34- Sangat serius dengan perasaan ini

408 28 1
                                        

Elvano terlihat mengemasi barang-barangnya, dia sudah memutuskan untuk pindah ke apartemen yang dulu pernah Elvano tempati.

"Loh, Elvano, kamu mau ke mana?" tanya mamanya.

"Aku mau pindah tinggal di apartemen aja, aku gak mau nambahin dosa. Kalau aku tetap di sini, aku pasti gak akan tahan sama hinaan oma pada keluarga Afifah. Aku gak bisa mendengar orang yang aku cintai dihina seperti itu."

"El, kamu serius suka sama Afifah?" tanya mamanya

"Sangat serius, Mah, aku mohon doakan aku. Aku butuh doa dari Mama, doakan aku supaya berjodoh dengan Afifah, agar dia mau menerimaku. Aku ingin menikah dengan Afifah, Mah."

"Nak, setiap saat mama selalu mendoakan yang terbaik untukmu, tanpa kamu minta. Apapun keputusanmu, selama itu baik, mama akan dukung."

"Terima kasih banyak, Mah. Aku sudah meminta ijin pada papa semalam untuk pindah, dan papa sudah memberiku ijin."

"Loh, Elvano, kamu mau ke mana?" tanya Yuria saat melihat Elvano yang tengah menyeret kopernya.

"Pindah ke apartemen!" jawab Elvano datar.

"Loh, kenapa?" tanya Yuria tapi Elvano tidak menjawab.

"El, kamu mau ke mana?" tanya neneknya yang baru ke luar dari kamarnya. Saat itu neneknya berniat pergi ke dapur untuk mengambil air putih.

"Mau pindah ke apartemen, Oma." Elvano menjawab neneknya karena tidak mau durhaka.

"Loh, kenapa kamu harus pindah?" tanya neneknya.

"Gapapa."

"El, jangan bilang ini semua demi gadis itu?" sinis neneknya.

"Bukan, itu semua karena Oma. Aku tidak mau berdosa lebih banyak kalau tetap berada satu atap dengan Oma, aku tidak akan kuat mendengar hinaan yang Oma lontarkan pada orang yang aku cintai dan keluarganya."

"Lihat, lagi-lagi semua karena anaknya Umar. Mereka itu membawa efek buruk padamu."

"Lihat kan, lagi-lagi Oma menghina mereka. Menyesal aku semalam percaya pada janji Oma yang bilang tidak akan mengacaukan makan malam dengan menghina Afifah."

"Jadi kamu menyalahkan Oma?" protes neneknya.

"Ah, sudahlah, aku malas berdebat dengan Oma. Aku pamit, assalamualaikum."

"Waalaikumsalam." Maria sendiri yang menjawab.

"Hey, Maria, kamu tidak menghentikan putramu!" ujar ibu mertua mamanya Elvano.

"Kenapa harus dihentikan, Bu? Elvano sudah besar, asalkan Elvano masih dijalan yang benar. Lagi pula Mas Darius juga sudah memberikan ijin pada Elvano untuk pindah."

"Kamu masih belum sadar juga, sudah jelas-jelas Umar dan keluaganya itu licik. Jangan-jangan mereka sudah mengguna-guna keluarga ini dengan sihir hitam lagi, jadi kalian sebegitu percayanya sama mereka."

"Astagfirullah, Bu, jangan selalu berburuk sangka seperti itu dong."

"Kenyataannya kaya gitu, kalian sudah dibutakan, memangnya kamu rela Elvano menikah dengan anaknya Umar yang gak sederajat sama sekali dengan keluarga kita?"

"Kalau memang Elvano benar-benar mencintai Afifah, dan Afifah juga mau menikah dengan Elvano, kalau aku pribadi sih merestui saja. Aku tahu Afifah gadis yang baik, keluarganya juga baik."

"Kamu sudah gila? Ibu tidak rela kalau sampai cucu ibu menikah dengan gadis itu. Sudah pasti mereka itu hanya mengincar harta kita, jangan hanya menilai dari penampilan luarnya saja. Biasanya orang-orang yang memasang topeng baik di depan, ternyata busuk di belakang."

Karma Bos Playboy Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang