua kali ketemu yang kayak gini, aneh nggak sih?" Dia menatap mereka dengan tatapan yang penuh makna.
****************
KAMU SEDANG MEMBACA
Identitas Tersembunyi
Mystery / ThrillerAnya dan Luna adalah anak kembar yang non-identik dengan kepribadian yang bertolak belakang. Luna, yang lembut dan sensitif, menjadi korban bullying yang kejam di sekolah. Perlakuan buruk yang diterimanya, ditambah dengan pengaruh negatif dari lingk...
