22- Abhizar

350 51 4
                                        

Baca selengkapnya sampai tamat di Karya Karsa: Wihelmina Miladi, masuk saja ke bagian seri

Pagi ini dihari libur, Afifah sudah bekerja keras beberes bersama teman-temannya, merapikan tempat yang kemarin dipakai untuk acara pengajian. Mereka juga menyelesaikan apa yang belum selesai. Sampai menjelang siang hari, saat Afifah ingin pulang ke rumah, ternyata dia kedatangan seorang tamu yang hanya mampir sebentar.

"Abhizar?"

"Fah, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ujar Abhizar.

"Oh, ayo mampir ke rumah, kebetulan ada ibu di rumah." Afifah menawarkan Abhizar untuk masuk, karena saat ini mereka bertemu di dekat tempat diselenggarakannya pengajian kemarin.

"Sejujurnya aku juga pengin mampir, pengin ketemu sama orangtua kamu juga. Tapi sayangnya untuk sekarang gak bisa, soalnya aku harus berangkat dinas ke luar kota selama sebulan. Lain kali setelah pulang aku pasti akan ke rumahmu."

"Oh gitu, lama juga dinasnya, kalau begitu semangat dan hati-hati di jalan!" ujar Afifah.

"Makasih, Fah. Anu, sebelum aku berangkat dinas, aku mau ngomong penting sama kamu. Sejujurnya aku suka sama kamu sejak kita remaja, aku berniat mengajak kamu untuk saling mengenal lebih dekat dengan tujuan pernikahan."

Abhizar langsung mengungkapkan keinginannya. Terlihat Afifah tercengang sampai kehilangan kata-kata.

"Fah?" panggil Abhizar menyadarkan Afifah dari bengongnya.

"Eh, iya?"

"Aku tahu kamu pasti kaget, aku juga gak mau buru-buru, apalagi memaksakan perasaanku. Makanya aku ingin agar kita saling mengenal dulu, dengan tujuan untuk menikah."

"A-aku hanya merasa ini mendadak dan terlalu cepat. Kita belum lama ini baru lulus kuliah, dan masih merintis karier dalam pekerjaan. Apa gak terlalu buru-buru memikirkan tentang pernikahan?" ujar Afifah.

"Tapi kita sudah ada diusia dewasa, aku juga tidak melarang jika kamu masih ingin mengejar karier dan sebagainya ketika nanti misalkan kita menikah. Pada intinya aku ingin kita saling mengenal, dan aku ingin kamu tahu bahwa aku ingin menikahimu, dan itu serius."

"Baiklah, aku terima tawaranmu untuk saling mengenal dengan tujuan serius. Tapi aku juga tidak bisa menjanjikan jawabanku, karena aku masih dilema." Afifah menjawab permintaan Abhizar.

"Terimakasih, Fah. Aku akan segera kembali untuk bertemu orangtuamu. Kalau begitu aku pamit dulu, assalamualaikum!" pamit Abhizar.

"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan."

Afifah langsung kembali melakukan perjalanannya untuk pulang ke rumah, sejujurnya dia masih kepikiran tentang pernyataan dari Abhizar barusan. Rasanya seperti mimpi mendapatkan ajakan untuk kejenjang yang lebih serius.

***

Hari sudah berganti, libur telah usai, saat ini Afifah sudah kembali ke rutinitasnya untuk bekerja. Jarum jam sudah menunjukan pukul dua belas siang, sudah saatnya untuk istirahat makan siang.

"Fah? Hay, kok bengong sih?" ujar Elvano yang saat ini berada di depan Afifah. Jadi Afifah baru saja menyerahkan laporan pada bosnya, dan saat ini dia masih berada di ruangan Elvano.

"Eh, iya, Pak? Gimana laporannya, ada yang perlu diperbaiki lagi tidak?" tanya Afifah.

"Laporannya udah benar, sekarang udah waktunya istirahat. Kamu mau gak temenin saya makan di luar? Tenang, saya yang traktir, kebetulan ada restoran yang pengin saya datengin, tapi males kalo sendirian!" ujar Elvano, modus.

"Hmm, boleh deh, Pak!" jawab Afifah.

Setelah itu mereka bergegas pergi ke restoran yang letaknya tidak jauh dari kantor. Rupanya Elvano memilih restoran bernuansa romantis yang isinya kebanyakan pasangan.

Karma Bos Playboy Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang