28- Rahasia

365 49 3
                                        

Cerita ini sudah tamat di Karya Karsa cari saja Wihelmina Miladi

Afifah bersama dengan temannya yang bernama Dinda itu memutuskan untuk makan di tempat makan yang tidak jauh dari masjid tempat mereka sholat. Kebetulan tempat makan itu memang kecil, itu hanya warung makan mie ayam bakso yang terdiri dari empat meja saja.

Saat baru saja masuk, Afifah hanya melihat ada satu keluarga yang terdiri dari ibu, bapak, dan anak yang duduk di dekat lemari pendingin yang terpajang minuman dingin. Lalu ada satu pasangan yang duduk di meja sebelah keluarga itu. Akhirnya Afifah dan Dinda duduk di meja nomer satu yang berada di depan, dekat dengan pintu.

"Din, kamu mau pesan apa?" tanya Afifah

"Mie ayam aja deh, tapi gak pake daun bawang. Kalau minumnya aku es the manis."

"Oke, aku ke depan pesan dulu, ya," ujar Afifah kemudian beranjak ke tempat penjual itu memasak di gerobaknya.

"Pak, Mie ayam gak pake daun bawang satu, terus satunya mie ayam bakso," pesan Afifah.

"Baik, Neng, minumnya apa?" tanya penjual itu.

"Es teh manis dua," jawab Afifah.

"Oke, ditunggu, Neng."

Setelah memesan, Afifah langsung masuk lagi ke dalam. Tapi Afifah mendadak terhenti saat melihat perempuan yang duduk di belakang tempat duduknya dan Dinda. Wajahnya terlihat familiar, seperti pernah lihat, tapi Afifah sendiri lupa.

'Ah, perempuan itu mirip sama perempuan yang datang dan mengaku punya anak dengan Pak Elvano. Tapi kenapa dia di sini? Mana anaknya, dan kenapa dia bersama dengan seorang pria? Ah, tapi mungkin aku salah orang kali.' Afifah kemudian memutuskan untuk mengabaikannya dan duduk di tempatnya.

"Kenapa kita harus makan di tempat kaya gini sih? Gak ada tempat lain memangnya? Setidaknya Kafe atau restoran!" kesal perempuan itu pada pria yang bersamanya.

"Udah deh, kamu gak usah banyak protes. Kamu tahu sendiri kita lagi kesusahan uang." Pria itu menenangkan.

"Tapi kemarin kita 'kan dapat uang dari dia, itu uangnya gak main-main loh!" ujar perempuan itu.

"Uangnya udah dipakai buat bayar apartemen, kamu tahu sendiri keluargaku bangkrut."

"Tahu begini aku tidak mau menikah denganmu, aku menikah denganmu agar bisa hidup enak, jadi orang kaya. Tapi kenyataannya hidupku malah melarat begini. Tahu begitu dulu aku gugurkan saja kandunganku, dan aku bisa mencari pria kaya lain."

Terlihat perempuan itu kesal, hal itu membuat Afifah dan Dinda yang tidak sengaja mendengarnya hanya bisa saling tatap tanpa berani bersuara. Sedangkan keluarga kecil yang tadinya berada di samping pasangan itu sudah pergi karena mereka telah selesai makan sejak tadi.

"Kau!" kesal pria yang bersamanya.

"Hah, andai waktu itu aku benar-benar tidur dengan Elvano. Pasti sekarang aku sudah menjadi nyonya Efendi," kesal perempuan itu.

"Halah, biarpun kamu saat itu tidur dengan Elvano dan mengandung anaknya sekalipun, kamu tetap tidak akan menjadi Nyonya Efendi. Nyatanya sekarang saja dia tidak mau menikahimu, keluarganya juga tidak mau menjadikanmu menantu, meski kamu memintanya atas dasar bayi itu." Pria itu terlihat mengejek.

Seketika Afifah tercengang mendengarnya, jadi benar kalau perempuan itu adalah perempuan yang mengaku mempunyai anak dengan Elvano. Tapi bagaimana mungkin? Bukankah hasil tes DNA menunjukan kalau Elvano memang benar ayah biologis dari anak yang dibawa oleh perempuan itu.

"Sialan, sia-sia saja kita membuat sandiwara ini!" kesal perempuan itu.

"Pelankan suaramu, Nadila!" titah pria yang bersamanya.

"Ah, sudahlah lagipula sekarang kita sedang berada di tempat rakyat jelata, tidak mungkin ada yang tahu juga!" ujar Nadila.

"Tapi tetap saja, akan bahaya kalau ini bocor, dia pasti murka. Setidaknya sekarang kita bisa membayar sewa apartemen selama dua tahun. Kita juga jadi punya baby sitter yang merawat bayi, lalu kita punya uang untuk memulai usaha."

"Iya sih, tapi dia benar-benar kaya, ya, sampai bisa membayar petugas rumah sakit untuk memalsukan tes DNA begitu. Harusnya kita minta bayaran lebih, pekerjaan kita sangat beresiko, kalau ketahuan bisa tamat kita." Nadila menyarankan pria yang bersamanya untuk meminta bayaran lebih.

"Kamu benar, nanti aku akan minta uang yang lebih banyak lagi padanya. Tapi setidaknya hidup anak kita terjamin oleh keluarga Efendi, bukan hanya masa depannya, tapi dia juga mendapat warisan kelak. Dan kamu juga tetap mendapatkan uang konpensasi dari mereka. Kita seperti menyelam sambil minum air, dua pulau sekali dayung." Pria itu terlihat gembira.

"Ya, kamu benar. Kalau begitu ayo pulang, besok aku dan bayi kita akan segera pindah ke rumah yang mereka berikan."

Kemudian mereka berdua beranjak pergi setelah membayar. Afifah masih kaget dengan apa yang dia dengar, setelah makan Afifah harus secepatnya memberitahu hal ini pada Elvano.

***

Sore ini juga Afifah meminta bertemu dengan Elvano, untuk keamanan dari kebocoran maka Afifah meminta Elvano ke rumahnya.

"Fah, ada apa? Tumben kamu ngajak ketemu." Elvano menyempatkan diri datang meski saat ini dia tengah sibuk.

"Begini, Pak. Tadi saya tidak sengaja bertemu dengan perempuan yang mengaku memiliki anak dengan Bapak."

"Hah, Nadila?"

"Iya, ceritanya panjang. Tapi intinya anak itu bukan anak kandung Bapak, tes DNA itu dipalsukan. Saya tidak sengaja menguping pembicaraan antara Nadila dengan pria yang saat itu bersamanya. Kalau kesimpulan saya sih pria itu suaminya yang saat ini tengah bangkrut."

"Apa? Bagaimana bisa, terus apa lagi yang kamu tahu?" tanya Elvano dengan raut wajah kaget.

"Sepertinya mereka dibayar seseorang untuk bersandiwara begitu, bahkan orang itu yang telah memalsukan hasil tes DNA di rumah sakit. Saya minta Bapak menyelidiki mereka dengan detail, juga selidiki dalang dibalik ini semua."

"Hah, seperti dugaan saya, pasti ada seseorang yang sengaja merencanakan ini untuk menghancurkan saya. Sebenarnya saya sudah curiga kalau ada seseorang yang sudah mengintai saya dari dulu, buktinya dia bisa punya foto aib saya dimasa lalu dan menyebarkannya sekarang untuk menghancurkan saya."

"Astagfirullah, yang sabar, Pak. Tapi sebelum itu, saya punya ide, bagaimana kalau Bapak diam-diam melakukan tes DNA di beberapa rumah sakit lain untuk memastikan hasilnya. Lalu selidiki juga petugas yang disogok untuk memalsukan hasil tes di rumah sakit sebelumnya." Afifah memberikan ide.

"Kamu benar, Fah. Hiks, terima kasih banyak!" ujar Elvano yang tanpa diduga sampai meneteskan air mata di depan Afifah.

"Sama-sama, Pak. Saya harap semua masalah ini bisa cepat selesai. Bapak juga harus banyak berserah diri dan mendekatkan diri pada Allah, hanya Allah SWT yang mampu membantu Bapak. Hati Bapak akan jauh lebih tenang kalau menyerahkan semuanya pada-Nya."

"Iya, Fah, makasih sarannya, makasih juga doa dan bantuannya."

Elvano merasa menemukan cahaya dikegelapan, mungkin ini jawaban dan bantuan Allah atas doa dan permintaan Elvano. Segera setelahnya Elvano melaksanakan apa yang Afifah sarankan. 

Karma Bos Playboy Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang