Cerita ini sudah tamat di Karya Karsa Wihelmina Miladi
Afifah sendiri kaget dengan drama yang disuguhkan pagi-pagi begini, terlebih lagi ia harus terjebak dalam drama dikeluarga Effendi. Affifah ingin langsung berpamitan pulang karena merasa dia hanya orang asing yang tidak punya hak menyaksikan hal tersebut. Tapi lagi-lagi mamanya Elvano minta Afifah tetap di sana menjadi seseorang yang menenangkan dan memeluk beliau yang menangis.
"Maafkan Elvano, tapi sungguh aku sendiri tidak yakin kalau aku benar-benar pernah tidur dengan Nadila. Aku juga tidak yakin kalau anak ini adalah putraku!" ujar Elvano.
"Kalau kamu masih ragu, aku siap untuk tes DNA, ayo kita pergi ke rumah sakit untuk tes DNA."
Tanpa ragu Nadila mengajukan hal itu, tentu saja karena keyakinannya itu membuat yang lain merasa kalau perempuan itu benar. Kalau dia hanya mengada-ada, mana mungkin sampai seyakin itu untuk melakukan tes DNA.
"Baiklah, ayo kita pergi untuk tes DNA." Darius menyetujui usulan dari Nadila.
Mereka bergegas pergi untuk tes DNA, sedangkan Afifah tentu saja tidak ikut. Afifah langsung berangkat ke kantor, dia sendiri masih kaget karena tiba-tiba ada seorang perempuan membawa anak yang berusia sekitar tiga atau empat tahun itu. Memang Afifah pernah menyaksikan semata-mata saat Elvano berzina dengan perempuan di apartemennya. Saat itu dia bersama dengan Maria, dan karena hal itu membuat bosnya dihukum tinggal di kontrakan dekat rumah Afifah.
"Ya Allah, tolong lindungi jodohku, hamba mohon. Semoga jodoh hamba adalah seorang pria yang bisa menjaga diri, menjaga pandangan, dan menjaga martabatnya. Semoga jodoh hamba setia, yang cukup dengan satu wanita. Aamiin."
Afifah tanpa sadar berdoa tentang jodohnya, itu karena sebagai wanita Afifah merasa miris akan kelakuan lelaki yang gampang berzina dengan banyak wanita.
***
Elvano baru menyelesaikan proses untuk tes DNA yang ia dan anak dari Nadila, dia harus menunggu hasilnya ke luar kurang lebih dua sampai empat minggu lagi. Tentu saja Elvano merasa dirinya tidak baik-baik saja sekarang, dia sendiri jadi mulai ragu apakah anak dari Nadila itu anaknya. Mengingat saat itu Elvano mabuk dan tidak bisa mengingat seluruh kejadiannya.
Nadila sebenarnya merupakan salah satu teman SMA Elvano, mereka tidak pernah berpacaran. Tapi Elvano sampai bisa berciuman panas dan pergi ke kamar saat itu karena pengaruh alkohol. Ditambah lagi Nadila memang gatel, dia menggoda Elvano, ibarat kata kucing ditawari ikan asin tentu tidak akan menolak.
"Kalau nanti hasilnya ke luar dan terbukti kalau anak ini merupakan anak Elvano. Saya mau minta pertanggungjawaban, saya mau anak saya diakui dan mendapatkan haknya." Nadila dengan tegas mengatakan hal itu.
"Heh, kalau memang benar itu anak dari cucuku, mengapa kamu baru sekarang mencari dan meminta pertanggungjawaban darinya, huh? Lagi pula, anak di luar nikah tidak berhak mendapatkan harta ayahnya. Makanya sebelum berbuat itu dipikir dulu, jadi perempuan kok murahan, mau-mau saja tidur dengan pria yang belum jadi siapa-siapanya." Dengan nada pedas nenek Elvano menghina Nadila.
"Maaf, Nek. Saya memang salah, tapi di sini cucu nenek juga salah. Jadi jangan hanya menyalahkan perempuannya saja, karena ketika melakukan hal itu kita melakukannya bersama, bukan saya sendirian yang melakukannya." Nadila membalas perkataan dari nenek Elvano dengan begitu menohok.
"Lihat, perempuan ini benar-benar tidak tahu sopan santun!" kesal nenek Elvano.
"Saya hanya meminta hak anak saya, tapi ternyata keluarga Efendi yang terhormat memiliki perilaku yang seperti ini. Menyalahkan orang lain dan membela kesalahan keluarganya sendiri." Dengan tajam Nadila menyindir.
"Baiklah, jika nanti memang benar terbukti anak itu adalah darah daging Elvano, maka kami akan bertanggung jawab." Darius membuka suara.
"Terima kasih, kalau begitu saya permisi pulang dulu, sampai bertemu lagi." Dengan angkuhnya Nadila pergi dengan menggendong putranya.
Wajah keluarga Efendi benar-benar kacau, mereka tidak menyangka akan datang badai besar seperti ini dipagi hari. Maria dan nenek Elvano kemudian pulang ke rumah, sedangkan Elvano dan Darius memutuskan untuk tetap berangkat kerja ke kantor. Mereka sebagai bos memiliki tanggung jawab besar sehingga tidak bisa seenaknya libur. Saat ini kantor pusat sudah dipegang kendali sepenuhnya oleh Elvano, sedangkan Darius mengurus kantor cabang.
Sepanjang jalan pikiran Elvano benar-benar kalut. Sudah tadi pagi dimulai dengan pemberitahuan ke luar dari Afifah, ditambah insiden tentang anak Nadila.
"Ya Allah, hamba tahu hamba salah, hamba banyak dosa. Tapi hamba berharap kalau anak itu bukan anak hamba." Dengan mata berkaca-kaca Elvano berdoa. Dia mengendarai mobilnya dengan pelan karena tidak mau menyebabkan kecelakaan.
"Padahal gue udah pusing gara-gara jatuh cinta sama Afifah, tapi dia terlalu tinggi buat gue gapai. Mau menyatakan cinta aja gue udah ketar ketir duluan, terus ditambah saingan gue ternyata berat dan Afifah mau ke luar dari kantor. Sekarang muncul masalah ini, mana Afifah juga tahu, udah pasti gue makin jelek di mata Afifah." Elvano mengusap kasar wajahnya dengan frustasi.
"Gue tahu kesepatan gue buat diterima sama Afifah nyaris gak ada, tapi hati gue gak bisa mundur apalagi mengalah. Gue rasanya gak bisa melihat Afifah bersama pria lain, semoga masalah ini cepat selesai."
***
Akhirnya Elvano sampai di kantornya, jujur dia merasa malu bertemu Afifah. Rasanya berat sekali bertemu gadis yang dicintai setelah gadis itu tahu tentang kejadian tidak menyenangkan di mana ada perempuan yang mengaku memiliki anak dengan Elvano.
"Kenapa kaki gue rasanya berat banget mau melangkah masuk ke kantor. Gimana ekspresi dan pikiran Afifah tentang gue? Sumpah, gue gak sanggup dibenci sama Afifah."
Elvano kemudian menguatkan dirinya sendiri untuk masuk, dia akan berusaha professional dalam pekerjaan. Walaupun sebenarnya Elvano ingin sekali libur hari ini, karena kondisi otak dan hatinya sedang tidak kondusif.
Elvano ke luar dari lift karena sudah sampai di lantai ruangannya berada. Terlihat Afifah sedang sibuk dengan berkas-berkas di mejanya yang berada tepat di samping pintu ruangan Elvano.
Sapaan dari beberapa karyawan dan sekertarisnya yang lain terdengar di telinganya, Elvano hanya memaksakan tersenyum sambil mengangguk.
"Selamat pagi, Pak Elvano!" sapa Afifah sopan seperti biasanya.
Terlihat Afifah berusaha bersikap biasa saja di depan Elvano dan pura-pura tidak tahu tentang kejadian tadi pagi. Karena sejatinya Afifah tidak mau ikut campur urusan orang lain.
"Pagi, Fah." Elvano membalas sapaan Afifah tanpa berani menatap wajah gadis itu. Kemudian ia melenggang masuk ke ruangannya, sesampainya di dalam Elvano langsung melemparkan tubuhnya ke kursi.
Hari itu berjalan dengan keadaan canggung, sebenarnya Elvano sendiri yang membuat situasinya menjadi canggung. Afifah bisa memahami kondisi bosnya saat ini yang sedang banyak pikiran pastinya. Dia hanya bisa mendoakan agar masalah dikeluarga Efendi cepat selesai karena mereka orang-orang yang baik menurut Afifah.
***
Sudah dua minggu berlalu, akhirnya hasil tes DNA ke luar juga. Elvano dan keluarganya sudah berada di rumah sakit, begitu juga dengan Nadila. Setelah semuanya berkumpul, dokter langsung menyerahkan amplop yang masih tersegel atas nama Elvano.
"Pah, Elvano gak sanggup, Papa aja yang buka."
Dengan pias Elvano meminta papanya yang membuka hasil tes DNA miliknya. Darius dengan wajah tegang mengambil amplop itu dan membukanya, seketika wajahnya menegang melihat hasilnya.
"Pah, gimana hasilnya?" tanya Maria dengan wajah tegang berkaca-kaca.
"Hasilnya Sembilan puluh delapan persen cocok, Mah!" jawab Darius dengan bibir bergetar dan napas yang memburu.
"APA?" pekik Elvano merasa seolah tertimba langit yang runtuh.
Saking kagetnya nenek Elvano sampai pingsan, dan Maria lemas bukan main. Elvano juga merasa seperti kehilangan seluruh tenaganya, tanpa sadar air matanya menetes, kalau begini pasti kesempatannya mendapatkan Afifah sudah tidak ada lagi.
Sedangkan Nadila tampak tersenyum puas mendengar hasilnya, apalagi saat melihat nenek Elvano yang sombong sampai pingsan karena kaget.
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma Bos Playboy
RandomElvano Rafardhan Effendi, anak tunggal dari seorang konglomerat yang berdarah campuran Indonesia-Amerika. Pria itu tumbuh menjadi sosok playboy yang suka bergonta-ganti pasangan, bahkan dia beberapa kali tidur dengan perempuan berbeda. Wajah tampan...
