Cermin Ajaib Raja

196 3 0
                                        

Oleh Dwiyanto

(Pemenang III Lomba Dongeng Bobo 2001)

Bobo Nomor 5 Tahun XXX 2 Mei 2002


Betapa sedih Raja Alkana sepulang dari berburu di hutan. Ternyata cerminnya tertinggal. Cermin itu warisan dari almarhum ayahandanya. Cermin itu tak boleh hilang, begitulah pesan ayahnya. Akhirnya ia mengutus beberapa pengawalnya untuk kembali ke dalam hutan. Siapa tahu cermin itu terjatuh di jalan.

Setelah ditunggu beberapa lama, para pengawal kembali dengan tangan hampa

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Setelah ditunggu beberapa lama, para pengawal kembali dengan tangan hampa. "Ampun Baginda Raja Alkana. Kami siap dihukum karena gagal melaksanakan tugas," kata prajurit yang tertua.

Raja Alkana tersenyum.

"Tidak. Kalian tidak akan aku hukum. Itu semua karena keteledoranku sendiri," kata sang Raja dengan bijak.

Sampai di istana, Raja menyuruh Patih membuat sayembara. Barang siapa yang bisa menemukan dan membawa cermin itu ke istana, maka dia akan mendapat 10 keping emas.

Sampai berminggu-minggu, tak seorang pun yang bisa membawa cermin itu ke istana. Raja makin sedih.

Setelah satu bulan berlalu, datanglah empat orang membawa cermin itu. Keempat cermin itu sangat mirip dengan aslinya. Raja Alkana sampai bingung menentukan mana yang asli. Raja Alkana memutar otak. Setelah beberapa saat kemudian, ia menemukan pemecahannya.

"Baiklah, aku tak bisa menentukan, yang mana cermin milikku. Namun cerminku itu mempunyai keajaiban. Nah pulanglah. Bawa kembali cermin itu besok. Ceritakanlah tentang keajaiban cermin itu di depanku besok. Dari cerita kalian, aku bisa tahu manakah cermin yang asli," ucap sang Raja.

Keempat orang itu pun pulang membawa cermin yang telah mereka temukan.

Keesokan paginya, keempat penemu cermin itu kembali ke istana. Tiga orang nampak berseri-seri. Rupanya mereka merasa telah menemukan keajaiban dengan cermin yang dibawanya.

Pemuda pertama maju ke depan. Pakaiannya sangat bagus. Ia adalah seorang pemburu yang kaya.

"Ayo ceritakan keajaiban cermin yang kau pegang itu," perintah Raja.

"Dengan melihat cermin ini, Baginda akan tahu di mana tempat-tempat di dalam hutan yang banyak hewan buruannya. Semua rakyat di negeri ini tahu Baginda adalah seorang pemburu yang hebat. Tak pernah pulang dengan tangan kosong karena kehebatan cermin ini," cerita si pemburu kaya mantap.

Raja Alkana mengangguk-angguk.

"Dan kau! Coba ceritakan kelebihan cerminmu itu!" kata Raja kemudian.

Pemuda yang kedua bangkit. Ia pun seorang pemburu. "Baginda akan selalu awet muda jika sering bercermin dengan kaca ini. Itu sebabnya Baginda selalu terlihat muda. Ini adalah cermin Baginda yang asli," cerita pemuda kedua dengan meyakinkan.

Lagi-lagi sang raja mengangguk-angguk.

Kini giliran pemuda ketiga.

"Inilah cermin Baginda yang paling asli. Yang lain itu cuma tiruan. Ketika melihat ke cermin ini, saya melihat negeri yang elok sekali. Bunga-bunga tumbuh wangi dan bermekaran. Saya juga mendengar kicauan burung yang menenteramkan hati. Hati ini terasa sejuk, seperti berada di negeri kayangan. Oh Baginda sungguh berbahagia memiliki cermin ajaib ini. Namun karena ini milik Baginda maka saya kembalikan. Dan sayalah pemenang sayembara ini," kata pemuda ketiga dengan sangat mantap.

 Dan sayalah pemenang sayembara ini," kata pemuda ketiga dengan sangat mantap

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Pemuda terakhir, sekarang giliranmu!" perintah Raja.

"Ampun Baginda, saya cuma tukang cari kayu di hutan. Kebetulan saya menemukan cermin ini tergeletak di pinggir sungai. Saya tak bisa menceritakan keajaiban cermin ini. Saya sudah melihat wajah saya di cermin ini. Ternyata saya sungguh buruk," cerita si tukang kayu sedih.

Ketiga pemuda lainnya tertawa mendengar pengakuan yang amat polos.

Raja tersenyum lalu berkata,

"Pengawal, beri 10 keping emas pada pemuda terakhir itu. Dan tangkaplah tiga pemuda yang mengarang-ngarang cerita itu. Cerminku itu cermin biasa. Setiap kali bercermin di cermin itu, aku sadar bahwa aku semakin tua. Jadi aku harus makin arif memimpin kerajaan ini," ucap sang Raja menutup sayembara.

****


Hai! Terima kasih telah membaca kliping cerita ini. Kalaukamu tertarik membaca kliping sejarah juga, silakan berkunjung ke http://klipingsejarahku.blogspot.com/.

Kumpulan Cerpen dan Dongeng Bobo 2002Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang