Cerita ini sudah tamat di Karya Karsa Wihelmina Miladi
Kini mereka sudah berada di kediaman Efendi, mereka akan mendiskusikan terkait hasil tes yang sudah ke luar. Nenek Elvano tidak ikut karena kondisinya yang tidak memungkinkan.
"Jadi, bagaimana kalian akan mulai bertanggungjawab padaku dan anak ini." Nadila membuka perbincangan.
"Karena sudah terbukti kalau anak itu adalah anak Elvano, meskipun anak itu adalah anak di luar nikah dan menurut agama tidak mendapat nasab ayahnya, tidak ada kewajiban dari ayahnya untuk memberikan nafkah, dan tidak berhak mendapatkan warisan. Tapi seperti janji saya diawal, kami akan tetap memberikan nafkah, menjamin kehidupannya, pendidikannya sampai dewasa, serta tetap memberikan warisan." Darius membuat keputusan yang bijak.
"Tapi saya tidak mau kalau anak saya nanti saat besar jadi hinaan orang karena tidak memiliki ayah. Apa kalian tidak memikirkan reputasi keluarga?" ujar Nadila.
"Lantas apa maumu, Nadila?" geram Elvano kesal.
"Aku mau memberikan status dan keluarga yang lengkap untuk putraku. Aku ingin agar kita menikah, selama ini aku sudah sangat menderita menjadi seorang ibu tanpa menikah." Nadila mengutarakan keinginannya.
"Tidak, aku tidak mau. Kamu jangan ngelunjak, masih syukur 'kan aku bertanggung jawab atas anak itu, tentang hidupnya, kebutuhannya, pendidikannya, bahkan dia tetap mendapatkan harta warisan. Jangan meminta lebih dari itu, aku bisa memberikanmu uang sebagai ganti rugi, tapi aku tidak mau menikahimu!" tegas Elvano.
"Hah, lucu sekali, kamu pikir bagaimana aku menjalani hidupku selama ini, El? Apa uang itu bisa menggantikan masa depanku yang hancur, reputasi burukku, dan penderitaanku?" ujar Nadila.
"Apa dengan menikah denganku bisa menghilangkan semua yang sudah terjadi? Tidak 'kan? Semua sama saja, yang sudah terjadi tidak akan mungkin bisa dihapus. Aku tidak mau menikah denganmu, aku sudah berbaik hati memberikan tanggungjawab seperti itu untukmu dan anakmu!" kesal Elvano tidak mau kalah.
"Tapi—"
"Sudah, cukup, jangan bertengkar lagi. Sakit kepala mama mendengarnya!" ujar Maria menengahi.
"Nadila, untuk yang kali ini kami setuju dengan Elvano. Kami tidak bisa menikahkan putra kami denganmu. Sebagai gantinya kami akan memberikan tunjangan untukmu."
Darius menolak menikahkan Elvano dengan Nadila karena dia merasa tidak rela menerima wanita itu sebagai menantu satu-satunya dikeluarga Efendi. Entahlah, feeling seorang ayah mengatakan demikian, dia tidak suka melihat wanita itu. Meskipun dia juga menyalahkan Elvano karena putranya memang salah, tapi dia tidak bisa menerima Nadila sebagai menantu.
"Om, itu gak adil buat saya."
"Cukup, kamu makin lama makin ngelunjak. Saya setuju dengan suami saya, kami tidak bisa menerimamu sebagai menantu dikeluarga ini. Cukup terima tanggungjawab dari kami, jangan meminta lebih!" ujar Maria.
Rupanya sebagai seorang ibu, Maria juga tidak rela anaknya menikah dengan Nadila. Meskipun anaknya anak yang buruk dimasa lalu, tapi sekarang Elvano sudah berubah, dan Maria menghargai hal itu. Dia ingin memiliki menantu yang baik dan jelas babat, bibit, bobotnya. Feeling Maria pada Nadila tidak bagus, itulah mengapa Maria mendukung keputusan anak dan suaminya, meskipun dia seorang wanita.
"Hah, baiklah."
Pada akhirnya perdebatan yang panjang berakhir dengan beberapa kesepakatan. Nadila kemudian membawa anaknya pergi, setelah itu Elvano harus mendengarkan kemarahan dari papa dan mamanya. Bahkan Darius sampai memukul putranya karena saking kecewanya.
Bugh ... Bugh ...
"Lihat kamu, El, ini semua buah dari apa yang kamu tanam. Kamu benar-benar sukses melemparkan kotoran kewajah papamu ini. Hari ini satu perempuan yang datang meminta pertanggungjawabanmu. Tapi besok, lusa, atau entah kapan lagi, tidak ada jaminan kalau tidak akan muncul perempuan-perempuan lain yang meminta pertanggungjawabanmu!" ujar Darius sambil berlinangan air mata.
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma Bos Playboy
RandomElvano Rafardhan Effendi, anak tunggal dari seorang konglomerat yang berdarah campuran Indonesia-Amerika. Pria itu tumbuh menjadi sosok playboy yang suka bergonta-ganti pasangan, bahkan dia beberapa kali tidur dengan perempuan berbeda. Wajah tampan...
