Terjadinya Jeram Rambut Putih

55 1 0
                                        

Bobo Nomor 48 Tahun XXIX 28 Februari 2002


Di sebuah pegunungan tinggi, terdapat sebuah desa yang gersang. Di situ tidak ada sumber air. Untuk mendapatkan air, penduduk biasa menadah air hujan ataupun pergi ke kali yang sangat jauh. Salah satu penghuni desa itu adalah seorang gadis berambut hitam semata kaki. Ia dikenal dengan nama Gadis Rambut Panjang. Ia tinggal bersama ibunya yang tua dan sakit-sakitan.

Setiap pagi, si Gadis pergi mencari air di kali yang jauh. Setelah itu ia naik ke kaki pegunungan, mengumpulkan daun-daun liar untuk makanan ternak.

Suatu hari, saat naik ke pegunungan, ia menemukan sebatang tumbuhan Turnip. Daun-daunnya berwarna hijau lumut. Buahnya cuma satu, bulat, besar, warnanya merah. "Nah, ini makan malam yang lezat!" sorak si Gadis.

Dicabutnya turnip itu dengan kedua tangannya. Dari bekas tempat tumbuhnya terbentuk sebuah lubang di batu karang. Lubang itu memancarkan air bening. Tiba-tiba, turnip tadi melompat dan kembali menutup lubang, menyumbat aliran air. Gadis Rambut Panjang merasa haus. Dicabutnya turnip agar air kembali mengalir. Air itu terasa sejuk dan manis. Tapi begitu ia selesai minum, turnip melompat dari tangannya, kembali menutup aliran air.

Gadis Rambut Panjang berdiri bingung. Tiba-tiba ia tersedot masuk ke dalam gua. Di gua itu, ada seorang lelaki diselimuti rambut berwarna cokelat. Dialah Dewa Pegunungan. Dengan suara menggelegar, berkatalah ia, "Kalau kau buka rahasia mata air ini, kau akan kuikat di tepi tebing air terjun!"

Gadis Rambut Panjang pulang. Hatinya amat risau. Ia tidak bercerita pada siapa pun tentang mata air manis itu, bahkan kepada ibunya. Ia mengamati tanah ladang yang retak-retak. Para penduduk membanting tulang mencangkulinya. Pria dan wanita, tua dan muda, tampak lelah menjinjing air yang diambil dari kali yang jauh.

 Pria dan wanita, tua dan muda, tampak lelah menjinjing air yang diambil dari kali yang jauh

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Gadis Rambut Panjang tak bisa mengambil keputusan. Jika ia membuka rahasia sumber air itu, ia akan kehilangan nyawa. Namun kalau diam saja, ia akan tersiksa melihat penduduk desa yang sengsara. Si Gadis menjadi kehilangan selera makan dan sulit tidur. Pipinya menjadi cekung. Rambutnya yang hitam berkilau menjadi kering. Ibunya ingin menolong. Namun si Gadis hanya diam.

Karena begitu berat beban pikirannya, dalam waktu singkat rambutnya yang hitam kelam berubah menjadi seputih salju. Penduduk desa heran melihatnya. Apalagi mereka sering melihat si Gadis melamun. Mulutnya berkomat-kamit, seperti berkata, "Di atas pegunungan tinggi ada sebuah ...." Namun kalimatnya tak pernah selesai.

Suatu hari, si Gadis melihat seorang kakek berjalan terhuyung-huyung. Kakek itu menenteng ember berisi air yang diambilnya dari kali. Kakek yang malang itu tersandung. Embernya pecah, airnya tumpah berhamburan.

Gadis Rambut Panjang berlari menolongnya. Dibebatnya lecet-lecet kakek itu dengan sobekan gaunnya. Si Gadis tiba-tiba menjadi benci pada sifatnya yang pengecut. Mengapa aku mementingkan diri sendiri? Mengapa aku tidak memikirkan penduduk desaku yang sengsara? Apakah aku takut pada hukuman Dewa Pegunungan? Batinnya. Gadis Rambut Panjang kini berubah pikiran. Kini ia tak takut pada ancaman Dewa Pegunungan. Lalu ia berkata pada si Kakek,

"Kek, kecelakaan ini adalah akhir dari penderitaan penduduk desa. Di pegunungan ada sebuah mata air. Airnya segar dan manis. Aku melihatnya, bahkan pernah mencicipnya sendiri ...."

Sebentar saja, seluruh penduduk desa mengerumuninya. Gadis Rambut Panjang mengulang kata-katanya. Kemudian ia minta agar semua orang ikut dengannya ke pegunungan. "Bawalah linggis, pisau, pacul, pokoknya apa saja yang bisa dipakai melebarkan sumber air itu," ajak si Gadis.

Sampai di tempat sumber air rahasia, si gadis mencabut tanaman turnip. Ia meminta penduduk memotongnya menjadi kecil-kecil, agar tak bisa menutup lubang lagi. Penduduk melaksanakannya. Dari lubang mengalir air yang sejuk dan manis. Penduduk desa melebarkan lubang itu. Air yang keluar mulai mengucur deras, menyusuri pegunungan. Penduduk bersorak-sorai, menari-nari.

Bersamaan dengan pesta pora itu, angin berembus kencang. Membawa terbang Gadis Rambut Panjang. Tapi para penduduk desa tidak menyadarinya, karena sedang bergembira. Angin kencang menyedot si Gadis masuk ke gua.

Dewa Pegunungan bicara dengan suaranya yang menggelegar, "Sudah kuperingatkan agar kau tak membuka rahasia. Akan tetapi kau tak peduli. Kau akan kuikat di tepi tebing air terjun!"

Tanpa rasa takut, Gadis Rambut Panjang menjawab, "Aku tahu akan dihukum bila membuka rahasia

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Tanpa rasa takut, Gadis Rambut Panjang menjawab, "Aku tahu akan dihukum bila membuka rahasia. Tapi lebih baik begitu daripada aku melihat penduduk desa menderita!"

Sebelum dijatuhi hukuman, si Gadis meminta waktu untuk menengok ibunya yang sakit. Dewa Pegunungan tak keberatan. "Tapi kau harus kembali secepatnya, jangan sampai kesabaranku habis!" ancam Dewa Pegunungan.

Sehembus angin meniup si Gadis dari gua ke kaki pegunungan. Di sana, nampak air mengucur deras dari pegunungan, mengalir membasahi tanah ladang. Tanam-tanaman kembali segar.

Setibanya di rumah, Gadis Rambut Panjang pamit kepada ibunya. "Aku akan menginap di desa sebelah untuk merayakan pesta air," katanya. Ia tak tega mengatakan hal yang sebenarnya.

Gadis Rambut Panjang kembali meninggalkan rumah. Didakinya pegunungan. Ia tiba di bawah sebatang pohon banyan raksasa yang tumbuh di tepi jalan. Di situlah ia biasa beristirahat jika lelah bekerja. Melihat pohon itu, air matanya mengalir. Ia tahu, ia tak bisa beristirahat lagi di bawah keteduhannya.

Tiba-tiba, dari balik pohon muncul seorang kakek. Dengan lembut ia berkata, "Aku tahu kau berhati mulia. Aku akan menyelamatkanmu. Aku telah mengukir patung kayu yang mirip sosokmu. Ayolah, kau lihat sendiri."

Gadis Rambut Panjang pergi ke balik pohon itu dan melihat patung perempuan yang mirip dengannya, tapi tak berambut. Kakek itu menjelaskan, "Aku membuat patung ini untuk mengelabui Dewa Pegunungan. Akan kuletakkan telentang di puncak tebing. Tapi walau sosoknya sempurna, aku tak bisa membuat rambutnya. Jadi, kau akan kugunduli. Rambutmu akan kutempel ke kepala patung, agar Dewa Pegunungan tertipu."

Lelaki tua itu lalu menggunting rambutnya yang putih dan memindahkannya ke kepala patung. Tapi akibatnya si Gadis menjadi botak. "Pulanglah! Dewa Pegunungan tak akan mengganggumu lagi," katanya.

Setelah berkata begitu, kakek itu lenyap. Bersamaan dengan itu rambut di kepala si Gadis bertumbuh kembali. Warnanya hitam kelam, panjangnya sampai mata kaki. Kakek tua itu adalah jelmaan pohon yang selalu dijadikan tempat berteduh si Gadis.

Dalam perjalanan pulang, si Gadis melihat aliran air dari puncak tebing. Airnya mengalir turun, membentuk air terjun atau jeram. Di puncak tebing itulah terbaring "sosok" si Gadis. Air yang jatuh mirip tabir tipis berwarna putih. Itulah rambut si Gadis yang terurai.

Jeram itu masih ada sampai sekarang. Penduduk setempat menamainya Jeram Rambut Putih. (Cerita dari Cina/Kadir Wong)

Kumpulan Cerpen dan Dongeng Bobo 2002Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang