Saat jam menunjukan pukul 19:00 WIB, ternyata ayah Afifah pulang, tapi rupanya beliau datang bersama dengan seorang pria yang sejak kemarin membuat Afifah jadi pusing. Afifah langsung masuk ke kamarnya untuk mengambil hijab, setelah mengenakannya baru dia ke luar menemui tamu.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, loh, ada Nak Elvano juga toh."
"Iya, Bu, aku pengin mampir sebentar untuk membicarakan hal penting."
"Tadi pas ayah mau pulang, ternyata ada Nak Elvano yang sudah menunggu. Katanya mau mampir, ayo sini duduk dulu!" ujar ayah Afifah.
"Kamu mau minum apa, Nak? Teh, kopi, atau sirup?" tanya ibunya Afifah.
"Gak usah repot-repot, Bu, air putih saja. Oh iya, ini ada sedikit jajanan tadi beli di jalan."
Elvano menyerahkan sekresek jajanan berisi molen, nugget coklat aneka rasa, martabak telor, dan kentaki. Ibunya melihat itu tentu saja tercengang, baru tadi dia mendapat buah tangan dari Abhizar, dan sekarang Elvano juga membawakan banyak makanan.
"Duh, kamu repot-repot bawa jajanan sebanyak ini, kalau mau main, kamu tinggal main aja, Nak. Tapi makasih banyak yah, sebentar ibu ambilin minum."
Ibunya pergi ke belakang untuk mengambil minum dan menyajikan cemilan yang Elvano bawa ke dalam piring untuk dihidangkan menyuguh tamu.
Sedangkan Afifah terlihat ketar-ketir karena kedatangan mantan bosnya itu. Afifah memang tidak menceritakan pada orangtuanya tentang Elvano yang kemarin malam menyatakan perasaannya di depan keluarga pria itu. Ternyata Elvano tidak main-main dengan perkataannya, dia datang ke rumah pasti tidak lain dan tidak bukan untuk menyampaikan niatnya pada orangtua Afifah, seperti yang kemarin Elvano katakan.
"Jadi, hal penting apa yang ingin Nak Elvano sampaikan pada kami?" tanya ayah Afifah saat istrinya sudah kembali dari dapur dan saat ini duduk di sebelahnya.
Elvano terlihat berkeringat dingin, ini pertama kalinya dia datang ke rumah seorang gadis dan berbincang dengan keluarganya. Apalagi ini gadis yang Elvano cintai, bisa dibilang cinta pertamanya. Elvano ketar-ketir karena mengingat track record Elvano yang benar-benar buruk dimasa lalu.
"Begini, sebelumnya saya mau minta maaf karena saya benar-benar tidak tahu diri. Saya tahu masa lalu saya sangat buruk, tapi saya sekarang sudah tidak seperti dulu. Saya benar-benar sudah mantap untuk berubah ke arah yang lebih baik. Saya akan terus belajar dan memperbaiki, meskipun itu tidak mungkin bisa menghapus apa yang sudah terjadi dimasa lalu. Saya benar-benar minta maaf karena saya mencintai putri kalian, Afifah."
Perkataan dari Elvano membuat kedua orangtua Afifah kaget bukan main, raut wajah mereka tampak tidak selow sama sekali. Keduanya tidak pernah menyangka kalau anak dari majikannya yang notabene-nya mantan bos Afifah ternyata menyukai anak gadis mereka. Selama ini mereka memang menganggap Elvano seperti keluarga sendiri, apalagi Elvano merupakan anak satu-satunya dari orang yang sangat mereka hormati. Orang yang selama ini sangat berjasa pada keluarga mereka.
"Pak, Bu, saya tahu saya terlalu tidak tahu malu. Beraninya pria dengan masa lalu kelam seperti saya mendambakan perempuan baik-baik seperti Afifah. Tapi perasaan saya tidak bisa dibohongi, ini cinta yang sangat dalam. Selama ini saya belum pernah merasakan perasaan ini pada siapapun. Saya hanya ingin meminta ijin pada kalian, bolehkan saya mendekati Afifah untuk memperjuangkan perasaan saya. Saya berniat serius, saya ingin menikahi Afifah, itupun kalau nantinya Afifah bersedia dan kalian merestuinya."
"Nak, bapak benar-benar sangat terkejut mendengarnya. Sampai-sampai bapak tidak tahu harus memberikan respon seperti apa, rasanya bapak benar-benar kehilangan kata-kata."
Terlihat ayah Afifah memang kebingungan, seperti habis mendengar sesuatu yang benar-benar mengagetkannya. Tentu saja ayahnya sampai kehilangan kata-kata.
"Nak, begini, maaf sebelumnya. Apakah keluargamu sudah tahu tentang ini?" tanya ibunya Afifah.
"Sudah, mereka sudah tahu. Papa dan mama setuju jika aku mengejar Afifah dan memintanya jadi istriku. Mereka bahkan siap jika harus datang ke sini untuk melamar, tapi saya tidak mau buru-buru, saya ingin meyakinkan Afifah lebih dulu. Semua keputusan ada di tangan Afifah, mungkin nanti papa dan mama akan datang untuk meminta ijin secara resmi untukku mendekati Afifah dengan tujuan pernikahan."
"Apa mereka benar-benar tidak masalah dengan perasaanmu pada Afifah? Seperti yang kamu tahu, keluarga kami bukan berasal dari kalangan orang kaya seperti kalian. Keluarga kami tidak sepadan dengan keluarga kalian."
"Pak, Bu, orantuaku tidak pernah mempermasalahkan status social. Bukankan semua manusia sama di depan Allah SWT? Yang membedakan bukan hartanya, melainkan amal ibadahnya. Orantuaku selalu mengajarkan hal itu, dan mereka tidak mempermasalahkan tentang status social. Apalagi mereka tahu kalau Afifah gadis yang baik, keluarganya juga keluarga baik-baik. Justru aku yang ketar-ketir, aku dan Afifah seperti langit dan bumi, masa laluku benar-benar buruk."
"Nak, menilai seseorang bukan berdasarkan masa lalunya, tapi masa kini. Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan berubah. Allah saja mencintai hamba-hambanya yang bertaubat dengan taubatan nasuha. Bapak pernah dengar, Allah lebih menyayangi orang-orang berdosa yang mengakui kesalahannya, kemudian memohon ampunan dengan taubatan nasuha, tidak mengulangi kesalahannya dan senantiasa memperbaiki diri. Dibandingkan seorang ahli agama atau ahli ibadah yang sombong, merasa lebih baik dari pada manusia lain, dan tidak pernah merasa akan dosanya, senantiasa merasa paling suci." Ayah Afifah menjelaskan.
"Kamu tahu iblis? Dia senantiasa menyembah Allah tanpa henti dalam waktu yang sangat amat lama. Tapi Allah langsung melaknatnya karena dia sombong, tidak mau menuruti perintah Allah kala itu, hanya karena merasa dirinya yang diciptakan dari api lebih baik dari Nabi Adam yang tercipta dari tanah," sambung ayah Afifah lagi.
"Betul itu, Nak Elvano. Tapi sebelumnya kami mau minta maaf, sebelumnya Afifah sudah mendapatkan permohonan pernikahan lebih dulu. Dia teman semasa sekolah Afifah dulu, namanya Abhizar. Memang sih saat ini Afifah belum memberikan jawaban karena masih butuh waktu memikirkannya," ujar ibu Afifah.
"Iya, Bu, saya sudah tahu tentang itu. Saya tidak masalah, selama Afifah belum melakukan akad nikah, saya akan terus maju berjuang." Elvano sudah menguatkan tekadnya.
"Kalau saya sih terserah dari Afifah saja, semua keputusan ada di tangan Afifah."
Ayah Afifah memandang putrinya, semua keputusan beliau serahkan sepenuhnya kepada putrinya karena yang menjalani pernikahan itu nantinya tentu saja Afifah.
"Bagaimana, Fah, apa kamu mau memberikanku kesempatan?" tanya Elvano
"Hah, kalau Bapak mau membuktikan keseriusan Bapak, silakan saja. Tapi saya juga harus memberitahu Abhizar lebih dulu kalau ada pria lain yang datang mengajukan permohonan pernikahan, sama sepertinya."
"Baiklah, terimakasih banyak, Fah!" pekik Elvano penuh semangat.
Dia tidak akan membuang kesempatan ini, Elvano akan membuktikan keseriusannya.
"Kalau begitu saya pamit pulang, Pak, Bu, sudah malam, saya juga gak enak kalau main lama-lama." Elvano berpamitan pulang ke apartemennya.
Setelah kepergian Elvano, ayah dan ibu Afifah tampak pusing sambil memijat kening mereka. Siapa sangka putrinya diperebutkan dua pria yang berasal dari keluarga berada dengan status social yang tinggi. Satunya anak dari pemilik pondok pesantren dan sekolah tempat Afifah dulu menuntut ilmu, satunya lagi anak dari bos besar tempat ayahnya bekerja menjadi sopir pribadi mereka.
Sebenarnya Umar tidak pernah mengharapkan menantu yang muluk-muluk. Asalkan pria yang akan menikahi Afifah itu setia, bertanggung jawab, tidak kasar, pria itu dan keluarganya mau menerima Afifah dan keluarganya apa adanya.
"Fah, kamu jangan lupa pasrahkan semuanya sama Allah, minta petunjuk jalan mana yang harus kamu tempuh agar kamu tidak salah mengambil langkah. Selalu libatkan Allah dalam setiap langkahmu, nanti kamu sholat istikharah yah, minta petunjuk sama Allah." Pak Umar memberikan nasehat pada putrinya.
"Iya, Ayah, aku juga minta doa kalian. Supaya aku tidak salah mengambil langkah."
"Tanpa kamu minta, setiap saat ayah dan ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
Karma Bos Playboy
AcakElvano Rafardhan Effendi, anak tunggal dari seorang konglomerat yang berdarah campuran Indonesia-Amerika. Pria itu tumbuh menjadi sosok playboy yang suka bergonta-ganti pasangan, bahkan dia beberapa kali tidur dengan perempuan berbeda. Wajah tampan...
